Tentang Massa (Episode 2, Bagian 2)

Kelanjutan dari Bagian 1, pada tulisan ini menyajikan modifikasi pada salah satu model struktur yang telah dibuat sebelumnya yaitu model D.

Untuk model D ini dimodifikasi lagi modelnya agar lebih mendekati struktur yang sebenarnya di dunia nyata. Maksudnya, tanpa harus banyak melakukan penyederhanaan, cukup membuat model lalu memasukkan beban dan di-run, tanpa harus menghitung dulu massa, dll. Harap maklum, contoh soal di atas adalah dalam rangka memberikan pengetahuan dasar, jadi ya mesti harus memakai yang sederhana sehingga ada beberapa parameter yang harus ditambahkan lagi.

Lanjutkan membaca Tentang Massa (Episode 2, Bagian 2)

Tentang Massa (Episode 2, Bagian 1)

Sekadar lanjutan dari tulisan terdahulu, sebenarnya dulu tidak ada rencana untuk nantinya membuat sekuel dari judul tersebut, cuma terinspirasi dari film-film layar lebar yang jadi ‘beranak-pinak’. Oke, sebenarnya nggak juga sih, lebih kepada ingin menyajikan contoh model yang lebih mudah dicerna (baca: sederhana) dibandingkan contoh portal 3D pada bagian pertama. Selain itu juga karena sudah lama tidak membuat tulisan yang berat mikirnya, hehehe… Maksud lain dari tulisan lanjutan ini sebenarnya adalah untuk menyajikan perbandingan terhadap contoh literatur, sehingga hasil bisa lebih valid, di samping pembaca juga dapat mencoba sendiri alternatif pemodelan yang disampaikan. Karena jadinya cukup panjang, tulisan ini akan di-split lagi menjadi 2 bagian, dengan bagian pertama ini lebih kepada penggunaan joint mass, dan bagian berikutnya akan berkutat pada pemakaian model struktur dan beban sebagai assignment sumber massa.

Lanjutkan membaca Tentang Massa (Episode 2, Bagian 1)

Jadoel

Bongkar-bongkar arsip eh ketemu dokumen yang sudah berumur puluhan tahun (10+ tahun tepatnya, belum ada 20 tahun kok…).

Cerita sebenarnya sih karena kepikiran menulis dengan bahan tersebut, lalu coba bongkar-bongkar isi rak mudah-mudahan masih ada (dan ketemu), tapi kan lebih keren kalau ceritanya menemukan sesuatu secara random. 🙂

Dokumen tersebut isinya hasil kerja kelompok waktu kuliah semester akhir, tugasnya adalah merancang struktur bangunan gedung mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, alias dari atap sampai ke fondasi. Dikerjakan keroyokan, bagi-bagi tugas. Yang ngerjain atap sekarang sudah jadi staf di PU, yang bagian fondasi sudah jadi bos, terus yang kebagian ngitung portal malah sibuk nge-blog nulis tulisan ini… hehehe.

Yang berhubungan dengan judul tulisan ini, selain code alias peraturan yang dipakai masih edisi lawas (SNI beton 1991, pembebanan 1987, dst.), adalah perhitungan analisis struktur. Laporannya sih memang ditulis pakai tangan, termasuk penggambaran (karena belum pada jago CAD…), tapi yang jelas analisis strukturnya tidak pakai tangan. Program yang dipakai untuk analisis adalah SAP90. Itu sesepuhnya SAP2000, masih pakai DOS. Itu lho, yang pakai ketik-ketik command line, belum secanggih sekarang yang tinggal klik sana klik sini simsalabim langsung jadi. Sebenarnya sih SAP2000, yang sudah berbasis grafis/Windows, juga sudah ada saat itu, tapi kalau tidak salah masih versi awal (untuk versi grafisnya). Seperti yang disebutkan sebelumnya, karena masih berbasis DOS, maka pembuatan model, analisis, sampai dengan penampilan output juga banyak memakai perintah ketik di keyboard.

Lanjutkan membaca Jadoel

FAQ

Sekadar tulisan kecil, khusus buat hal-hal yang sering ditanyakan (yang beberapa di antaranya kadang sudah jelas jawabannya) dan hal umum lainnya yang perlu penjelasan.

Catatan : tulisan ini sifatnya sticky alias akan selalu tampil paling atas, tulisan-tulisan terbaru akan ditampilkan di bawah/setelah tulisan ini.

Lanjutkan membaca FAQ

Tipe Beban

Wah, sudah lama nggak nge-blog, terakhir menulis adalah akhir 2014, alias sudah sekitar 2 tahun-an ‘puasa’… Banyak hal yang bisa dipakai untuk beralasan, namun daripada membahas alasan mendingan membahas om telolet om, eh salah, maksudnya membahas SAP2000 saja deh.

Topiknya ringan saja, sekadar membahas tipe beban (karena kalau membahas yang terlalu berat khawatir nggak jadi nge-blog lagi…). Tipe beban yang dimaksud ini adalah jenis beban yang didefinisikan saat input load pattern.

Load Pattern

Jadi, ketika memilih definisi beban, ada banyak pilihannya. Dead, live, quake, dll. dst. dsb. Kalau diklik “More…” bakal jauh lebih rame lagi: ada super dead (temannya Superman?), snow, wave, hor earth pr (apaan lagi tuh… middle earth pr ada nggak ya), dll. dst. dsb.

Load types

Jadi, ketika mendefinisikan jenis-jenis beban, tinggal dipilih sesuai jenisnya masing-masing saja sudah beres kan… Betul sih, tapi memang kadang ada yang masih menanyakan, misal kalau beban mati tambahan tidak di-set sebagai ‘super dead‘ tapi hanya ‘dead‘, atau tekanan tanah hanya sebagai ‘other‘ dan bukan ‘hor earth pr‘, apakah bisa mengakibatkan programnya jadi ngambek alias nggak mau jalan? Dengan kata lain, apa sih pengaruhnya? Bisakah dicuekin saja?

Jawabannya: bisa ya, bisa juga tidak. Kuncinya ada di tahap desain struktur. Sebelum memulai proses desain otomatis oleh program (dan setelah tahap analisis dilalui dengan sukses), maka salah satu langkah adalah menentukan kombinasi mana saja yang akan dipakai dalam desain.

Design combo

Perhatikan di bagian bawah gambar di atas. Kalau pilihan ‘automatically generate blablabla… (ganti ‘blablabla‘ sesuai yang ada, capek nulisnya…) diaktifkan alias di-centang, maka pilihan tipe beban akan berpengaruh. Kenapa? Karena berarti program akan melakukan desain otomatis berdasarkan code alias peraturan yang dipilih. Nah, masing-masing peraturan akan memiliki ketentuan tersendiri untuk desain, salah satunya adalah faktor beban.

Ambil contoh ACI-2005, faktor kombinasi beban mati (D) dan hidup (L) adalah 1,2 D dan 1,6 L. Jika optionblablabla‘ tadi aktif, maka program akan secara otomatis menggabungkan semua yang bertipe ‘Dead‘ lalu dikalikan 1,2 digabung dengan semua tipe ‘Live‘ dikalikan 1,6. Sekilas tidak ada masalah, karena masalah bisa timbul kalau ada tipe beban yang lupa belum disesuaikan. Misal ada beban hidup tambahan L2 yang kelupaan masih diset sebagai ‘Dead‘, maka tipe beban L2 tersebut akan dikombinasikan sebagai 1,2D + 1,2L2 + 1,6L padahal pinginnya sih 1,2D + 1,6L + 1,6L2 …

Terus, kalau desain otomatis dilakukan oleh program, tapi pilihan ‘blablabla‘-nya tadi tidak diaktifkan (kombinasi ditentukan sendiri oleh pemakai, tidak memakai code bawaan program)? Jawabannya cukup jelas, pemilihan tipe beban tidak akan berpengaruh. Jawaban yang sama (tidak berpengaruh) juga berlaku jika program hanya dipakai untuk analisis saja tidak sampai desain otomatis (analisis hanya untuk mendapatkan gaya-gaya dalam, desain dilakukan secara manual atau dengan program lain).

Intinya, kalau memakai desain otomatis dengan program, dan kombinasi untuk desain juga dipakai berdasar code bawaan program, maka jangan lupa disesuaikan tipe bebannya ya…