Jadoel

Bongkar-bongkar arsip eh ketemu dokumen yang sudah berumur puluhan tahun (10+ tahun tepatnya, belum ada 20 tahun kok…).

Cerita sebenarnya sih karena kepikiran menulis dengan bahan tersebut, lalu coba bongkar-bongkar isi rak mudah-mudahan masih ada (dan ketemu), tapi kan lebih keren kalau ceritanya menemukan sesuatu secara random. ๐Ÿ™‚

Dokumen tersebut isinya hasil kerja kelompok waktu kuliah semester akhir, tugasnya adalah merancang struktur bangunan gedung mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, alias dari atap sampai ke fondasi. Dikerjakan keroyokan, bagi-bagi tugas. Yang ngerjain atap sekarang sudah jadi staf di PU, yang bagian fondasi sudah jadi bos, terus yang kebagian ngitung portal malah sibuk nge-blog nulis tulisan ini… hehehe.

Yang berhubungan dengan judul tulisan ini, selain code alias peraturan yang dipakai masih edisi lawas (SNI beton 1991, pembebanan 1987, dst.), adalah perhitungan analisis struktur. Laporannya sih memang ditulis pakai tangan, termasuk penggambaran (karena belum pada jago CAD…), tapi yang jelas analisis strukturnya tidak pakai tangan. Program yang dipakai untuk analisis adalah SAP90. Itu sesepuhnya SAP2000, masih pakai DOS. Itu lho, yang pakai ketik-ketik command line, belum secanggih sekarang yang tinggal klik sana klik sini simsalabim langsung jadi. Sebenarnya sih SAP2000, yang sudah berbasis grafis/Windows, juga sudah ada saat itu, tapi kalau tidak salah masih versi awal (untuk versi grafisnya). Seperti yang disebutkan sebelumnya, karena masih berbasis DOS, maka pembuatan model, analisis, sampai dengan penampilan output juga banyak memakai perintah ketik di keyboard.

1. Input data

Model struktur tidak langsung digambar seperti pada SAP2000, tapi dibuat dahulu (diketik) file teks inputnya. Mulai dari koordinat nodal, penomoran nodal dan elemen batang, assignment penampang, pembebanan, dll. semua diketik (!) dengan program teks editor umum. Sebelum memulai membuat model, harus terlebih dahulu membuat sketsa penomoran nodal dan batang, karena dari sketsa tersebut baru kemudian ditentukan input koordinat nodal dan posisi batang yang menyambung antar nodal.

Penulisannya pun tidak bisa sembarangan, dan harus mengikuti format yang ada. Kurang tanda koma (yang berfungsi sebagai pemisah data), misalnya, bisa berakibat data tidak bisa terbaca nantinya, atau model dan output menjadi keliru.

Contohnya, saat assignment tumpuan (restraint), ada input 6 digit, yang menandakan restraint U1, U2, U3, R1, R2, R3 U=translasi, R=rotasi, 1/2/3=sumbu lokal). Kurang digitnya bisa membuat program ngambek saat proses selanjutnya. Keliru angkanya, misal harusnya 1,1,1,0,0,0 keliru 1,1,0,0,0,0 (digit ketiga salah) maka tumpuannya bukan jadi sendi lagi tapi malah bebas bergerak ke arah U3 dan hanya terkekang di arah U1 dan U2 saja. Yang lebih ‘ngeri‘ lagi, saat input posisi batang dan assignment pembebanan beban pelat ke balok-balok (metode trapesium).

Elemen batang ditentukan menyambung dari nodal satu ke nodal lainnya. Kalau salah penomoran, maunya batang kolom vertikal bisa-bisa malah jadi keliru batang miring ke nodal tetangganya. Salah input digit pada pembebanan, bisa jadi bebannya amburadul (salah arah, atau beban gaya malah jadi beban momen dan sebaliknya).

2. Proses

Setelah melewati segala rintangan tadi, dan selesai menyusun file teks input (yang kalau di-print pada contoh tersebut bisa mencapai 10 halaman), maka file input tersebut kemudian diproses dengan menjalankan satu program tertentu dan memanggil file input yang bersangkutan. Setelah dijalankan, belum bisa syukuran loh… Program hanya sebatas mengecek validitas penulisan input saja. Jadi, kalaupun sudah keluar status lolos, nanti masih perlu diproses lagi untuk outputnya. Jika misalnya terdapat kesalahan penulisan yang mengakibatkan input tidak terbaca dengan benar maka akan ditampilkan data kesalahannya. Kalau ini terjadi, maka harus kembali memelototi teks input. Capek ya? Jelas, tapi jalan masih panjang…

3. Model & output

Jika proses sebelumnya tidak ditemukan masalah, maka horor berikutnya sudah siap menanti. Untuk menampilkan model struktur dan output dijalankan program lain lagi. Dari program ini kemudian baru ketahuan apakah model strukturnya sudah sesuai dengan yang dikehendaki, atau ternyata justru elemen atau bebannya kacau balau…

Kalau masih amburadul, maka kembali lagi ke langkah pertama, merunut barisan angka dan huruf pada teks input. Setelah yakin kekeliruan sudah benar, dijalankan lagi langkah nomor dua sebelumnya untuk mengecek validitas input. Bisa saja ketika tadinya sudah oke, lalu direvisi malah berubah status menjadi TMS alias tidak memenuhi syarat, karena saat mengedit teks ada yang sekarang jadi kurang karena terhapus atau malah kelebihan. Kalau begini ya harus kembali ke rutinitas awal. Cek input (lagiii!).

Oh ya, itu nanti belum kalau ternyata saat ditampilkan output kok terasa ada yang nyeleneh alias aneh, misal dikenai beban gempa horizontal kok malah terangkat ke atas, karena ternyata salah assignment arah beban (misal seharusnya format 0,5,0,0,0,0 keliru 0,0,5,0,0,0). Nah, kembali lagi deh menyisir barisan angka dan huruf teks input.

Intinya, antara tampilan model struktur dan inputnya tidak interaktif. Kalau terlihat modelnya salah, tidak bisa langsung dibenarkan pada gambar modelnya, namun harus mengedit file inputnya dahulu dan diproses ulang. Demikian pula saat pengetikan teks input belum bisa langsung ketahuan apakah sudah benar saat itu juga. Cukup bikin dag dig dug juga sebenarnya, sudah capek mengetik ratusan baris eh ternyata keliru. Hore.

Kalau misal diperlukan tahap desain (penulangan beton atau profil baja), ada program lain lagi yang diperlukan. Ribet ya? Tapi ‘untungnya’ dulu lebih ribet lagi… karena desain struktur tidak boleh pakai program alias harus secara manual (supaya kuliah beton dan bajanya tidak sia-sia ๐Ÿ™‚ ).

4. Epilog

Gimana, cukup horor bukan? Itu tadi tugas untuk gedung 4 lantai dengan denah yang cukup simetris kotak-kotak, kalau lebih banyak dan lebih rumit denah dan elevasinya ya silakan dibayangkan saja. Selamat berimajinasi…

Bersyukurlah sudah hidup di jaman SAP2000, kebanyakan tinggal main klik saja dan modelnya tiba-tiba sudah avada kedavra simsalabim jadi. Tapi, ada tapinya lho… sebaiknya jangan asal main klik tapi tidak paham sama sekali apa yang diklik. Bisa-bisa jadi kayak begini nanti. Kisah SAP90 tadi memang horor, tapi juga bisa dapat pengetahuan lebih, karena saat menulis teks input diharuskan mengetahui format penulisan yang nantinya berkaitan dengan assignment dan penempatan elemen atau beban. Contohnya, saat assignment elemen batang kolom perlu diinputkan juga info arah sumbu lokal (sumbu kuat dan lemah) yang mengharuskan pemahaman tentang sumbu lokal elemen. Kalau dalam SAP2000, misal dipakai model template truss2D, frame 3D, dst. tahu-tahu sudah ada elemen. Tinggal diklik dan diberi/diedit penampang dan beban, langsung tampil bebannya sudah benar, tinggal running analisis dst. Jelas jauh lebih enak, tapi ketika ada sebutan M2 atau M3 jadi bingung apa maksudnya.

Ibaratnya, kalau jaman SAP90 itu seperti membuat kopi sendiri. Mau kopi seberapa, gula seberapa, pakai creamer atau tidak, metode tubruk atau diaduk, yang menentukan kita sendiri. Bisa saja hasilnya terlalu manis atau pahit, tapi juga jadi bisa mengetahui dosis yang diperlukan untuk satu citarasa tertentu yang diinginkan. SAP2000 seperti membeli kopi instan, tinggal seduh sudah pasti dapat kopi enak. Detail komposisi bahannya apa saja tidak terlalu tahu, lagipula ngapain ngurusin begituan, duh!

Kalau urusan kopi sachet sih silakan saja, tapi untuk program analisis struktur jangan disamakan. Sedikit demi sedikit, diusahakan agar bisa mengetahui hal-hal misal tentang sumbu lokal, dll. Sambil belajar cara input dan analisis, dipelajari juga tentang program tersebut, bisa dari manual program, dari sumber internet, atau lainnya.ย Mau dari buku seperti Seri 1 atau Seri 2 juga boleh. Pastikan juga sumbernya valid biar tidak kena hoax.ย ๐Ÿ™‚

Selamat ngopi

 

 

 

 

 

 

 

BONUS : gambar portal (hand-made lho… boleh pakai program sih, cuma pada zaman itu yang bersangkutan belum mahir)

Posting terakhir (sekaligus satu-satunya hehehe…) di tahun 2018. Insya Allah akan bisa lebih aktif lagi di tahun berikutnya. ๐Ÿ™‚

11 tanggapan untuk “Jadoel”

  1. Selamat siang mas purbo, saya mau bertanya seputaran SAP2000. Untuk frame section balok apakah perlu diubah insertion pointnya jika dimodel 3D agar garis as balok berada selevel dengan pelat lantai beton ? karena saat saya run designn concrete dengan insertion point centroid(10) dan top center(8) dia menghasilkan luas tulangan perlu(As) yang lumayan jauh berbeda pada balok. yang manakah yang benar dari kedua pilihan tersebut mas? terima kasih

    1. Secara umum, memang akan lebih tepat jika pada elemen diberikan penempatan cardinal point yang sesuai dengan yang sebenarnya. Walaupun demikian, assignment pada setiap bagian yang memerlukan insertion point berbeda juga bisa memakan waktu dan tenaga yang mungkin tidak sedikit/mudah. Untuk struktur yang sederahana/umum kemungkinan masih akan berada pada sisi yang aman (hasil tanpa perubahan bisa lebih besar), atau yang mana pergeserannya tidak terlalu signifikan, namun akan perlu dipertimbangkan bila perubahan posisinya cukup besar (atau pada struktur yang kompleks dan besar).

  2. Assalamualaikum pak Purbo, mau nanya terkait pemodelan struktur :
    1. apakah dalam pemodelan struktur di program perlu dimodelkan tangga ? karna ada beberapa org yang saya liat memodelkan tangga,
    2. untuk bangunan yang mempunyai basement apakah dimodelkan dengan struktur atas menjadi satu atau dimodelkan secara terpisah ?

    terimakasih.

    1. Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Struktur tangga dapat dimodelkan langsung, atau bisa juga tidak dimodelkan namun beban-beban reaksi dari tangga diinput pada balok2 di dekat tangga. Jika dimodelkan langsung bisa berpengaruh ke perilaku struktur walaupun efeknya akan tergantung juga dari denah letak tangga dan bentuk strukturnya. Kadang ada juga portal tangga yang memang sengaja dipisah dari struktur utama sehingga tidak terlalu banyak mempengaruhi struktur utama.

      Struktur basement jika berupa semi-basement (sebagian tinggi muncul di permukaan lazimnya untuk membantu pengudaraan) atau tidak terlalu dalam mungkin bisa dimodelkan langsung bersamaan. Jika cukup dalam atau bertingkat, terutama untuk high rise building, kemungkinan akan diperlukan analisis secara bertahap/terpisah antara struktur atas dan struktur bawah (bisa lihat Pasal 7.1.5 dan 7.13 dalam SNI 1726:2012) untuk menjamin agar struktur bawah tidak fail oleh beban dari struktur atas (lebih kuat dari struktur atas).

  3. Terimakasih atas jawabannya pak, untuk basement yang di modelkan tentu ada bagian basement ada yang berinteraksi/bersentuhan dengan tanah pak purbo,
    pertanyaan saya :
    1. apakah akibat dari interaksi tanah dan basement dapat diabaikan dalam pemodelan dan beban ?, atau kita modelkan tumpuan spring pada dinding basement yang berinteraksi dengan tanah.
    2. apakah kita juga perlu memberi beban hidrostatik pada basement yang telah dimodelkan.

    terimakasih.

    1. Untuk model yang sederhana tanah bisa cukup sebagai beban saja, termasuk beban hidrostatik terutama jika muka air tanah tinggi dan basement cukup dalam. Pemodelan sebagai spring bisa dilakukan namun perlu berhati-hati karena sifat tanah hanya menahan tekan saja jadi spring juga harus dimodelkan sebagai elemen dengan sifat compression only yang mungkin cukup rumit.

  4. Assalamu’alaikum,
    Salam kenal Pak. Saya ingin membeli buku SAP yang legend itu lho.
    Bagaimana caranya Pak? Saya sangat membutuhkan, tapi sudah telpon penerbit tidak ada stok. Mbok saya dibantu. Dicetak printout tanpa cover juga gak apa pak. Yang penting ilmunya ๐Ÿ™‚

  5. Alhamdulillah saya sudah order bukunya dan masih tahap pengiriman.
    Pak tolong dibagi sedikit ilmunya, agar perhitungan saya bisa benar.

    Mengenai struktur basement. Kali ini file nya dipisah berupa struktur atas dan struktur bawah. Karena ada 2 tingkat basement.

    Setelah struktur atas di “run analysis”, maka kita ambil nilai support reaction.
    Misal di point no.1. Akan ada nilai output seperti DL, D-dinding, Live, Gempadinamis-x, Gempadinamis-y, Gempastatis-x, Gempa Statis-y, yang masing-masing mempunyai nilai Fx, Fy, Fz, Mx, My, Mz.
    Lalu kita jadikan nilai2 output tersebut sebagai input beban pada struktur bawah.

    Saat kita input beban2 tsb pada point no.1 di struktur bawah sebagai joint load, maka pilihannya adalah beban DL, D-dinding, Live, Gempastatis-x, Gempastatis-y.
    Nilai output beban Gempadinamis-x dan Gempadinamis-y dari struktur atas tidak digunakan? Bagaimana ya?
    Lalu yang dikalikan faktor kuat lebih yang mana ya?
    Pada struktur bawah, apakah perlu kita buat kombinasi beban seperti pada struktur atas? (1,4 DL ; 1,2DL+1,6LL; 1,32DL+LL+Gempadinamis-x+0,3Gempadinamis-y; dst)

    Terima kasih.

    1. Secara garis besar tahapannya sudah benar, jangan lupa untuk merubah arah semua reaksi dari struktur atas baik gaya maupun momen untuk menjadi beban pada struktur bawah. Menurut Pasal 7.1.5 SNI 1727:2013, beban gempa dari struktur atas termasuk yang diikutkan menjadi beban struktur bawah, dengan faktor kuat lebih menggunakan nilai omega-nol pada Tabel 9 di peraturan tsb. Untuk perencanaan elemen-elemen struktural struktur bawah (misal balok, kolom, pelat basement) semestinya juga memakai kombinasi terfaktor, namun untuk penentuan struktur fondasi seperti fondasi tiang misalnya lazimnya dipakai kombinasi tidak terfaktor karena dari analisis daya dukung tanah umumnya sudah memberikan/menyertakan faktor sendiri.

      Terima kasih juga sudah membeli bukunya, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.