Buku Baru !

Alhamdulillah, setelah menulis beberapa judul dengan metode keroyokan, akhirnya bisa juga membuat produk atas nama sendiri… 🙂

Cover Buku

Buku ini merupakan bagian dari judul keseluruhan tentang desain struktur bangunan, yang pada bagian pertama ini berfokus pada desain struktur rangka atap baja profil hot-rolled (bukan cold-formed/baja ringan lho). Desain dimulai dari perencanaan profil gording, dilanjutkan pada analisis dan desain batang rangka, termasuk sampai pada sambungan (baut dan las) dan tumpuan. Pembebanan didasarkan terutama pada SNI 1727:2013 (terutama untuk beban angin yang hitungannya tambah ruwet wkwkwk…), desain baja dengan SNI 1729:2015, dan angkur berdasarkan SNI 2847:2013.

Gambar Penjelas
Perhitungan Beban Angin SNI 1727:2013
Perhitungan Sambungan Baut
Perhitungan Sambungan Las
Contoh Gambar Kerja

Mau lihat daftar isinya? Klik saja [di sini].

Sebagai materi pelengkap, ada juga model 3D yang dapat dilihat, diputar, dan di-zoom secara online pada [laman ini].

Harganya? 55 ribu rupiah saja (belum termasuk ongkir).

Cara pesan? Klik [DI SINI] !

Selamat membaca! 😀

N.B.:

  • Buku ini menitikberatkan pada proses perhitungan pembebanan dan desain elemen struktur secara manual berdasarkan rumus-rumus dalam SNI, dan tidak menyajikan perhitungan dengan software
  • Untuk yang masih menunggu kelanjutan serial Belajar SAP2000 di seri ketiga seperti yang nampak dalam foto pertama di berita sebelumnya, perlu diketahui bahwa naskah sudah selesai namun masih dalam proses pengurusan administrasi, dan karena proses yang terakhir ini tidak ikut ditangani penulis maka mohon maaf penulis juga tidak dapat memberikan keterangan yang lebih pasti. Diharapkan bisa segera selesai kemudian, mohon doanya. terima kasih. 🙂

ERRATA (KOREKSI, PDF 2MB)

36 tanggapan untuk “Buku Baru !”

  1. Kita tunggu lanjutan Sap 2000 seri ketiga pak Purbo. Harapan sy pribadi, ada rencana kedepan untuk Pembahasan step by step Desain Jembatan Rangka Baja di Sap 2000 plus di evaluasi pakaai Analisis Pushover atau pakai data scalling response Spektrum dan Bangunan Rangka Baja.

    1. Buku ini menyajikan perhitungan secara manual (terutama pembebanan dan desain elemen) dengan acuan rumus-rumus dari SNI. Analisis dilakukan dengan bantuan program namun tidak diuraikan di sini caranya, hanya langsung hasilnya saja sebagai pembanding dengan perhitungan manual.

      1. untuk analisis struktur di SAP200 bolehkan dimodelkan secara 3D pak ?,
        1. model 3D pertama :
        dengam me modelkan elemen rangka kuda-kuda, gording, bracing horizontal/ikatan anginnya dan sagrod.
        2. model 3D kedua
        memodelkan elemen rangka kuda-kuda, gording dan bracing untuk sagrod dihitung manual.
        3. Model 2D ketiga.
        hanya dimodelkan rangka kuda-kuda saja lalu beban gording akan diberi tiap-tiap joint pada rangka kuda-kuda. tepat dimana gording itu menumpu pada rangka kuda-kuda.

      2. Untuk model struktur kuda-kuda, terutama bentuk limasan, umumnya dimodelkan secara terpisah antara elemen pendukung utama (profil rangka kuda-kuda) dan elemen sekunder (sagrod dkk.), karena pemodelan elemen sekunder juga perlu berhati-hati agar tidak terlalu mempengaruhi perilaku struktur utamanya. Hal ini adalah konsep umum dalam analisis struktur, yang mana elemen sekunder tsb. tidak dimodelkan sama sekali atau dianggap sebagai elemen yang lebih sederhana, dan analisis secara dua dimensi.

        Kalau model kuda-kudanya berbentuk limasan, maka ada kemungkinan ada kuda-kuda anak yang merangkai pada kuda-kuda utama tertutama pada bagian jurai yang miring. Untuk kasus ini kuda-kuda anak masih berperan sebagai elemen utama sehingga dapat saja dimodelkan langsung 3 dimensi. Ada juga kasus jurainya tidak dengan kuda-kuda anak namun dengan langsung profil jurai (misal double lipped channel seperti pada profil bubungan/nok), pada kasus ini diterapkan pemisahan dengan analisis pada struktur kuda-kuda utama saja. Kadang juga diperlukan analisis bertahap, misal analisis setengah kuda-kuda bentang memanjang, lalu reaksinya dilimpahkan pada kuda-kuda bentang utama arah melintang (semua secara 2 dimensi).

        Jadi secara umum model yang dipakai adalah model ketiga, yaitu analisis hanya pada elemen pendukung utama saja dan elemen sekunder sebagai beban (atau elemen dengan properties tertentu). Kalau mau dipakai model pertama dan kedua, perlu berhati-hati dalam penerapan elemen sekundernya.

      3. Maaf pak mau nanya apa buku baru ini hanya menghitung rangka kuda2 siku ganda? Apa ada jg perhitungan utk profil baja Wf?

      4. Dalam buku Bagian 1 ini hanya membahas sistem rangka batang (truss) kuda-kuda profil siku ganda, yang mana analisis dan perhitungannya dapat dipisah dengan struktur portal di bawahnya sehingga pembahasan dapat dibuat ringkas. Sistem gable frame dengan profil IWF kemungkinan baru akan dibahas pada seri yang lain (yang mana analisisnya harus menjadi satu dengan portal di bawahnya sehingga pembahasan bisa mejadi jauh lebih panjang).

  2. Pak untuk bukunya dikirim dari mana ya?Dan menggunakan apa? Apakah bs menggunakan ekspedisi pengirim wahana agar lebih trjangkau? Karena saya lihat di wordpress buku ini, harga bukunya adalah 50rb tetapi setelah saya pesan, diemail dijawab total keseluruhan termasuk ongkir adalah 72ribu. Yg brrti ongkir sebesar 22rb

    1. Buku dikirimkan dari daerah Yogyakarta, ongkos kirim tergantung dari daerah tujuan dan dari beratnya. Kalau daerahnya jauh, bisa saja ongkosnya menjadi mahal. Misal memungkinkan bisa juga Anda mencari teman yang juga ingin membeli sehingga biaya ongkos kirim bisa dibagi. Dari yang saya tahu, umumnya harganya kok tidak beda jauh, walaupun memang pasti ada selisih utk tiap tipe ekspedisi.

  3. Saya sudah pesan buku ini. Buku ini membahas masalah desain struktur atap baja. Saya berharap buku bagian 2 segera terbit yg membahas desain strukur frame baja (balok dan kolom) sekaligus peraturan gempa SNI-1726. Terimakasih

      1. Kapan bagian keduanya terbit mas ? Saya tunggu. Kalau bisa struktur baja balok kolom bangunan gedung dg SNI 1726-2012. Semoga

      2. Untuk bagian berikutnya adalah untuk perencanaan portal beton bertulang, kalau memang masih memungkinkan akan ditambahkan materi baja, namun kalau menjadi terlalu tebal mungkin akhirnya akan dipisah, agar memudahkan konsentrasi untuk penyusunannya dan juga agar pembacanya lebih mudah mempelajari cakupan materinya. 🙂

  4. Alhamdulillah masih dapet buku nya. Saya mau belajar lagi dari para Suhu biar gak gampang lupa. Hehehe.
    Sukses terus Pak Purbo ditunggu buku nya yang baru (request Ms. Project). Hehe
    Salam dari Navis alumni Undip07

  5. Untuk saran pak, jika ada edisi keduanya mohon ditambahkan kuda-kuda baja ringan pak, karena sekarang kebanyakan bangunan memakai kuda-kuda baja ringan. terima kasih

  6. Salam Sejahtera Pak Purbo
    Buku nya sdah baca namun ada yg sya kurang paham dan ingin ditanyakan

    Dalam Bab 3.5 sub bab a. dijelaskan utk perkiraan awal penampang profil diperlukan nilai total pembebanan dari nilai – nilai di Tabel 3.11 yg hasil nya 84,65 kN

    Sya coba jumlahkan sendiri nilai – nilai beban di tiap titik nodal dari Tabel 3.11 yg meliputi DL, LL, dan RL tapi hasilnya 49,2 kN

    Lalu saya coba jumlahkan lagi DL, LL, RL, dan Pg, Pa, Pb saya ikut sertakan dalam penjumlahan dan hasilnya beda tipis ya itu 84,67 kN (mngkin krn ada pembulatan dri excel)

    Berhubung DL itu sendiri sdah termasuk hasil total dari Pg, Pa, dan Pb, apa benar yg semesti nya digunakan itu 49,2 kN bkan 84,65 kN

    Trims
    Mohon penjelasan nya pak

    1. Terima kasih sudah membeli dan membaca bukunya. Tampaknya memang ada kesalahan dalam penjumlahan, seharusnya hanya dari beban DL+LL+RL saja, sehingga yang benar dipakai adalah nilai 49,23 kN. Nilai gaya total dan termasuk profil awal akan jadi lebih kecil, namun tidak terlalu masalah, karena pada tahap tsb baru hanya untuk perkiraan profil saja yang nantinya akan dicek ulang terhadap gaya aktual. Terima kasih atas masukannya.

  7. Salam Pak Purbo, ada yang saya ingin tanyakan ke bapak pada bab 3.4 sub a pada hal 54 pada kategori ketinggian Gedung.. Menurut Pasal 26.2 SNI 1727:2013, ada 2 syarat bangunan dapat dikatakan bertingkat rendah yaitu :
    – Tinggi atap rerata tidak melebihi 18 m,
    – Tinggi atap rerata tidak melebihi dimensi horizontal terkecil..
    yang sya tanyakan jikalau ada salah satu dari 2 syarat tersebut yang tidak terpenuhi, apakah masih dapat dinyatakan bangunan bertingkat rendah??

    1. Dalam ketentuan tersebut (termasuk dalam acuannya ASCE 7-10) memang sepertinya tidak merinci kata hubung untuk kedua syarat tersebut apakah ‘atau’ (cukup satu terpenuhi sudah oke) atau ‘dan’ (harus keduanya terpenuhi), misal seperti pada definisi bangunan tertutup sebagian yang jelas dinyatakan bahwa harus memenuhi semua syarat yang ada. Syarat kedua tampaknya untuk menjamin agar bentuk gedung tidak terlalu langsing yang mungkin bisa berpengaruh pada faktor aerodinamika gedung, tidak tergantung ketinggiannya. Untuk amannya menurut saya lebih baik bisa dianggap harus kedua syarat terpenuhi.

      Pengaruhnya akan kepada perhitungan selanjutnya, yang mana untuk bangunan bertingkat tinggi tidak bisa digunakan perhitungan Pasal 28 yang umumnya menggunakan beberapa asumsi dan penyederhanaan, yang pada bangunan tinggi bisa saja pendekatan tersebut menjadi tidak terlalu akurat, sehingga harus dipakai pasal 27 dengan perhitungan analitis.

      1. Jadi kalau dimensi horizontal terkecil saya 5 m, lebar pada ruko umumnya tapi tingginya tetap dibawah 18 m.. Apakah masih aman kalau sy kategorikan dia sebagai bangunan tingkat rendah, pak??

      2. Tergantung dari perbandingan terhadap tinggi atap rerata, syaratnya kalau tinggi atap rerata tidak melebihi dimensi horizontal terkecil (dan masih di bawah 18 m) maka masih bisa tergolong bangunan rendah. Seperti diuraikan di jawaban sebelumnya, pengaruhnya lebih kepada pemilihan metode perhitungan.

  8. Salam Pak.. ada hal yang mau tanyakan pada bapak tentang buku ini, pada halaman 75, mengenai perhitungan konversi beban angin dari beban tekanan ke titik..setelah saya menghitung sendiri perhitungan untuk contoh variasi 10, hasil dari hitungan untuk beban P, Pv,Ph tidak ada yang benar hasilnya pak.. apakah ini memang salah cetak atau ada perhitungan lainnya sehingga didapatkan nilai yang seperti tertera di buku.. mohon pencerahannya pak

    1. Sepertinya ada kesalahan perhitungan, terutama untuk jarak kuda-kuda (bentang gording). Perhitungan yang ada pada sub-bab tersebut untuk jarak Lk = 4 m yang seharusnya 3,5 m (data input dulunya jarak 4 m lalu ada perubahan di tengah jalan). Untuk contoh hal. 75 hitungan sisi kiri menjadi P= 4,25 kN ; PV= -3,99 kN ; PH= +1,45 kN dan sisi kanan menjadi P = 1,72 kN ; PV = +1,62 kN ; PH = +0,59 kN. Koreksi lainnya bisa di-download pada bagian errata di akhir tulisan posting di atas. Terima kasih juga atas masukkannya.

  9. Salam pak…Ingin Bertanya untuk masalah permodelan SOLID pada Sap 2000 Karena sedang memodelkan Candi dan ingin menganalisis pushovernya:
    1. Mengapa Bila diberi beban RSP mengapa nilai Stressnya tidak muncul?
    2. Apakah solid tidak ada menghasilkan gaya geser dasar?
    3. Jika didalam batuan candi diberi perkuatan, apakah ada perlakuan khusus pada elemen frame dan solid agar menjadi satu-kesatuan sehingga dapat menyerap energi gempa?

    1. Salam juga, sepertinya penelitiannya cukup menarik juga, pemodelan candi, tapi juga kelihatan cukup rumit. Sebelum beranjak lebih jauh pada analisis pushover, perlu diketahui dulu apakah dengan beban normal, misal beban gravitasi atau dicoba diberi beban lateral simpel, bisa muncul hasil analisisnya dan cukup logis misal bentuk dan nilai deformasinya. Ini untuk mengetahui siapa tahu kekurangan/kesalahan ada pada modelnya, bukan pada beban pushover-nya. Terutama lagi bila ada penggunaan beberapa tipe elemen seperti disebutkan ada frame dan solid, perlu dipastikan dahulu model dan perilaku strukturnya sendiri sudah oke (salah satu cara dengan analisis beban sederhana seperti diuraikan sebelumnya).

      Gaya geser dasar (base shear) tidak tergatung dari tipe elemen dan bisa dikeluarkan/ditampilkan outputnya untuk semua elemen. Perlu diperhatikan saat pemilihan elemennya harus mencakup elemen-elemen di dasar dan juga nodal-nodal sebelah bawah. Perlakuan pada elemen untuk perkuatan tergantung dari jenis perkuatannya seperti apa.

  10. Salam pak, mau bertanya mengenai penggunaan constrain sebagai penyambung antara frame dengan solid :
    1. Bagaimana menentukan dof yang sesuai pak untuk penggunaan body constraint itu sendiri?
    2. Apakah jjka sdah menggunakan body constraint maka permodelan frame tidak perlu diberi perletakan lagi (restraint)
    Terimakasih semoga bapak diberi kesehatan

    1. Salam, semoga kita semua selalu diberi kesehatan. Pemilihan tipe constraint tergantung dari kebutuhannya, karena jenis constraint juga beragam macamnya, jadi perlu disesuaikan dengan keperluannya, misal d.o.f mana saja yang dikehendaki untuk bisa bergerak bersamaan. Maksud penggunaan elemen frame apakah sebagai penghubung antar elemen solid, dan perilaku seperti apa yang dikehendaki (misal sebagai pemodelan gesekan batu, dll).

      Constraint lebih kepada persoalan hubungan antar nodal pada elemen sedangkan restraint lebih mengurusi kekangan pada nodal (gampangnya: tumpuan), jadi pada suatu model pasti akan diperlukan restraint/tumpuan, namun constraint menyesuaikan dengan kebutuhan analisisnya.

  11. Salam pak purbo, saya ingin bertanya mengenai perletakan spring pada solid,
    Apa bedanya input spring pada joint dan surface spring pada, bagaimana permodelan yang lebih tepat?
    Terimakasih

    1. Keduanya dapat dipergunakan, untuk joint spring dipasang pada nodal-nodal elemen solid dengan nilai lazimnya modulus subgrade (nilai kekakuan tanah) dikalikan luasan sekitar nodal (tributary area), sedangkan surface/area spring kalau tidak salah bisa dipakai nilai modulus subgrade langsung yang nilainya tergantung jenis tanah dan kepadatannya.

  12. Salam pak purbo, mohon bantuannya
    Saya sedang melakukan penelitan mengenai analisa pushover dan yang ingin saya tanyakan yaitu
    1. Bagaimana cara untuk input tulangan balok pada permodelan untuk SAP 2000, karena sepengetahuan saya sendi plastis yang terjadi akibat beban pushover untuk balok terjadi pada tulangannya??
    2. Apakah jika memodelkan beban pushover dengan pilihan load type accel tetap mendifiniskan joint masses pada pusat massa? lalu apakah pada saat monitored displacemant memilih joint pada pusat massanya juga?
    3. Untuk nilai V value saat assign hinge apakah menggunakan beban GRAV atau menggunakan kombinasi pembebenan envelope yang telah di-define?
    4. Untuk load factor pada beban GRAV apakah untuk beban hidup diambil sebesar 0.25-0.3 atau 1 , atau reduksi 0.25-3 itu hanya dipakai untuk mendefinisikan mass source-nya?
    Terimakasih pak, maaf banyak bertanya. Semoga bapak diberi kesehatan

    1. Untuk inputnya di analisis pushover sepengetahuan saya bisa dua cara. Yang pertama saat definisi sendi (hinge) ada input untuk yang perilaku joint yang didasarkan antara lain dari penulangan balok (dan kolom), jadi perlu dilakukan analisis dahulu (bisa dengan program lain misalnya) untuk mendapatkan perilaku sendinya; lalu yang kedua dengan fasilitas auto hinge saat definisi sendi plastis. Metode kedua didasarkan dari hasil desain pada program, jadi sebelum running analisis pushover harus dilakukan desain otomatis untuk penulangannya terlebih dahulu.

      Secara umum untuk definisi massa mestinya tergantung dari metodenya, apakah memakai definisi dari material dan penampangnya atau dimasukkan secara manual, harus disesuaikan. Untuk nilai V bisa coba dilihat pada FEMA 356 Table 6-7 dan 6-8.

      Reduksi beban hidup bisa dipakai dalam beban Grav, karena perhitungan sebagai berat seismik sesuai ketentuan SNI 1726 (kalau diperhatikan ketentuannya adalah ‘minimum 25%’, jika akan dipakai reduksi), tentu saja dengan memperhatikan batasan yang ada. Untuk referensi bisa dibaca juga buku ‘Contoh desain bangunan tahan gempa’ karangan Prof. Bambang Budiono di bab terakhir tentang pushover.

  13. assalamualaikum Pak Purbo, apakah Atap perlu juga ditinjau terhadap beban gempa ?, kalau memang perlu. Bagaimana cara menerapkan beban gempa pada permodelan di program SAP2000 ?. terimakasih

    1. Wa’alaikumsalam, Wr. Wb. Faktor untuk pertimbangan antara lain tergantung dari jenis beban atap dan bentangnya, terutama untuk bentang panjang dan bebannya berat. Beban gempa dibebankan sebagai beban gempa vertikal bisa pada nodal-nodal struktur rangka kuda-kuda (truss) atau beban merata pada struktur gable frame.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.