Tentang Massa…

Keren ya judulnya hehehe… Jangan salah, tentu saja yang dimaksud ‘massa’ di sini bukan dalam arti ‘waktu’ tapi yang masih berkaitan dengan SAP2000 alias nilai berat yang dibagi percepatan (m=W/g). Dalam analisis struktur (terutama dinamik), massa memegang peranan penting, karena dari sinilah antara lain karakteristik struktur ditentukan. Misal dalam analisis modal untuk penentuan waktu getar alami / fundamental struktur dan mode shape, jika ada massa yang kurang / tidak dimasukkan, maka waktu getarnya juga akan berbeda, begitu pula jika massanya berlebih (double/dimasukkan 2 kali). Rentetannya, misal dipakai analisis gempa respons spektrum yang dipengaruhi oleh input massa, maka gaya pada struktur juga akan salah demikian pula hasil outputnya. Nah lo

Kalau kita lihat cara definisi massa dalam SAP2000 (lewat Define > Mass Source), terlihat tiga pilihan penentuan sumber massa pada struktur seperti gambar di bawah.

Dari tiga pilihan tersebut, intinya ada 2 (dua) sumber massa :

  1. Elemen dan massa tambahan (element & additional mass)
  2. Beban (load)

Kemudian dijadikan pilihan-pilihan seperti pada gambar :

A. Butir 1 saja (element & additional masses)
B. Butir 2 saja (loads)
C. Butir 1 & 2 (element & additional masses and loads)
D. Salah semua (???)

Eh koreksi… yang D tidak ada lho… kok jadi kayak ujian pilihan ganda… Sekarang coba kita simak sumber-sumber massa tersebut (butir 1-2) :

  • Elemen (element) : massa berasal dari semua elemen yang ada/tampak/tergambar pada model struktur, data didapatkan dari assignment material pada masing-masing elemen, jadi pastikan material semua elemen sudah benar
  • Massa tambahan (additional mass) : merupakan massa yang diinputkan/ditambahkan sendiri oleh pemakai program pada model struktur, baik berupa joint mass, line mass, atau area mass.
  • Beban (load) : massa berasal dari beban-beban pada model struktur yang juga ikut dihitung sebagai bagian dari massa struktur, misal dinding yang diinputkan sebagai beban (tidak dimodelkan).

Untuk pilihan kedua atau ketiga (yang memuat pilihan beban / load), kotak input di bawahnya akan aktif. Beban yang akan diikutsertakan sebagai massa dimasukkan pada kotak isian tersebut sekaligus faktor pengalinya (multiplier). Hati-hati, faktor pengali yang dimaksud di sini bukan skala gravitasi, namun hanya pengali biasa seperti koefisien reduksi beban hidup untuk gempa sebesar 0,3. Do not include the acceleration as a result of gravity in the scale factors; the program will do that automatically.” Itu bunyi kutipan kalimat pada fasilitas Help. Pengali gravitasi sudah diinput otomatis oleh program, jadi tidak perlu dimasukkan lagi, biar tidak double.

Masih belum jelas dan tambah bingung kan? Karena itu penulis buatkan contoh sederhana, portal 3D 2 lantai beton bertulang dengan atap dak. Di sini akan ditinjau dua variasi model pelat lantai :

  1. Pelat dimodelkan langsung pada struktur (elemen shell) : Portal 1 (gambar kiri)
  2. Pelat dimasukkan sebagai beban segitiga pada balok (metode amplop) : Portal 2 (gambar kanan)

Pada model Portal 1 (pelat shell), karena elemen pelat sudah menjadi bagian dari model struktur, maka pada definisi sumber massa (mass source) tinggal dipakai pilihan A (element & additional masses, gambar kiri). Sedangkan pada model Portal 2 (pelat sebagai beban), karena pelat tidak menjadi bagian elemen model dan hanya sebagai beban, maka pada pilihan definisi mass source harus dipakai pilihan C (element & additional masses and loads, gambar kanan). Sebagai catatan saja bahwa di sini tidak ada massa tambahan (additional mass). Pada model portal 2 beban pelat diberikan load case sendiri yaitu ‘P’. Sedikit tips : sebaiknya beban-beban mati di luar/selain berat sendiri diberikan/dibuatkan load case tersendiri, misal D-Pelat untuk beban mati tambahan pelat, D-Dinding untuk beban dinding, dst. Hal ini untuk memudahkan dalam pemisahan output nantinya dan menghindari kerancuan antara beban mati berat sendiri dan beban mati dari luar/tambahan.

Nah, sekarang kita lihat outputnya. Di sini akan dicermati keluaran waktu getar alami/fundamental (mode pertama) yang dipengaruhi oleh massa struktur.

Pada model Portal 1 (pelat shell) tampak waktu getar T = 0,447 detik dan pada Portal 2 (pelat sebagai beban) T = 0,436 detik atau berselisih sebesar 2,5% alias sudah cukup mendekati. Acuan kita di sini adalah Portal 1 sehingga alternatif model Portal 2 cukup valid, yaitu dengan model pelat sebagai beban dan sumber masa pilihan C (element & additional masses and loads). Apa yang terjadi, misalnya bila pada model Portal 2 hanya dipakai pilihan A saja (element & additional masses, tanpa memasukkan loads) ? Kita beri nama model ini Portal 2x :

Waktu getarnya hanya 0,314 detik, selisih 29,8%, jauh bukan? Ingat rumus waktu getar untuk struktur SDOF (single degree of freedom) ? Itu lho, yang ada gambar kolom/batang lalu ada bandulnya sebagai representasi massa lantai… T = 2.phi.(m/k)½ dengan m adalah massa yang sedang kita bahas. Walaupun struktur pada contoh adalah MDOF (multi degree of freedom), namun secara global rumus tersebut masih dapat dijadikan gambaran umum. Kalau m berkurang (ada massa yang tidak disertakan seperti contoh terakhir), maka T alias waktu getar akan menurun, dan demikian pula sebaliknya. Jika dirunut lagi misalnya sampai ke output momen lentur maksimum elemen balok, dengan beban gempa respons spektrum, maka didapatkan hasil seperti berikut :

  • Portal 1 (pelat shell) : 23,899 kNm
  • Portal 2 (pelat sebagai beban) : 23,265 kNm
  • Portal 2x (Portal 2 tanpa massa pelat) : 12,474 kNm

Sudah kelihatan masalahnya kan… Untuk contoh berikutnya, akan dicoba bila beban pelat tersebut dimasukkan sebagai load case ‘DEAD’ (tidak dipisah sebagai load case sendiri ‘P’), yang kita beri nama model Portal 3.

Perhatikan lagi bedanya, kalau pada model Portal 2 beban pelat masuk load case ‘P’, pada Portal 3 ini masuk ke load case ‘DEAD’, jadi satu dengan load case untuk berat sendiri. Lalu pada Mass Source, karena beban ini harus dimasukkan sebagai massa juga maka dipilih option ketiga (element & additional masses and loads). Hasilnya ?

Whoa… jadi tambah besar… 0,537 detik dan momen juga lebih besar menjadi 36,378 kNm. Menurut T = 2.phi.(m/k)½, nilai T membesar karena m (massa) membesar juga (kekakuan tetap karena model sama), artinya ada massa yang berlebih alias dengan kata lain double. Ingat, acuan kita adalah model Portal 1 (atau Portal 2 juga bisa). Di mana letak ke-double-an tersebut? Berat sendiri struktur. Pada load case ‘DEAD’ yang dipakai untuk ‘penempatan’ beban pelat kan sudah ‘mengandung’ berat sendiri struktur karena self-weight multiplier aktif (nilai =1). Karena pada definisi sumber massa dimasukkan lagi, jadilah massa berat sendiri terhitung lagi. Seharusnya, beban pelat dipisah sebagai load case tersendiri dan jangan lupa non-aktifkan self-weight multiplier (nilai =0) untuk load case tersebut (seperti pada Portal 2).

Kalau masih belum puas juga, masih ada satu contoh lagi. Hanya di sini penulis tidak perlu ambil pusing membuat contoh baru, tapi tinggal comot dari Example Problems yang sudah ada dalam program (fasilitas Help). Kita lihat contoh Problem Z tentang Response Spectrum Analysis.

Intinya model tersebut hampir sama dengan model kita sebelumnya (portal 3D beton bertulang, model Portal 1), hanya ada tambahan dinding geser dan ada tiang flagpole dengan massa tambahan di ujungnya.

Penulis tidak akan bertele-tele membahas keseluruhan cara pembuatan modelnya, karena sudah diuraikan di Example Problem. Di sini penulis hanya akan menyoroti masalah definisi sumber massa saja. Pada langkah no.44, tertera Assign > Joint > Masses untuk input massa titik tambahan (joint mass) pada ujung flagpole. Setelah langkah-langkah lainnya untuk definisi beban gempa dan seterusnya, selanjutnya pada langkah no.49 tinggal klik tombol Run Analysis.

Lho? Langkah untuk definisi sumber massa (mass source)-nya di nomor berapa? Tidak ada. Lho??? Begini ceritanya… secara default, maksudnya bila kita tidak mengutak-atik apapun pada menu Define > Mass Source, maka pilihan pada kotak dialog Define Mass Source akan selalu menunjuk pada pilihan pertama (element & additional masses). Sekarang perhatikan model struktur Problem Z, semua elemen (balok, kolom, pelat, dinding geser) sudah dimodelkan (masuk ke kategori element). Joint mass pada puncak flagpole, masuk ke kategori additional masses. Jadi dengan pilihan pertama saja (default), sudah tercakup semua kan (element + additional masses) ? Artinya dengan pilihan default alias tidak perlu diutak-atik sudah benar definisi sumber massanya. Sama dengan model yang penulis buat yang sudah kita bahas sebelumnya untuk contoh Portal 1 (pelat shell), alasan ini juga sebagai dasar pemilihan model Portal 1 sebagai acuan. Tentu akan lain langkahnya bila misalnya pada model juga ada beban dinding sebagai beban merata. Jika dinding akan diikutkan sebagai massa, sedangkan pada model hanya sebagai beban, baru kita pakai pilihan terakhir / ketiga (element & additional masses and loads), dengan loads untuk mencakup beban dinding tadi, alias perlu diubah definisi sumber massanya.

Sebagai penutup, disajikan rekapitulasi contoh-contoh manual kita dalam tulisan ini :

Portal 1 :

  • ŸPelat dimodelkan sebagai shell (masuk sebagai elemen)
  • ŸMass Source : Element & additional masses (A)
  • ŸT = 0,447 detik dan M = 23,899 kNm
  • ŸSebagai acuan

Portal 2 :

  • Pelat dimodelkan sebagai beban (load case ‘P’)
  • Mass Source : Element & additional masses & loads (C)
  • T = 0,436 detik dan M = 23,265 kNm
  • Model dapat dipakai (hasil mendekati acuan)

Portal 2x :

  • Pelat dimodelkan sebagai beban (load case ‘P’)
  • Mass Source : Element & additional masses (A)
  • T = 0,314 detik dan M = 12,474 kNm
  • Model salah, karena beban pelat belum dimasukkan sebagai massa (massa kurang / terlalu kecil)

Portal 3 :

  • Pelat dimodelkan sebagai beban (load case ‘DEAD’)
  • Mass Source : Element & additional masses & loads (C)
  • T = 0,537 detik dan M = 36,378 kNm
  • Model salah, karena massa berat sendiri terhitung ganda (massa berlebih / terlalu besar)

Intinya, mau pakai model Portal 1 atau Portal 2 boleh, keduanya benar. Untuk model Portal 2x dan Portal 3 jangan ditiru ya karena salah. Nah, karena pembahasannya sudah sangat panjang dan sudah dibuktikan sendiri oleh pabrik pembuatnya lewat Example Problem tentang definisi sumber massa ini (walaupun tidak secara langsung), semoga para pembaca sekalian bisa lebih jelas dan mantap dalam hal per-massa-an ini. Dan berhubung pesanan kiriman Starcraft II saya sudah datang (sebenarnya sudah dari minggu kemarin), maka kita akhiri dulu perjumpaan kita sampai di sini…

Oya, silakan cek juga halaman Download dan Rumus untuk update terbaru. Mumpung sebelum masuk bulan Ramadhan juga, sekalian penulis mengucapkan selamat berpuasa, Taqabalallahu minna wa minkum syiamana wa syiamakum, Marhaban ya Ramadhan 🙂

Advertisements

111 responses to “Tentang Massa…

    • Makasih dah mampir pak Pauli… 🙂 Gimana kabarnya…
      Topik pushover memang termasuk agak njlimet, sudah masuk wilayah non-linier, jadi bahasannya juga perlu mendalam.

  1. Wahhhh jadi mengerti sekarang, mulai nggak mumet mas, tau gini mending ngulik2 blog mas popo aj;) Terimakasih ya mas, ditunggu postingan lainnya.

    (training SAPnya di jogja aj ya mas, klo boleh usul training jarak jauh boleh ga mas?;p)

  2. Wah kalo diobrak abrik bisa2 pengunjung blog ini protes ke saya;p

    Usul training untuk daerah jabodetabek mas hehehehe tapi kalo training yg di Jogjanya tidak lama (2 mingguan) boleh tuh ijin untuk ikutan.

    Ditunggu postingan berikutnya ya mas, thanks sudah share ilmunya di sini 🙂

    • Boleh2 saja kalo mau training di jogja, 2 minggu dijamin dah cukup kok bekalnya 🙂 silakan kontak via email, bisa juga sekalian ngajak temen biar rame hehehe…
      Makasih juga kunjungannya.

    • Untuk training tatap muka langsung sementara hanya wilayah Jogja. Namun saya juga sedang mencoba untuk sistem online-training supaya bisa menjangkau daerah lain dengan mudah (masih tahap setting up).

  3. Mas, bagiamana cara membuat tampilan pelat/shellnya transparan seperti gambar portal 1?
    Ditunggu pembahasan pushover dan macro part.2 nya. Salam

  4. Plihan Options > Graphics Mode > Classical Plus tidak ada di SAP2000 v 10. Yanga ada Option – Change to Calssical Graphic – Enhanced Graphic – *centang* hasilnya tumpuannya yang transparan. Alias tidak seperti contoh diatas.

  5. Asslm..
    mnyangkut maslah massa pak..sy ada unek-unek, mhon pencerahanya pak..

    sedikit bercerita biar saya bisa menuangkan unek-unek saya pak.
    (saya melakuknya dengan ETABS pak)
    data perencanaannya seperti ini:
    • Tipe bangunan : Dual System (Sistem Ganda)
    • Lokasi Bangunan : Banten
    • Wilayah gempa : 4 (SNI 03-1726-2002)
    • Fungsi gedung untuk perkantoran (PPIURG: beban hidup direduksi sebesar 0,3 untuk peninjauan gempa dan 0,6 untuk peninjauan portal)
    ketika sya akan melakuakn PERHITUNGAN GEMPA,,saya membutuhkan data berat struktur dari Etabs, dan
    Berdasarkan data perencanaan diatas, saya melakukan Define Mass Source > from loads..pada kotak box sya isikan 0,3 untuk beban Live dan 1 untuk beban Dead.
    (saya hanya membuat 2 Load cases, yaitu Dead dan Live)
    sebelumnya saya telah memasukan beban mati tambahan (DL)=120 kg/m2 dan Live (LL)=250 kg/m2.
    sedangkan pemodelan pelatnya saya modelkan seperti Portal 1 pada tutorial bapa diatas.

    (waduh sepertinya kepanjangan ya pak unek-unek yang sya sampaikan, mohon maff sudah menuh-menuhin komentar di postingan bapa…)

    yang sya ingintnyakan pak..
    *apakah yang sudah saya lkukan sudah benar atau sebaliknya??mohon koreksinya pak..

    • Wa’alaikumsalam, yang perlu diperhatikan adalah saat definisi massa untuk beban mati (DL). Kalau dipakai option ketiga (from element & additional mass & loads) pastikan load case untuk berat sendiri dan beban mati tambahan dibuat terpisah, dengan self weight berat sendiri = 1 (misal DL1) dan beban mati tambahan/finishing self weight = 0 (misal DL2). Sehingga mass source menjadi : element -> dari DL1, additional loads -> dari DL2 dan LL. Kalau digabung (hanya DL) nanti menjadi : element -> dari DL, additional loads -> dari DL dan LL (DL terhitung 2 kali, tidak benar).

      • Bagaimana bila DL hanya 1 case, dengan WS = 0? Acuan saya Pushover pak Wiryanto, baru analisa modal aja tidak sama. Hasilnya T pada mode 1 = 444136,xx nah salah dimana? Beliau punya T = 2,0857. Saya menggunakan case LOAD (poin B).

      • Lho itu T-nya kok besar sekali, berarti di modelnya ada yang belum benar itu, coba dicek lagi saja material, section, dll. mungkin ada juga elemen yang dobel, tidak nyambung, dll. Saya asumsikan yang dimodelkan struktur gedung, jadi tidak mungkin T sebesar itu. Acuan yang dipakai yang dimaksud saya juga kurang jelas, dari p. Wir yang kayak apa… Jika self weight multiplier nol ya berarti berat sendiri tidak dihitung otomatis, mungkin sudah dimasukkan ke beban.

      • Evaluasi Kinerja Bangunan Baja Tahan Gempa dengan SAP2000 oleh Wiryanto Dewobroto, Pak. Yup, beban yang diberikan memang tidak memperhitungkan berat sendiri struktur. Mungkin saja ada material yang dobel. Sebentar saya cek lagi. Trims, Pak

  6. Selamat sore pak. Berat sendiri (D) dan beban tambahan (dinding ), load casenya saya buat terpisah. Terus saya bingung di combinasinya, misal 1,4D..berarti beban dinding nggk masuk di kombinasi? Apa pembebanan berat dinding itu harus dibuat 2 kali, dengan case D dan case DINDING, yang nantinya beban gempa dianalisis dengan respons spektrum. Terima kasih

    • Kalau ada 2 atau lebih load case untuk beban mati maka pada kombinasi ya harus dimasukkan semuanya donk… Misal load case berat sendiri = D1 & dinding = D2, maka di kominasi menjadi 1,4.D1+1,4.D2. Bisa juga digabung dulu jadi satu pada analysis case menjadi D = D1 & D2 lalu dikombinasi tinggal memasukkan 1,4.D. Nah, saat definisi mass source barulah dipisah, yang dimasukkan hanya D2 saja (dinding) dengan asumsi memakai option ketiga.

      • mw nanya lagi pak..
        1) maksudnya digabung itu gimana pada etab,,
        apakah pada static load case name nya..antara Beban Berat sendiri (D1) dengan beban Dinding (D2) di berikan type yang sama yaitu (Dead) sesuai pilihan yang terdapat pada kotak box..sehingga nnti nya asumsi pada kombinasi nya cukup dengan 1,4D…?

        2) terus pilihan Super Dead itu untuk apa pak,,beban tambahan atau bukan ya?yang terdapat pada type static load case name..

      • Betul,beban mati diset semua sebagai dead load. Super dead itu maksudnya super-imposed dead load alias beban mati tambahan di luar berat sendiri, misal finishing pelat lantai.

      • pak saya mau tanya, jika beban dinding dibuat SDL (super dead load) apa tidak perlu dimasukan di load case ? jadi sudah otomatis terhitung pada kombinasi 1,4 DL. terima kasih

      • Yang penting memasukkannya salah satu tipe saja dan disesuaikan kombinasinya, misal beban dinding dimasukkan load pattern DL (tipe Dead) yang termasuk juga berat sendiri elemen dan beban mati tambahan maka kombinasi adalah 1,4DL, lalu misal berat sendiri load pattern D1 (tipe Dead), beban mati tambahan D2 (tipe Dead), beban dinding D3 (SDL) maka kombinasi adalah 1,4D1+1,4D2+1,4D3.

  7. mau tanya nih pak, pada analisis dinamik dengan respons spectrum gempa menurut SNI-03-1726-2002 kalau dimasukkan dlm program SAP2000 dg user function, scale factor-nya apakah diambil = g*I/R ? Kalau dipakai Time History dengan rekaman El-Centro 1940 apakah scale faktor-nya = Ao*I/R dg Ao=koef*g dg g=9.81 m/s2. Mohon pencerahannya, makasih sblmnya.

    • Scale factor benar dengan I/R*g, tidak perlu dikalikan dengan Ao lagi. Angka Ao itu sudah jadi salah satu input di grafik RS, sehingga kalau dikalikan lagi jadi kecil nilainya (salah). Sedangkan TH merupakan rekaman gempa real-time hubungan waktu dan percepatan, dikali scale factor sebesar (Ao.I.g/R) / percepatan puncak akselerogram yang dipakai dengan Ao menyesuaikan wilayah gempa dan jenis tanah (sesuai RS) SNI2002.

  8. Makasih atas pencerahannya. Tanya lagi nih pak, bagaimana cara menentukan eksentrisitas pusat massa thd pusat rotasi masing-masing lantai tingkat dengan SAP2000?

    • Eksentrisitas bisa diinput di analysis case RS, pada bagian diahragm eccentricity, bisa sebagai rasio terhadap dimensi lebar (misal 0,05.B) atau input nilai jaraknya (tombol override ecc.).

      • Jarak eksentrisitasnya dari pusat massa ya Pak? Misalkan simetris, maka jarak dari tengah ke ‘eksentrisiitas’ atau jarak dari tepi ke ‘eksentrisitas’
        Untuk analisa modal apakah bisa memberikan eksentrisitas ini, Pak? Trims before

      • Eksentrisitas dihitung dari titik pusat massa lantai. Untuk pemberiannya lewat analysis case, misal dengan tipe response spectrum, ada input tambahan untuk eccentricity.

  9. Bagaimana pak bila kasusnya portal 3D, yang akan dianalisa adalah modelnya. Eksentrisitas massa (D+L) = 1000 kgm/s2. Massanya direction berapa pak? Dan bagaiman memberikan eksentrisitas massanya bila elemen shell yang digunakan? Tetap menggunkan D+L, belum memperhitungkan beban gempanya

    • Yang 1000 kgm/s^2 itu massa translasi kan, bukan eksentrisitas. Eksentrisitas bisa diinput di analysis case RS, pada bagian diahragm eccentricity. Yang penting perhatikan penggunaan massa beban mati (D), sebaiknya beban berat sendiri dipisah jadi load case tersendiri, seperti contoh di tulisan.

  10. maaf pak mau tanya mengenai fenomena plat lantai yg bergetar…ini karena pengaruh apa yah pak…?bnyk sekali sy temukan, apakah platnya yg kurang tebal ato baloknya yg kurang besar..?

    • Jika hanya dpilih Loads, maka berat sendiri elemen (Element) belum akan terhitung sehingga akan menjadi terlalu kecil massanya khusus untuk Portal 2 (pelat sebagai beban). Untuk Portal 1 (pelat sebagai elemen model) bisa dipakai pilihan ini.

      • *****garuk garuk kepala pak,agak gatel kepala say efek kebanyakan on line, sambil maen game..hehe

        *(1) belum akan terhitung = Tidak terhitung oleh etabs ===> gitu bukan pak?
        walaupun pada load case “DEAD” self-weight multiplier aktif (nilai =1).

        **(2)…klo semisalnya beban hidup akan direduksi sebesar 0,3 untuk perhitungan gempa, pilihan pada mass source nya itu bisa dipilih yang pilihan “C” ya pak..?
        dengan asumsi permodelan struktur seperti model 1 pada pembahasan ini (Pelat dimodelkan langsung pada Etabs/Sap) namun dinding tidak dimodelkan, hanya di bebankan (Load pd Batang)..
        * dan terdapat beberapa load case

        1. Dead Elemen, type “Dead” ==> nelf-weight multiplier aktif (nilai =1).
        2. Dead Dinding, type “Dead” ==> nelf-weight multiplier Non-aktif (nilai =0).
        3. Dead Tambahan Pd Pelat, type “Super Dead Load” ==> nelf-weight multiplier Non-aktif (nilai =0).
        4. Live, Type “Live” ==> nelf-weight multiplier Non-aktif (nilai =0).
        5. Gempa, Type “Quake” ==> nelf-weight multiplier Non-aktif (nilai =0).

        masuk pada salah satu kombinasi pembebanan..
        *misal…

        1,4 Dead = 1,4 D + 1,4 SDL === (?) gitu bukan pak…?

        masuk pada mass source..
        saya memilih pilihan “C” ===>element & additional masses and loads
        pada “define mass multiplier for load” sya lakuan pengisian data sebagai berikut:
        (disini sy masih bingung pak..tpi sy coba buat menguraikan nya..mohon dikoreksi)
        1. Dead Elemen, nilai Multiplier = 0 …….(???)===>bobot bingung nya disini pak..
        2. Dead Dinding, nilai Multiplier = 1 …….(?)
        3. Dead Tambahan Pd Pelat, nilai Multiplier = 1 ……(?)
        4. Live, Nilai Multiplier = 0,3 ……(?)
        5. Gempa tidak masukan …..(?)

        (ini pemhaman sy sementara, dari uraian bapa diatas))
        mohon koreksinya pak,,,

        mohon maaf sudah merepotkan..

        Trims..

      • Coba dicermati lagi bagian awal tulisan ini, saat definisi sumber massa, ada dua macam sumber yaitu: elemen struktur+massa tambahan dan beban (load). Intinya harus disesuaikan antara pemodelan dengan sumber massanya. Pada contoh di tulisan ini (harap diingat juga contoh ini hanya membahas tinjauan untuk beban mati):
        – Model Portal 1 berupa elemen balok, kolom, pelat juga bagian model tanpa beban tambahan –> dipilih Element
        – Model Portal 2 berupa elemen balok & kolom, pelat sebagai beban saja –> Element & load
        Tambahan juga, pada Portal 1 bisa juga dipilih Load, karena tidak ada Load Case beban mati lain selain DEAD. Jika dipakai Element & Load maka akan menjadi terlalu besar.

        Koreksi sedikit, angka 0,3 pada Load menyatakan besar beban efektif yang dihitung sebagai massa struktur. Misal diterapkan pada Live Load, jika dianggap berat beban hidup efektif sekitar 30% maka bisa diinput angka tersebut (massa total dianggap = 100% beban mati + 30% beban hidup).

        Untuk faktor pengali pada Load Case dan Combo sudah benar, pada Mass Source tipe Dead untuk elemen tidak perlu dimasukkan, tinggal ditambahkan yang beban mati selain berat sendiri.

  11. Maaf, Pak, banyak tanya (lagi” mau nanya)

    Bagaimana mengetahui letak titik pusat massa pada struktur 3D pada SAP2000?

  12. Pingback: SNSD | The Web Logs of Purbo

  13. Nanya lagi Pak. Nanya mulu jd malu
    Misalkan gedung 4 lantai pada lantai 1,2 &3 pusat massanya di tengah-tengah. Nmun pada lantai 4 pusat massanya tidak ditengah. Misalkan saya ingin letak pusat kekakuannya semua lantai berada ditengah, apakh bnar dengan cara memberikan point ditengah tiap lantai kmdian didiafragma? Lantai mgunakan shell. Apaka perlu mberikan massa atau tdk pada tiap point tadi. Terima kasih sebelum dan sesudahnya

    • Letak pusat massa tergantung dari penempatan elemen dan bebannya, sedangkan pusat kekakuan tergantung penempatan elemen vertikal seperti kolom atau dinding geser, jadi sebenarnya tidak bisa ditentukan langsung. Penempatan massa bisa beberapa alternatif, salah satunya misal dengan joint mass di titik nodal pusat massa, ini berarti dihitung manual massanya. Harus dipastikan tidak ada massa/beban yang terhitung ganda (harus jelas pemisahan antara massa elemen yang sudah ada di model dengan massa yang diberikan lewat joint mass). Misal pada model sudah ada elemen balok, kolom dan pelat, untuk joint mass bisa diberikan tinggal massa dari beban finishing lantai misalnya (massa balok, kolom dan pelat tidak dhitung lagi), lalu pada mass source ditentukan dari element and add. mass. Intinya penempatan/perhitungan massa harus tepat.

      • Jika beban dinding dijadikan sebagai frame load berarti mass source diset untuk loads, sedangkan jika dihitung sebagai joint mass maka diset additional mass. Perhatikan jangan sampai terhitung ganda, misal ada di frame load dan joint mass bersamaan dipakai element and add. mass and loads, ini tidak benar (salah satu saja).

  14. pak, saya mau tanya. kan kalau mau menentukan sumber massa yaitu pd mass source, yg sy mau tanyakan bgaimana agar supaya kt dpt melihat pusat massa dan pusat kekakuan, soalnya stelah sy RUN tdk ada pada tabel output,, soalnya sy mau cocokkan sm perhitungan manual sy.. mohon dijelaskan pak. wasalam

    • Yang bisa dilihat setahu saya pusat massa saja, dilihatnya langsung dari file output (*.OUT) pada folder tempat input SAP, misal lewat Windows Explorer, bukan dari program SAP-nya. Sebelumnya tiap lantai harus sudah di-assign constraint tipe diaphragm dulu. Silakan lihat juga beberapa komentar terkait di halaman SAP2000 (search/find kata ‘pusat massa’).

  15. pak saya lg mengerjakan skripsi perencanaan gedung dengan analisa beban gempa dinamik dengan portal 3D pd sap 2000, ada yang saya mau tanyakan pak :
    1. kalo memakai cara yang bapak jabarkan di atas, berarti kita tidak perlu lagi menginput massa (secara manual) pada sap nya ya pak?
    di sap klo ga salah “assign-joint-masses”. untuk input massa manualnya

    2. saya menggunakan pilihan “from loads” pada mass definiton karena load case berat sendiri+beban mati tambahan tidak saya pisah, apakah itu sudah benar pak?

    3. bagaimana cara mengecek beban gempa yang kita input ( untuk gempa dinamik) apakah sudah bekerja pada model yang kita buat pak?
    karena kata dosen saya, output model saya ( gambar bidang momen,geser) tidak terlihat ada akibat pengaruh dari beban gempa.. bingung saya pak

    owh iya, untuk cara pemodelan gempanya saya mengikuti tutorial yang ada di buku sap seri 2 punya bapak,,

    terimakasih pak..
    (maaf pak pertanyaannya byk bgt maklum pak mahasiswa, hehe)

    • Jika sudah memakai massa otomatis maka tidak perlu diberi lagi dengan joint mass, dipakai salah satu metode saja. Untuk beban mati yang semuanya menjadi satu bisa dipakai pilihan Loads, pastikan juga self weight multiplier bernilai 1.

      Untuk melihat pengaruh beban gempa bandingkan saja misal momen pada salah satu portal untuk kombinasi non-gempa (misal D+L) dengan momen kombinasi gempa (D+L+E) mestinya terlihat perbedaan nilai. Besar pengaruhnya tergantung juga dari besar beban gempanya, cek juga faktor-faktor pengali dll. yang diperlukan (misal I/R.g untuk gempa RS).

  16. Mas pubo.. z mw nx mas.. tentang mass source ini, gini mas.. untuk beban kuda2 mas z anggap sebagai beban titik ke kolom dengan tipe beban DEAD.. jdi mas z harus pilih yang mana untuk mass sourcex mas? z pilih from loads dan z klikan dengan factor scale 1 atw gimana mas? mhon bantuanx mas..

    • Sebaiknya dipisahkan antara beban mati berat sendiri portal (misal D1) dengan beban mati dari reaksi atap (misal D2), lalu setting dengan elm. and add. mass and loads (option ketiga) dan pada load dipilih D2 (beban reaksi atap, D1 sudah masuk otomatis pada element) dengan scale = 1. Bisa juga lihat keterangan pada buku Seri 2 hal. 94.

  17. Pingback: Eksperimen | The Web Logs of Purbo

  18. Assalamualaikum… Pak Purbo

    Dalam perencanaan gedung saya, untuk beban kombinasi akibat gempa (respons spektrum) yang telah saya buat tidak ada muncul beban untuk kombinasi di hasil analysis di tabel “select load case” yang muncul hanya pengaruh kombinasi beban mati dan hidup saja? Saya menggunakan mass source yang ke-3, karena beban mati tambahan di pisahkan! mhon atas perhatiannya, terimakasih…!!

    • Wa’alaikumsalam, keduanya sebetulnya sama, yaitu beban mati (dead load). SUPERDEAD maksudnya super-imposed dead load alias beban mati tambahan di luar berat sendiri (misal finishing pelat lantai). Namun demikian itu sekadar perbedaan penamaan/istilah saja, pengaruhnya hanya jika akan digunakan desain otomatis menggunakan code bawaan program. Sebenarnya tidak masalah semua beban mati dimasukkan sebagai tipe DEAD, tinggal penyesuaian self-weight multiplier agar tidak terdobel.

  19. Thanks ilmunya. Setelah lama mencari penyebab momen terlalu besar akhirnya sekarang ketemu juga.
    Bisa lanjut tahap penyelesaian TA nih.
    Salam.

    • Kalau memasukkan beban lewat user load pilihannya bisa di pusat massa (dihitung otomatis oleh program) atau dimasukkan manual lokasi titik bebannya.

  20. Malam mas purbo, mau tanya nih perihal tugas kuliah perancangan gedung tahan gempa. Salah satu inputnya kan butuh pusat massa,rotasi dan eksentrisitas. Kalau di SAP itu memunculkannya gimana ya? sama cara menurunkan nilai T gimana ya?. Soalnya pemodelan saya di Mode 1, T = 3,1. Mode 2, T = 2,8. Mode 3, T = 2,2. Nuhun

    • Untuk pusat massa, bisa dilihat di file dengan ekstensi .out di folder hasil running setelah analisis selesai, dan pada model per lantai juga harus ada constraint tipe diafragma.

      Untuk menurunkan nilai T, bisa dilakukan dengan 2 cara: menurunkan/memperkecil massa struktur (terutama pada lantai atas), atau memperbesar kekakuan struktur. Cara pertama biasanya agak susah, untuk cara kedua bisa dengan misalnya memperbesar dimensi kolom, atau penambahan dinding geser.

      • oke mas purbo buat yg pusat massa sudah, buat yang T masih tetap besar ( Mode 1 = 2,9 ; gedung saya 3 lantai (gedung kuliah) kolom 500/700, balok 350/650 perletakan jepit. Apa mungkin geometri struktur saat pemodelannya?

      • Kalau melihat dimensi balok dan kolom cukup lumayan, untuk bentang berapa meter ya? Coba cek juga dimensi dan data material terutama modulus elastis terkait satuan yang dipakai, apakah ada yang keliru.

  21. pak saya kan baru mengerjakan skripsi tipe gempa dinamik dgn respon spectrum, diatas itu ada komentar ttg eksentrisitas. nah sap saya v15. tidak ada tombol override nya gmana ya pak ?

  22. Assalamualaikum
    Pak pur mau tanya… dibuku seri 2 kan diafragma lgs diblok buat semua lantai… nah struktur saya pada lantai 6 bagian tengang hanya ada kolom dan balok tanpa ada pelat lantai… nah joint yg buat pertemuan kolom dan balok tanpa pelat itu di blok ndak ya ? Terus pak… sewaktu saya sudah masukin diafragma trus saya blok semua trus saya buka joint constrainnya pada “choose constrain type add” kog masih body ya pak padahal tdnya sudah saya input diaphragm.. apa perlu saya ubah jd diaphragm ?? Tp sewaktu saya run hasilnya berbeda dengan awal..
    Mohon pencerahannya pak…

    • Wa’alaikumsalam, diafragma akan membuat satu kelompok nodal tertentu bergerak secara bersamaan, yang merupakan representasi dari perilaku struktur pelat lantai yang cenderung kaku pada bidang pelatnya (dari sisi analisis juga dapat mereduksi jumlah elemen matriks dan tentunya waktu running analisis). Jika pada satu elevasi tidak ada pelat lantainya atau berupa void yang cukup luas (sehingga juga kemungkinan akan ada beberapa kolom menjadi kolom tinggi/panjang) maka sebaiknya tidak perlu dibuat diafragma agar perilaku void dapat lebih terwakili.

      Untuk mengecek assignment diafragma jika lewat menu define constraint diklik/pilih dahulu kelompok constraint yang akan dilihat lalu klik modify, akan terlihat jenisnya. Alternatif lain cukup diklik kanan pada nodalnya saja, nanti akan tertera keterangan nodal tersebut masuk kelompok constraint mana dan tipe constraint (diaphragm).

  23. Assalamu’alaikum pak pur
    sebelumnya saya ingin mengucapkan taqabalallah minna wa minkum.
    menanggapi email bapak yang bilang “pengambilan nilai T berdasar penampang yang tidak retak adalah kaitannya dengan faktor skala rasio antara base shear dinamik dan statik (yang mana base shear dinamik minimal sebesar 85% dari base shear statik/ragam pertama). Perhitungan faktor skala tsb mengikutsertakan nilai C yang didasarkan atas nilai T, yang mana pada penampang utuh/tak retak, nilai T lebih kecil dan nilai C pada grafik respon spektrum cenderung lebih besar, sehingga ada kemungkinan juga faktor skala bisa lebih besar. Faktor skala tsb kemudian diterapkan pada model dengan penampang retak”
    Nah ini kebetulan hasil saya di SAP nilai statik lebih kecil dari nilai dinamis atau (sudah masuk syarat 0,85% Vstatik < Vdinamis) nah disini saya bingungkan hasil2 momen yang terjadi pada kolom dan balok pada penampang retak dan penampang utuh lebih besar untuk penampang utuh. sedangkan dalam hitungan balok kolom secara manual itu mebutuhkan momen. nah saya tanyakan kenapa klo memang itu untuk memperhitungkan apabila sudah tercadi cracking dll kenapa kog malah diambil gaya2 dalam yang lebih kecil. padahal bukankah klo seperti itu lebih aman diambil gaya2 dalam yang besar ? mohon penjelasannya pak.

    • Wa’alaikumsalam, terima kasih dan maaf lahir dan batin juga. Sepemahaman saya, sebenarnya kalau dilihat proses desain penampang beton misal seperti balok adalah memperhitungkan penampang retak, termasuk juga untuk lendutan, sehingga jika dibandingkan dengan output penampang utuh kemungkinan bisa menjadi over. Selain itu, penampang yang tidak retak adalah kondisi yang sangat ideal, yang pada kenyataannya di lapangan mungkin tidak akan bisa sepenuhnya terpenuhi, dalam arti jika terdapat retak maka gaya dan momen yang timbul juga tidak akan sebesar itu. Misalnya pun ada output sebesar itu, maka jika kemampuan terlampaui maka kemudian akan terjadi retak dahulu, yang mana kondisinya adalah menjadi seperti pada analisis dengan penampang retak.

      • Brti itu aman ya pak klo seumpama bisa mnjadi over. Karena saya takutkan yang terjadi dilapangan berbeda entah karena human error dll untuk kualitasnya.
        Jika saya bandingin momen maksimal yang sudah saya kombinasikan itu klo di penampang utuh bisa -230,564 sedangkan di penampang retak bisa -162,745. Semua lebih kecil dripda penampang utuhnya kecuali untuk gaya aksial kolom.

      • Kalau terjadi penurunan mutu, mestinya akan terjadi crack, yang kemudian mengakibatkan gaya-gaya yang bekerja menjadi lebih kecil. Struktur semestinya tidak langsung gagal/runtuh (terjadi retak terlebih dahulu), karena desain penampang berdasarkan penampang retak (beton tarik diabaikan).

      • Jadi ksimpulannya bagaimana pak klo hasil saya itu momen-momen yang terjadi lebih besar pada penampang utuh yang digunakan untuk perhitungan manual (hanya menggunakan gaya2 dalam), apakah tetap digunakan penampang retak ? Tetapi pada hitungan manual saya sudah menghitung beban tekuk pada kolom dan faktor pembesar momen pada kolom.

      • Perhitungan kapasitas dengan penampang retak adalah representasi dari kombinasi beton tekan dan baja tarik, yang mana gaya tarik dilimpahkan sepenuhnya pada tulangan (beton tarik diabaikan, karena toh nilainya kecil). Konsep ini cocok diterapkan pada struktur beton bertulang biasa, yang mana seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, penampang tidak retak merupakan kondisi yang ideal, yang pada kenyataannya di lapangan mungkin tidak akan bisa sepenuhnya terpenuhi. Sedangkan, konsep beton yang tidak retak lebih cocok diterapkan pada penampang beton prestress (prategang) terutama pada tahap service load yang diharapkan tidak terjadi retak dengan monitoring tegangan tarik yang terjadi selama masa konstruksi. Oleh sebab itu, maka lazimnya perhitungan analisis beton bertulang biasa (non-prategang) adalah berdasarkan pada penampang retak.

  24. assalamualaikum pak mau tanya.. gedung saya itu ada semi basement, nah pemodelan semi basement di SAP itu jika tidak dimodelkan bagaimana ya pak ? apakah boleh saya anggap bebas seperti portal biasa ?

    • Wa’alaikusalam, untuk lantai semi-basement (yang mana lantai basement sebagian ‘muncul’ di permukaan tanah alias tidak full tertanam/terbenam) jika tidak dimodelkan alias dianggap tidak ada tanah keliling yang mengekang saya kira masih bisa, toh perhitungan semestinya juga masih berada pada sisi yang lebih aman.

      • Ohh bgitu pak terimakasih… terus bagaimana klo itu full basement ,Juga masih amankah pak klo tdk dimodelkan ??? Kan memepngaruhi kekuankan..
        Terus klo spring itu seperti apa ya pak ? Kog ad teman yg bilang memakai spring. Saya sendiri belum paham spring di SAP itu sendiri..

      • Pengaruh basement pada pemodelan pada struktur atas sebenarnya adalah lebih kepada gaya lateral yang diterapkan hanya sebatas pada level di atas muka tanah saja. Kalau merunut misal pada SNI 2012 pasal 7.1.5, analisisnya dapat dipisah antara basement dengan struktur di atasnya, dengan struktur di atas level muka tanah dianalisis terlebih dahulu, lalu outputnya dilimpahkan ke struktur bawah (basement/fondasi). Kadang jika basement hanya rendah misal 1 lantai saja, maka bisa saja analisis menjadi satu kesatuan untuk mempermudah dalam analisis.

        Untuk spring kemungkinan maksudnya adalah untuk diterapkan pada dinding basement, yang mewakili dukungan dari tanah di sekeliling basement. Kalau hendak dimodelkan, hal lain yang harus dipastikan adalah bahwa tanah hanya bekerja menahan tekan saja, sehingga elemen spring juga perlu dikondisikan agar hanya menahan tekan saja, yang berarti analisisnya perlu secara non-linier (karena akan ada iterasi). Alternatif sederhana lainnya yang mungkin bisa dicoba adalah dengan memberikan kekangan/restraint arah lateral saja pada level muka tanah, misal pada kolom/balok tepi.

      • terimakasih pak.
        trus klo mengenai story drift dan P delta apakah dihitung pada penampang retak ? dan story drift itu untuk gempa yang statik equivalen apa dinamis ? atau dua2nya ?

      • Kalau membaca dari kalimat pada SNI 1726:2012 (beban/gaya desain) maka gaya gempa yang dipakai semestinya dari hasil analisis yang digunakan untuk desain, jadi kalau ada analisis dinamis (RS atau TH) sedangkan statik ekuivalen adalah untuk mengecek syarat base shear maka dipakai yang dinamis. Penampang jika dipakai penampang utuh, maka karena inersia belum terkurangi retak maka kemungkinan drift bisa kecil (masih memenuhi syarat), sehingga semestinya dipakai penampang retak, toh itulah kondisi yang akan terjadi nantinya.

  25. assalamu’alaikum pak
    pak mau tanya klo penentuan periode getar Ta<Tc<Cu.Ta nah klo analisis dinamis menggunakan RS kan kita harus menentukan periode getar dahulu. nah gedung saya 9 lantai nah klo ketemunya mode 1 itu lebih dari cu.Ta apakah brati gedung saya kurang kaku ? tetapi sudah bisa translasi rotasi

    • Wa’alaikumsalam, batasan pada persyaratan tsb adalah lebih kepada batasan untuk pengambilan base shear minimum pada pasal 7.8.1.1 SNI 1726:2012, yang mana bila waktu getar melebihi dipakai nilai maksimum dan bila kurang dipakai nilai minimum, yang selanjutnya nilai tsb digunakan untuk penentuan nilai Cs berdasar nilai waktu getar yang dipakai tsb. Jadi bukan untuk batasan kurang kaku atau tidak. Kalau masalah itu lain lagi pembahasannya.

      • maaf bapak nilai Cs itu kan klo T>Ts itu Cs= SD1.Ie/(T.R) klo T<Ts itu Cs=SDS.Ie/R
        nah pertanyaan saya yang pertama karena saya mau ngesap dinamis apakah nilai Cs itu terus dimasukkan di SAP sebagai input buat faktor pengali dimana seperti buku bapak seri 2 halaman 80 ? brati kita mengisi kolom di scale factor itu dengan ini Cs= SD1.Ie/(T.R)

      • Untuk nilai Cs tersebut, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, adalah untuk pengambilan base shear minimum sesuai pasal 7.8.1.1, sedangkan pada input SAP2000 nilai pengali adalah I/R x g seperti pasal 7.9.2 SNI 1726:2012.

    • dan terus bagaimana pak cara mengecek apakah mode 1 itu udah benar atau tidak ? terutama kalo gedung saya lantai 9 atau smapai lantai 12 atau 14 ??

      • Tentang ‘benar’ atau tidaknya sebenarnya relatif tergantung dari bentuk denah dan elevasinya. Secara umum, bentuk deformasi mode shape harus bergerak secara serempak untuk keseluruhan model strukturnya (dalam arti misalnya tidak ada bagian yang bergerak sendirian misal ada kolom/elemen yang terlepas yang menandakan pemodelan ada yang tidak pas); lalu bentuk yang diinginkan jika bisa adalah translasi (bergerak ke satu arah utama) pada mode awal, sebisa mungkin tidak torsi/puntir (dilihat dari sisi denah/atas). Pengecekan juga pada nilai waktu getarnya tidak terlalu besar/kecil tergantung bentuk denah dan elevasi (kalau ada pemodelan yang kurang benar, bisa saja nilainya jadi besar sekali misal 2379802 detik yang jelas tidak logis). Dapat juga memakai perkiraan pendekatan waktu getar seperti pada ketentuan pasal 7.8.2.1.

    • perkiraan pendekatan maksud bapak itu yang Ta= Ct.hn^x itu atau Ta=0,1N itu yah ? hasil saya Tc itu 1,4678 padahal Ta saya 1,054 dengan ketinggian 32meter dan cu.Ta saya hasilnya 1,476 brati T saya itu kemungkinan salah ya pak ??

      • Betul, kalau dengan perkiraan pendekatan tidak berbeda terlalu jauh semestinya tidak apa-apa. Sesuai pasal 7.8.1.1, nilai Tc yang masih di bawah batas cu.Ta dapat langsung dipakai untuk menentukan nilai Cs untuk perhitungan base shear V=Cs.W (dan jika Tc melebihi dipakai maksimum cu.Ta, jika kurang dari Ta dipakai Ta).

      • baik pak. untuk base shear yang buat statis equivalennya sudah pak. Trus yang saya tanyakan buat mode getar yang benar Ta = 1,054 dengan Tc = 1,4678 itu tidak berbeda jauh ya pak ? padahal terpaut 0,4

      • Seperti yang disebut sebelumnya, kalau dengan perkiraan pendekatan tidak berbeda terlalu jauh semestinya tidak apa-apa. Misal kalau hasil dari program ketemu 100an detik (berbeda jauh dari nilai Ta) maka yang demikian ini tentu perlu dicek ulang.

  26. Assalmualikum, Selamat mlm pak Purbo.
    Untuk mendesain gedung terhadap beban gempa, kita di haruskan pakai 7 buah data gempa kuat (MCER). maksdnya di sini yaitu data beban gempa dari sejumlah negara yang punya data gempa kuat pak? Jadi contoh saja di Amerika dengan Gempa El-Centro, dan di tambah 6 negara lain dengan Skala gempa sebesar El-Centro (begini maksd Pengertiannya begini pak?) bahkan yang terbaru sudah harus 11 data gempa. Jadi di Sap 2000 nanti kita harus menginput 7 buah data gempa kuat itu pada satu struktur yang akan kita desain. Atau menurut bapak bagaimana?

    Lanjutan pertanyaan di atas, Selain Struktur di cek terhadap 7 buah data beban gempa kuat (MCER), struktur juga di harapkan di desain terhadap gempa KECIL (SLE). Nah untuk SLE INI, datanya kita ambil di mana untuk diinput di Sap 2000 pak, mengingat kalau gedung kita sdh di desain sesuai Wilayah gempa kuat, kita juga harus mengecek terhdapa gempa kecil (SLE) . Sebab, biar gempa sedang tapi dalam rentang waktu yang lama dan lebih dekat ke Bangunan, maka Potensi kerusakan banyak lebih besar dari Gempa Kuat tapi jauh dari bangunan.

    • Wa’alaikumsalam. Untuk pembahasannya bisa dimulai dari ketentuan di pasal 7.6 SNI 1726:2012 terutama pada Tabel 13. Dari tabel tersebut tercantum beberapa jenis analisis gempa yang diperbolehkan tergantung karakteristik struktur dan kategori desain seismiknya. Secara umum terlihat bahwa struktur yang kompleks misal bangunan tinggi dan desain seismik yang berat (KDS D,E,F) relatif akan memerlukan analisis respon spektrum atau riwayat waktu. Gempa level MCER (risk-targeted maximum considered earthquake) merupakan gempa dengan kala ulang 2500 tahun dengan kemungkinan terlampaui 2% dalam 50 tahun, sedangkan SLE (service level earthquake) memiliki kala ulang 43 tahun dengan kemungkinan terlampaui 50% dalam 30 tahun. Secara umum analisis dengan gempa MCER akan memerlukan analisis yang lebih kompleks seperti analisis riwayat waktu (time history) yang mana jumlah rekaman gempa yang dipakai dapat mengacu pada Pasal 11.1.3 dan 11.1.4 yang juga akan masih memerlukan faktor skala guna menyesuaikan dengan kondisi situs setempat, sedangkan untuk gempa SLE masih bisa menggunakan analisis spektrum respon (walaupun tergantung pada keperluan/kebutuhan juga). Demikian secara konsepnya.

  27. assalamu’alaikum
    pak mau tanya ttg automatic frame mesh dengan automatic area mesh itu bedanya apa ya pak ? apa sama2 dengan buat pemodelan pelat atau apa ya pak ? jd boleh dipilih salah satu ? trus klo seumpama dtengah pelat itu ada balok anak itu bisa langsung di automatic area mesh atau pakai automatic frame mesh trus pilih yang at intermediate joint

    • Wa’alaikumsalam, sesuai namanya peruntukan adalah masing-masing untuk pembagian elemen frame dan mesh. Automatic mesh hanya akan membagi elemen saat dilakukan analisis, sementara model fisiknya sendiri masih berupa satu kesatuan, berbeda misal dengan perintah divide frame atau divide area yang mana model elemen akan dibagi secara fisik. Kelebihan automatic mesh adalah jika jumlah pembagian elemen dapat diganti-ganti dengan mudah. Untuk masalah pelat dengan balok anak jika diinginkan ada pembagian pada posisi balok tersebut maka dipilih kedua elemen balok dan pelat lalu pada pembagian mesh pelat digunakan option mesh area base on points : intersections of straight line objects sehingga pelat bisa terbagi pada posisi balok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s