Downloads

Berikut ini beberapa tautan download, antara lain program-program buatan penulis dan beberapa peraturan / SNI yang sering penulis gunakan, juga beberapa tautan berguna lainnya. Buat yang pingin nampang di sini (maksudnya juga memiliki freeware buatan sendiri atau tautan lain yang ingin dibagikan) juga boleh, dengan menghubungi penulis terlebih dahulu.

E-Book :

Software :

Code / Peraturan / Pedoman :

Brosur / Lain-lain :

* = baru ditambahkan

140 responses to “Downloads

  1. Pingback: URL

  2. asslm. bpk..

    Pak maf mau tny, kalo analisis statik kan memiliki waktu getar alami yang bs di btasi dgn rumus Trayleigh.
    Tp kalo analisis dinamik gmana y pak kt bs tau btas2any? Di sni gempa ga dbhs ttg yg dinamik.
    bisakah bpk menjelasknnya??
    trims

    • Untuk analisis statik, waktu getar pertama kali dihitung dengan perkiraan misal rumus 0.0731*h^(3/4) untuk struktur beton. Perhatikan bahwa hasil waktu getar menjadi tergantung hanya pada tinggi total gedung. Misal dua gedung sama-sama punya 10 lantai tapi yang satu bentuknya jauh lebih pipih dari lainnya (h >> b), akan memiliki waktu getar perkiraan yang sama pula (tidak logis).

      Oleh karena itulah batasan T Rayleigh berfungsi sebagai pengontrol. Kalau dicermati dalam rumusnya mengandung nilai defleksi lateral, yang didapat dari hasil analisis yang tentu saja akan menghasilkan nilai berbeda untuk kedua gedung tadi (defleksi gedung pipih akan lebih besar). Dengan demikian pula, hasil waktu getar alami statik juga akhirnya akan berbeda setelah dicek terhadap T Rayleigh. Artinya, pengaruh kekakuan (dan massa) struktur sudah ikut diperhitungkan dalam T Rayleigh (yang belum diperhitungkan dalam rumus berdasar tinggi total gedung).

      Sedangkan pada analisis dinamik, waktu getar yang dihasilkan sudah dipengaruhi kekakuan dan massa struktur karena dianalisis langsung berdasar pada model strukturnya, sehingga waktu getar juga sudah mencerminkan perilaku yang mendekati sebenarnya. Perlu diingat pula waktu getar alami (statik dan dinamik) juga dibatasi maksimumnya berdasar wilayah gempa dan tinggi tingkat (SNI).

      • maf pak, melanjutkan prtnyaan sy seputar waktu getar dinamik..
        di atas kalimat trakhir bpk blg bhwa waktu getar dinamik juga dibatasi maksimumnya,
        apa yg mnjd batasan waktu getar dinamiknya pak?? adakah rumus trtntu atau sama dgn ketentuan statik??

  3. triims utk pnjlsnnya pak,,
    tp sy msh ada yg dtnya pak, waktu getar alami dinamik di SNI gempa pasal 7.1.3 dapat di cek dgn rumus V >0,8 V1. Nah sy sudah cek pak, tp tidak ok, lalu sy cek lg sesuai syarat sni gempa 7.2.3 ttg faktor skala.
    Setelah didapat nilai-nilai skala untuk masing-masing arah pembebanan, maka dilakukan analisa struktur ulang dengan mengalikan faktor diatas pada scale factor untuk Define Respons Spectra. Kemudian dilakukan running program ulang. lalu nilai outputnya base reaction utk nilai Vxd dan Vyd. sy cek lg dgn rumus V>0,8 v1. Tp ttp saja ga ok pak.
    apkh memang gedung yg sy tinjau tdk bs dgn dinamik hnya pakai statik ekivalen saja pak??
    krn memang gedung nya hanya 6 lantai dgn memakai didnidng geser..
    mohon pnjlsnnya pak..
    trims

    • Faktor skala (0,8.V1)/V diberikan pada analysis case saja, sedangkan function RS tetap. Faktor pengali yang dimaksud dikalikan dengan pada faktor yang sudah ada. Jika pada iterasi pertama belum memenuhi maka diberikan lagi faktor pengalinya berdasar nilai V yang terakhir tadi dan di-run ulang sampai memenuhi syarat. Misal V1=1000 kN, V=400 kN < 0,8.V1=800 kN maka diberi faktor 800/400=2. Faktor skala awal misal = I/R.g = 1/4.10 = 2,5. Faktor baru pada analysis case menjadi = 2.2,5 = 5. Jika setelah di-run ulang hasilnya ternyata nilai V=600 kN masih kurang dari 0,8.V1 maka perlu dikali ulang dengan faktor 800/600=1,3 sehingga nilai faktor di analysis case baru menjadi 1,3.5 = …, dst. sampai diperoleh nilai V >= 800 kN .

  4. kalo persyaratan yg diatas ga ok, blh ga sy tetap mengecek nilai simpanganya pak?? TA sy ada perhitungan buat mencari nilai simpangan pak. krn beban geser dinamiknya ga ok, sy bingung apakah ttp dihitung simpangnnya dgn dinamik jg atau ckp statik saja pak??

  5. bpk, maf mau tnya skali lg..
    blh ga sich pak kalo sy meninjau struktur gedung beraturan 6 lantai memakai dinding geser dengan analisi dinamik dan statik?? memang diperaturan jelas dikatakn hrs pakai statik, tp brhubung sy mencri simpangan, jd sy pkr sah2 saja. toh hasil simpngn batas layan dan ultimit aman pak. sy prnh nnya dosen jg ktnya blh2 ja. tp apakah memang di lapangannya secara real, blh bgtu pak??
    sy tkt jg nanti pas sidang justru malah di pertnyakan ama dosen pak…

    trimakasih..

    • Analisis dinamik dapat diterapkan untuk semua jenis struktur/bangunan (dengan beberapa cek misal syarat 80% gaya geser > statik, dst.), sedangkan analisis statik ekuivalen terbatas pada gedung beraturan saja (lihat syarat ketentuan SNI gempa 2002).

  6. trimakasih pak atas smua saran dan masukan bpk…
    sy sdh sampai pd pembahasan simpangan pak..
    saat ini sy membandingkan prosentase penurunan simpangan tingkat (di) dan juga simpangan antar tingkat (δ). tp ktka penurunan pada lantai atas (lantai 6), nilai simpngn sebelum memakai dinding geser lebih kecil drpd setelah memakai dinding geser pak..ini terjadi pd analisis statiknya dan jg dinamik pak.
    tp untk lntai dibwhnya tdk bgtu pak..
    jdnya prosentase penurunan dilantai 6 minus pak.
    setelah dirata2kan smua penurunan lntai 1-6, didapat hnya 26 %..
    yg sy tnyakan, mngapa bs trjd bgtu ya pak?? simpngn sblm dinding geser malah lbh kcl drpd sesudah??

    mohon pencerahnnya pak..

    • Coba cek apakah aplikasi model dinding geser memenuhi beberapa syarat misal: pemodelan elemen harus menerus dari atas sampai fondasi; dan tumpuan dinding geser berupa jepit di sepanjang tumpuan dinding (tidak hanya di kolom/ujung).

  7. sudah pak, justru yg bangunan tanpa dinding gesernya yg bermasalah saya kira pak. soalnya jauh bgt selisih simpgn lantai 6 dgn5 pak..
    simpangan antar tingkat untuk arah x
    δ) tanpa shear wall (δ ) dengan penurunan
    0,985 1,263 -28,17%
    1,780 1,787 -0,42%
    2,511 1,872 25,43%
    3,079 1,802 41,47%
    3,317 1,534 53,76%
    2,248 0,956 57,49%
    prosentase rata2 24,93%
    untuk arah y jg pd analisis dinamiknya lantai 6 negatif pak simpgn antar tingkatnya.

    apakah data penurunan simpangan sy walupun minus dilantai 6 dan 5 bs di katakan memenuhi syarat fungsi dinding geser untuk menurunkan simpgn ga pak?? sbnrya untk smpgn tingkat perlantai/horisontal, dia ga minus pak. tp yg diatas adlh nilai smpgn antar tingkatnya.. jd sy mncri smpgn tingkat dan antar tingkat.. perlukah sbnrya diketahui antar tingkatnya pak kalau sdh didapat yang simpgn tingkatnya?? ( sy mengacu pd SNI gempa yg batas layan dan ultimit bahas ttg simpangan tingkat dan simpgn antar tingkat)..
    maf skali sy sudah bnyk merepotkan bpk..
    skali lg sy ucpkan trimaksih…
    mohon pencerahaanya ya pak…

    • maf pak, yg diatas, 0,985 kebwh adalh smpgn tanpa dinding geser sdgkn 1,263 dst kbwah adalah struktur dengan dinding geser.

    • Dalam pasal 8.1 dan 8.2 yang ditentukan adalah batas simpangan antar-tingkat, masing-masing untuk batas layan dan ultimit, dan bukan dalam prosentase tapi batasan nilai, jadi masuk atau tidak dalam syarat tersebut dicek apakah memenuhi batasan nilai atau tidak.

  8. Pingback: Program Grafik Gempa SNI | The Web Logs of Purbo

  9. pagi pak purbo.
    saya mau tanya ni, bagaimana perhitungan pembebanan jika kita menggunakan plat bondex dan hollow slab??

    terima kasih

    • Kalau masalah pelimpahan beban pelatnya bisa dihitung berdasarkan luas tampang efektif pelatnya tanpa lubang (untuk hollow) atau ekuivalennya (bondek), sedangkan kalau pemodelannya alternatif bisa memakai area section dengan shell-layered pada pilihan type.

  10. Pingback: Program Grafik Gempa SNI « Tutorial Teknik Sipil

  11. pagi, pak purbo
    jika ddg beton/sw menahan beban urugan / timbunan tanah, parameter apa saja yg hrs di masukan dalam perhitungan sap2000, menu apa saja yg hrs di input?
    mohon pencerahannya.
    terimakasih

    • Dinding yang menahan tekanan tanah atau air dapat dimodelkan dengan elemen shell yang dibebani pada arah lateral, bisa dengan uniform load berupa beban tekanan luasan (berat jenis tanah/air dikalikan ketinggian/kedalaman).

  12. Pingback: E-book #2 | The Web Logs of Purbo

  13. Terima kasih pak Purbo, sekaligus salam kenal, saya telah mencoba unduh software pembebanan, hasilnya sangat memuaskan, sekali lagi terima kasih

  14. Pak Purbo, mau tanya, cara cek dual system pada SAP bagaimana ya Pak? kan struktur frame harus dapat menahan setidaknya 25% gaya lateral. nah yg bingungnya, cek nilai story shearnya di SAP bagaimana ya Pak?. mohon pencerahan…….🙂

    • Caranya dengan melihat base shear dari masing-masing sistem (frame dan shear wall) lewat section cut, yang dibahas dalam buku Seri 2. Bedanya pada group, dibuat kelompok terpisah untuk seluruh kolom lantai dasar dan dinding geser lantai dasar, lalu dibandingkan nilai base shear-nya terhadap nilai total.

  15. pak purbo, software pppurg 1987 v. 3.0 saya download, n saya install tapi kok nggak bisa dibuka ya ?

    malah error, pesannya kayak gini:

    Run-time error ‘339’
    component ‘tabctl32.ocx’ or one of its dependencies not correctly registered: a file is missing or invalid

    mohon informasinya pak, cara ngatasin masalah diatas.

    sebelumnya terima kasih

  16. mas purbo,, sys mau tanya menyediakan buku tentang geoteknik tdk?
    khususnya yang bahas mengenai pondasi untuk bangunan tinggi

  17. dear pak purbo,
    saya salah satu pemilik karya yang bapak terbitkan pak. (y)
    saya mau tanya tentang tentang analisa pada baja. pada struktur menara radio, dimana terdapat penompang tahanan seling, untuk analisa tetap menggunakan linear statik atau nonlinear pak. mohon pencerahan pak.

    • Maksudnya ‘seling’ itu sling ya, batang yang hanya menahan tarik. Analisis batang tarik murni bisa secara otomatis atau manual. Otomatis dengan input tension/compression limit tapi mungkin memerlukan analisis non-linier. Cara manual ditinjau untuk masing-masing kombinasi cukup dengan analisis linier, di mana jika pada suatu kombinasi batang tersebut ternyata mengalami tekan, maka batang dihapus dan dianalisis ulang strukturnya. Jika ternyata masih ada sling yang mengalami tekan maka diulangi lagi langkah serupa sampai tidak ada sling yang mengalami tekan (semuanya mendapat gaya tarik).

      • terimakasih pak purbo
        berarti untuk kombinasi tetap menggunakan kombinasi statik linear pak?
        karena sangat sedikit sekali literatur yang mengenai struktur menggunakan sling.

  18. dear pak purbo,
    mengenai design gempa statik dan dinamis, untuk struktur tak beraturan apakah masih harus dicek dengan statik? apakah cukup dengan dinamis saja? contoh bangunan seperti galeri (truss). seperti pertanyaan dianita diatas, apabila skala faktor diatas diperbesar, maka struktur tersebut bisa menjadi boros. trimaksih

    • Sesuai syarat SNI, maka analisis dinamik juga perlu dicek terhadap batasan base shear minimum > 80% dari statik (code terbaru malah 85%). Mengutip kalimat dari penjelasan SNI (Pasal 7.1.3) : “Pada struktur-struktur gedung tertentu kadang-kadang terjadi, bahwa respons total terhadap gempa adalah lebih kecil dari respons ragamnya yang pertama. Hal ini disebabkan oleh respons ragam yang lebih tinggi yang mengurangi respons ragam yang pertama tadi.” Batasan tersebut tujuannya adalah untuk menjamin agar kapasitas struktur terpasang tidak akan kurang dari respon ragam pertamanya (mode pertama/fundamental mode) yang didapatkan dari hasil statik. Ukurannya bukan sekadar boros atau tidak, karena kalau mau tidak boros ya tidak perlu didesain dengan gaya gempa malah jauh lebih irit kan. Hal ini terutama nyata untuk gedung/bangunan yang kompleks misal gedung tinggi, namun perlu disesuaikan untuk misal desain bangunan yang relatif sederhana seperti rumah/ruko 2 lantai memang mungkin akan perlu perlakuan tersendiri terutama dari pembebanannya.

      • dear pak purbo,
        jika hasil output stress ratio di WarnMsg ada keterangan kl/r > 200 (LRFD B7, LRFD SAM 4, HSS 2.3). tapi nilainya aman, apakah harus diganti pak.
        terima kasih

      • Menurut saya profil kalau mau dipakai masih bisa, hanya perlu pertimbangan tambahan pengaku lateral agar panjang tekuk (yang merupakan isi pesan warning) bisa dikurangi. Untuk kasus balok bisa ditambah sisipan pelat pengaku pada jarak tertentu, sedangkan kolom bisa diberi balok anak misal pertengahan tinggi kolom.

  19. Pingback: SNI Gempa 1726-2012 | The Web Logs of Purbo

  20. dear pak purbo,
    cara mengabungkan jenis matrial yang berbeda di SAP2000 bagaimana ya? saya ada kolom baja, mau saya isi beton. saya coba menggabungkan dengan section other design gagal terus. terimakasih

    • Maksudnya itu mau bikin kolom komposit ya, bisa coba dengan section designer, tapi itu pun setahu saya memang tidak bisa sampai ke tahap desain.

  21. buat pak purbo, pak saya mau tanya, untuk menentukan aman atau tidaknya sebuah rangka batang setelah di run bagaimana pak?? saya diberikan arahan dari beberapa kolega sy bahwa dengan melihat graph energy warna pd hasil run, ada beberapa golongan graph warna pak, bagai mana memilih yang aman, efisien, ataupun melihat rangka batang yang tidak aman, trm kasih sebelumya pak ^^

    • Pada rangka batang baja hasil desain ditampilkan lewat display design info pada menu design, dan akan tampil grafik batang berwarna-warni yang menandakan rasio tegangan antara yang terjadi dengan ijinnya. Pada batang yang nilainya melebihi tegangan ijin (rasio melebihi 1,0) biasanya warna merah. Warna-warni batang mewakili nilai rasio tegangan sesuai dengan yang ada di bawah layar.

      • trm ksh atas masukanya pak, apabila sy ingin ikut berlatih di zamilconsulting dengan dengan berbagai macam kasus program sap apakah bs pak?? satu minggu hingga 3 minggu pak, mohon informasinya, tks

      • Sebaiknya sih kalau belajar itu satu-dua contoh dahulu agar lebih mantap. Info pelatihan silakan bisa ke website-nya langsung.

  22. Pingback: E-book #3 | Admiral's Log

  23. Pak Purbo,mau tanya tentang Wind Load nih. Untuk menentukan beban angin ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup dengan koefisien2 angin. Nah,yang bikin Saya bingung,di SNI koefisien2 anginnya ada yang plus(+) dan yang (-), maksudnya plus dan minus ini apa ya Pak? Terima Kasih.

    • Tanda tersebut lebih menyatakan arah pembebanannya, yaitu positif (plus) untuk beban angin tekan (menuju bidang tekanan) dan negatif (minus) untuk beban angin hisap (menjauhi bidang tekanan angin).

      • Ooo begitu ya Pak. Berarti, beban angin ditentukan dari jumlah pengalian masing2 koefisien ya Pak? Misalnya, untuk koefisien angin bidang atap pelana biasa tanpa dinding, di SNI tersebut untuk kemiringan atap ∂ = 30º, koefisien utk bidang atap pihak angin +0,8 dan koefisien utk bidang atap lain -0,4. Dan tekanan tiupnya 25kg/m. Jadi, beban anginnya hasil dari pengalian 25(+0,8) + 25(-0,4) ? Terima Kasih.

      • Hati-hati tekanan tiup itu berupa pressure, satuannya beban per luasan (kg/m^2), jadi perlu dikalikan lagi dengan luasan area yang kena beban angin. Misal luas bidang pihak angin A m^2 dan bidang lain B m^2 maka beban angin menjadi sebesar 25×0,8xA (pihak angin, menuju bidang) dan 25×0,4xB (bidang lain, menjauhi bidang), satuan dalam kg. Beban angin total (kg) ini bisa selanjutnya misal disebar sebagai beban titik dengan dibagi jumlah nodal pada bidang bersangkutan, bisa juga kalau mau dibebankan sebagai beban luasan tinggal dibagi kembali dengan luasan area terkait.

  24. dear pak purbo,
    mengenai desain pada platformd baja, jika saya tambahkan bracing menyilang pada platform/frame yang ada, jika menggunakan beban shell (UTF) bracingnya menerima beban. sedangkan funsi bracing tersebut hanya sebagai pengaku. untuk mengataasinya bagaimana pak purbo. terimakasih,

  25. Assalamualaykum pak
    saya hasan, yg bulan lalu ikut privat pak purbo.
    saya mau tanya untuk standart SNI 1726-2012 itu jika di SAP2000 sama kah dengan UBC 97?
    kemarin saya tanya Prof.Tavio presiden ACI indonesia katanya SNI 1726-2002 juga tidak sama dengan UBC 97, lalu jika memakai SAP2000 maka standar yang dipakai yang mana pak?

    • Wa’alaikumsalam, kalau dilihat pada acuan normatif (pasal 2), SNI 2002 salah satunya mengacu ke UBC 97 sedangkan SNI 2012 mengacu IBC 2009, jadi memang tidak sama persis antar aturan SNI dan luar negeri, karena SNI tidak mengadopsi secara penuh seluruh ketentuan-ketentuannya, paling jauh mungkin hanya sebatas mendekati saja. Jadi kalau Anda mau memakai misalnya input beban gempa statik ekuivalen dengan auto-lateral load yang bisa dilakukan ya mengambil peraturan yang mendekati alias acuannya (misal dikehendaki SNI 2002 ambil UBC 97, dst.), atau memakai input secara umum (manual). Kalau masih ragu bisa dicoba membuat model sederhana saja lalu dibandingkan input secara otomatis dan manual.

    • Kalau menurut SNI 1726-2002 pembatasan ada pada golongan keberaturan struktur gedung terkait penempatan sistem struktur dan denah/elevasi (lihat Pasal 4.2.1-4.2.2).

  26. perkenalkan nama saya Azmi, mahasiswa teknik sipil
    sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih banyak pak purbo, postingan & 2 bukunya sangat bermanfaat untuk proses penyelesaian skripsi saya

    yang mau saya tanyakan, bapak punya referensi/ebook tentang Pushover Analisys dengan program SAP2000 nggak pak? mungkin bapak bisa bantu
    atau mungkin bapak bisa memposting soal Pushover Analisys di blog ini, terutama tentang properties dan detail2 yang harus diperhatikan/diubah-ubah

    terima kasih atas ilmu & perhatiannya pak🙂

    • Untuk masalah referensi tsb setahu saya memang belum banyak karena topiknya memang cukup mendalam/spesifik, membutuhkan analisis properties misal sambungan joint dan material non-linier, dll. Sementara bisa dicari di literatur perpustakaan beberapa universitas yang ada, dan beberapa sumber online saya kira bisa dijadikan acuan juga selama asalnya jelas dan kredibel misal dari univ atau ahli populer. Saran secara umum sebelum diterapkan pada model secara penuh adalah dicoba terlebih pada model skala kecil (sederhana) terlebih dahulu, sehingga karakteristik dari analisis yang dilakukan dapat dipahami dan ketika ada permasalahan maka untuk merunut penyebabnya masih lebih mudah. Setelah cara dan konsepnya dipahami barulah diterapkan pada model yang lebih besar.

  27. Pingback: Downloads – alisyaputra's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s