Tips Kerja Cepat (& Tepat) SAP2000 (Part 2 – Kerja Tepat)

Nah, ini dia topik inti dari judul posting ini. Lumayan panjang karena banyak bahasannya dan harus menyertakan beberapa tautan dan contoh-contoh, jadinya lama dan jadwal terbit juga meleset hehehe… Bagi yang belum membaca, sangat disarankan untuk berkunjung ke bagian Pendahuluan yang menguraikan latar belakang panjangnya tulisan untuk posting ini, sekaligus alasan pentingnya untuk mengetahui cara “kerja tepat” di SAP2000. Oke, berikut beberapa tipsnya guna mengecek dan lebih memastikan akurasi pekerjaan kita :

  • Angka + satuan

Jika pada bagian sebelumnya dibahas tentang pemasukan rumus secara langsung (agar tidak perlu menghitung manual atau harus membuka program lain), di sini akan diulas pemasukan input angka dan satuan secara langsung. Maksudnya? Misalnya Anda ingin memasukkan data kuat tekan beton, satuan default yang sedang aktif adalah dalam kN, m. Data yang Anda peroleh ternyata dalam satuan MPa, atau mungkin kg/cm2. Cara biasa untuk mengatasinya adalah dengan mengganti dahulu satuan yang aktif ke N, mm (untuk MPa) atau ke kg, cm. Alternatif lain, masukkan saja seperti ini dan tekan <Enter> :

Input akan diubah ke satuan yang aktif secara otomatis. Gampang kan, selain cepat juga bisa lebih akurat. Saat scrolling untuk mengganti satuan, bisa saja keliru, misalnya kgf, m salah klik pada kgf, mm (karena letaknya memang berurutan) tanpa kita menyadari. Contoh lain saat input dimensi penampang, misal satuan aktif dalam m sedangkan data dalam cm, daripada konversi ‘manual’ (alias hitung di awang-awang) yang kadang bisa salah, bisa langsung dimasukkan seperti berikut  :

Namun harap berhati-hati juga, jika pada angkanya terdapat desimal (misal 17,5 MPa) bisa muncul error, atau malah dianggap tidak terdapat koma. Untuk hal ini, disarankan memakai cara sebelumnya.

  • Tanya ke “Help

Saat memakai program, ada kalanya beberapa bagian dari interface yang tampil pihak pengguna merasa kurang jelas akan fungsinya atau penggunaannya, misal tentang keterangan isian pada saat input tipe beban (Load Case) di pembahasan Pendahuluan, tentang Self-Weight Multiplier.

Ketika kotak input Define Loads tampil, tekan tombol F1 pada keyboard. Otomatis akan tampil fasilitas bantuan (Help), yang juga akan langsung menuju pada bagian yang sesuai (Define Load Cases), sehingga pengguna tidak perlu susah payah mencarinya. Pada Help ini tersedia beberapa penjelasan tentang bagian-bagian input. Perhatikan kalimat pada penjelasan tentang Self-Weight Multiplier :

Normally a self-weight multiplier of 1 should be specified in one load case only, usually the dead load case, with all other load cases having a self-weight multipliers of zero.

Faktor pengali berat sendiri bernilai 1 cukup dimasukkan sekali saja (lainnya bernilai 0). Bila dicermati juga kalimat berikutnya, input faktor ini dalam dua load case berbeda bisa mengakibatkan berat sendiri terhitung dua kali, sesuai dengan penjelasan yang ditulis di posting terdahulu.

Intinya, kalau ada feature dari SAP2000 yang belum terlalu dipahami (terutama saat ada tampilan kotak dialog), bisa langsung pencet F1 untuk menampilkan Help yang langsung akan menampilkan keterangan pada bagian yang sesuai. Selain itu, manfaatkan juga fasilitas Search di Help untuk menemukan yang sedang dicari, misal tentang “shell”, “local axes”, “girder”, dll. dan akan ditampilkan beberapa link Help dengan topik terkait.

  • Baca petunjuk

Ini seharusnya menjadi PR atau tugas pertama saat mulai belajar SAP2000. Dari pabriknya program ini memang sudah dibekali dengan petunjuk penggunaan dan kawan-kawannya. Coba akses menu Help > Documentation… .

Daftar yang tampak dalam gambar tersebut merupakan dokumen-dokumen format PDF sebagai penjelasan dari program dan acuan bagi penggunanya. Untuk menampilkan dokumen yang dimaksud, bisa pilih pada judul dokumen lalu klik Display Selected Document, atau langsung klik dua kali. File dokumen juga bisa dibuka langsung pada alamat folder instalasi program (default di C:\Program Files\Computers and Structures\SAP2000 11\Manuals).

Acuan terutama tentu adalah “Analysis Reference Manual”. Mulai dari obyek elemen sampai analisis dinamik dalam SAP2000 dijelaskan dalam manual tersebut, sehingga sangat dianjurkan bagi pengguna untuk memahaminya, paling tidak untuk bagian yang sedang ditinjau, misal pembahasan untuk sumbu lokal elemen guna pembacaan output. Sebagai pembuka atau pengantar, baik juga untuk disimak “Introductory Tutorial”, yang menjelaskan cara pemakaian program secara singkat disertai contoh kasus sederhana. Tersedia pula dokumen verifikasi program di bagian “Verification”, yang merupakan perbandingan dengan hitungan manual untuk bermacam kasus, sebagai bukti ampuhnya program ini. Hehehe… ibaratnya seperti senjata, kalau senjata alias programnya sakti, penggunanya juga mesti tidak kalah sakti supaya dapat menggunakannya bukan?

  • Belajar dari contoh

Contoh yang dimaksud di sini adalah contoh langsung yang sudah disediakan oleh program, sehingga dijamin pasti valid dan tidak perlu ragu-ragu, walaupun mungkin memang belum semua kasus dapat tercakup. Ada dua macam contoh yang bisa diacu, yaitu dari Verification dan Example Problems. Untuk Verification yang dimaksud adalah sama seperti pada pembahasan butir sebelumnya, yang selain diakses dokumen rekapitulasi hitungannya, dapat juga diakses file input SAP2000 (ektensi .sdb). Verifikasi dibagi atas beberapa grup topik, misal untuk Frame, Shell, Cable, dll. Misal diambil contoh untuk file 2-009 (Plate on Elastic Foundation) yang termasuk kategori bahasan Shell.

Dalam tiap dokumen verifikasi, biasanya sebelum perbandingan hitungan manual, di atas bagian Conclusion dicantumkan nama file yang bersangkutan. Lokasi file ini seara default ada di folder C:\Program Files\Computers and Structures\SAP2000 11\Verification.

Model-model verifikasi ini memang terutama bertujuan sebagai pembanding dengan analisis secara manual, beberapa bahkan mengambil referensi dari acuan populer seperti Timoshenko, dll. Namun file tersebut dapat digunakan juga sebagai bahan acuan untuk pembuatan model atau bagian model yang memiliki karakteristik serupa. Misal pada pemodelan gedung dengan fondasi rakit, untuk bagian fondasi tentu dapat mengacu pada contoh verifikasi tersebut, misal untuk properties penampang pelat, atau assignment modulus subgrade sebagai modelisasi tanah.

Contoh yang kedua adalah dari Example Problems alias contoh-contoh kasus tertentu (dan termasuk penyelesaiannya) yang juga sudah disediakan pembahasannya. Contoh bisa diakses lewat fasilitas Help, di bagian Example Problems.

Tersedia 26 contoh kasus, yang semuanya mendemonstrasikan kemampuan analisis dari program, mulai dari tahap input sampai outputnya. Tinggal pilih contoh kasus yang mendekati / mirip, lalu ikuti langkah-langkah pemodelannya. Memang, contoh-contoh di sini semuanya menggunakan satuan US (in, feet, ksi), namun yang lebih penting adalah tahapan pembuatan modelnya, yang tentu bisa dijadikan acuan.

  • WWW

World Wide Web alias internet, tempat Anda berselancar di dunia maya sampai akhirnya ‘nyasar’ ke blog ini hehehe… Maksudnya, carilah juga referensi di internet, bisa yang official alias resmi atau tidak. Yang resmi tentu saja dari pabriknya sendiri (CSi), dengan alamat www.csiberkeley.com, atau bisa lewat menu Help > CSI on the Web… . Ada banyak technical paper dan video tutorial yang membahas feature tertentu dari program, gratis kok. Sebagian contohnya juga ada di halaman Download, yang penulis ambil dari situs tersebut, silakan dinikmati sambil dipelajari (kalau mau lengkapnya, langsung saja ke TKP alias lokasi). Wah, tapi kok versinya ndak sama dengan punya saya ya? Memang versinya sudah yang paling gres, tapi beberapa feature masih sama prinsip penerapannya, sehingga bisa tetap dipelajari (lebih baik daripada tidak ada sama sekali kan?).  Kalau referensi yang non-official? Salah satunya ya yang sedang Anda baca ini 🙂 … bisa juga melihat-lihat beberapa blog rekanan di bagian kanan bawah sidebar. Bisa juga berkunjung ke forum semacam di eng-tips.com. Sambil surfing, dapat ilmu, yes!

  • Cek input!

Setelah selesai membuat model nan ruwet plus rumit, kadang dengan pede-nya kita langsung klik saja tombol “peresmian” alias tombol Run Analysis. Lho, kan memang sudah jadi, terus mau diapakan lagi, donk? Alangkah baiknya jika sebelumnya melakukan pemeriksaan sekilas terhadap model, baik bahan, penampang, pembebanan dan assignment lainnya. Memang, penulis akui sendiri kadang malas juga untuk mengecek, enaknya ya langsung ‘run’ aja hehehe… Namun, terutama untuk model yang rumit, hal ini dapat menghemat sedikit waktu bila ditemui kesalahan input (dan langsung diperbaiki sebelum analisis), dibandingkan dengan harus mengulang analisis yang mungkin bisa memakan waktu cukup lama.

Untuk geometri model, bisa dilakukan dengan review per bidang (XY, XZ, dst.). Misal pada model gedung, contoh kasus balok yang biasanya digambar di bidang horizontal (XY) setelah dicek di bidang portal (XZ atau YZ)… eh, ternyata baru ketahuan ada balok yang kurang atau malah seharusnya tidak ada di tempat/bentang tertentu. Lakukan juga review tampak perspektif 3D, jangan lupa sambil diputar-putar kanan-kiri bawah-atas ya… Kadang bisa ketahuan kalau ada batang yang ‘kelebihan’, misal karena saat proses menggambar dengan fasilitas Replicate namun jumlah batang yang di-copy salah / belum diganti dan hasilnya ada batang yang nongol di luar bidang/grid yang didefinisikan sehingga tidak nampak saat di tampilan bidang vertikal.

Penampang elemen bisa dengan cepat dicek, dengan memanfaatkan fasilitas Extrude View (menu View > Set Display Options…). SAP2000 akan menampilkan tampak visual dari penampang batang, sehingga pada kasus tertentu bisa sekilas diketahui bila ada penampang yang belum sesuai, misal untuk bentuk, ukuran maupun juga penempatan sumbu lokal (sumbu kuat dan lemah) terutama untuk kolom. Aktifkan saja sekalian pilihan View by Colors of : Section (masih pada Display Options) agar ketahuan tipe batang berdasar warnanya.

Untuk model yang menggunakan template dari SAP2000 (misal membuat gedung dengan template 3D Frames), untuk batang-batang yang masih memakai section default (FSEC1) bisa dengan cepat dicek dengan memanfaatkan fasilitas Select. Akses saja menu Select > Select > Properties > Frame Sections… lalu pilih FSEC1 dan OK. Pada layar tampilan perhatikan sisi kiri bawah baris status. Jika muncul tulisan “… Frames Selected”, berarti tipe batang FSEC1 masih ada pada model.

Jangan lupa pula mengecek beban-beban yang sudah Anda pikulkan pada sang model iklan eh model struktur. Untuk menampilkan beban, akses menu Display > Show Load Assigns, lalu pilih Joint untuk beban pada joint dan Frame/Cable/Tendon untuk beban pada batang. Jika pada model juga ada beban pada elemen Shell, pilih Area untuk menampilkannya. Tahap selanjutnya tinggal pilih tipe beban yang ingin dilihat dan klik OK. Perhatikan bila tombol OK tidak aktif, berarti untuk tipe beban yang dipilih pada model tidak ada pembebanan tersebut. Misal untuk beban titik, saat dipilih beban LIVE tombol OK tidak aktif, berarti pada model tidak ada beban titik dengan tipe LIVE, sedangkan saat tipe beban DEAD tombol aktif, jadi ada beban titik tipe DEAD pada model. Ini juga bisa dengan cepat memeriksa apakah ada tipe beban yang belum masuk. Kesalahan yang umum adalah beban tergantikan secara tidak sengaja, misal pada suatu batang sudah diberi beban merata tipe DEAD (beban mati), kemudian akan dimasukkan beban hidup merata (tipe LIVE), namun saat input beban tipe beban lupa belum diganti (masih DEAD). Nah, saat ditampilkan beban tentu pada tipe LIVE tombol OK menjadi tidak aktif yang juga bisa memberitahu kita bahwa tipe tersebut belum ada/masuk pada struktur (akibat kesalahan tadi).

Periksa pula satuan pada beban. Memang hal yang sepele, tapi juga mungkin menjadi kesalahan yang umum terjadi. Misal satuan yang aktif dalam kN, akan dimasukkan beban dengan satuan Ton, namun saat pembebanan lupa tidak diganti atau disesuaikan. Maksud hati membebankan 1 Ton, jadinya cuma 1 kN, padahal seharusnya 1 Ton = 9,81 kN, wah hampir 10 kali lipatnya… jelas donk strukturnya pasti jadi aman banget, padahal…

  • Amati proses!

Kalau tadi dicermati inputnya, sekarang waktu analisis sedang berjalan (setelah tombol Run Analysis diklik) prosesnya sebaiknya juga perlu dimonitor, jangan asal langsung tahu beres aja hehehe… Itulah pula kegunaan dari adanya layar SAP Analysis Monitor yang akan setia hadir setiap analisis berlangsung. Amati tulisan-tulisan yang muncul saat analisis berjalan, juga setelah selesai analisis juga masih dapat di-review kembali sebelum klik tombol OK. Waduh, sudah terlanjur klik OK… Jangan khawatir, coba buka saja file bernama sama dengan nama file model tapi berekstensi .log (buka dengan editor teks seperti Notepad atau Wordpad) di folder/lokasi tempat file model tersimpan. Isinya ya tulisan-tulisan yang nampak di layar SAP Analysis Monitor saat running analisis tadi. Wah… alamat foldernya lupa keselip di mana ya… Oke deh, buka saja dari SAP2000 lewat menu File > Show Input/Output Text Files, otomatis akan langsung menuju ke folder yang alamatnya entah di mana tadi. Tinggal pilih nama file yang sesuai dengan yang dibuka dan klik Open.

Wah, tulisannya banyak banget tuh… plus pakai bahasa luar angkasa eh luar negeri lagi… Oke, paling tidak coba cermati apakah dalam deretan teks tersebut tercantum kata-kata seperti “Error” atau “Warning”. “Warning” merupakan peringatan akan adanya kekurangsesuaian dalam pemodelan yang menyebabkan analisis terganggu, namun demikian biasanya SAP2000 sudah memberikan alternatif penyelesaiannya sehingga analisis tetap bisa sampai tahap “complete”. Kalau “Error”, wah sudah parah tingkat kesalahan input pemodelannya, sehingga analisis lazimnya tidak akan bisa diteruskan (alias gagal).

Coba perhatikan gambar di atas yang sebelah kanan. Dalam analisis ditemukan munculnya pesan peringatan (warning), dalam kasus ini adalah analisis mode shape dengan jumlah mode yang dicari (lihat huruf B = 15) melebihi jumlah derajat kebebasan (degree of freedom, DOF) total (A = 12), sehingga SAP2000 otomatis membatasi jumlah mode. Pada gambar sebelah kiri, modelnya terlihat cukup sederhana, portal 3D dengan jumlah nodal bebas (atas) 4 buah, dan DOF arah 1,2,3 berarti total = 3 x 4 = 12. Angka inilah yang jadi batas maksimum jumlah mode yang bisa dicari (number of modes sought) pada kasus ini. Pintar ya programnya? Harap hati-hati juga, meskipun kemudian “Analysis Complete” tetap terpampang di layar namun sebaiknya tetap dicek biang keladi penyebab munculnya “Warning” tersebut.

Nah, kalau yang satu ini contoh yang “Error”. Bukan error contohnya lho… Maksudnya, contoh analisis yang menemui kesalahan alias error dalam prosesnya, dan akibatnya program “ngambek” alias gagal menganalisis. Silakan lihat gambar di atas. “Illegal load on element type”, ada pembebanan yang tidak sesuai dengan sifat elemen strukturnya. Yang mana tuh ? Cek gambar berikut :

Perhatikan gambar sebelah kanan, tipe elemennya adalah plane-stress alias elemen tegangan bidang. Artinya, pembebanan pada elemen tersebut juga seharusnya hanya ada pada atau sejajar bidangnya. Tapi coba lihat gambar yang kiri, bebannya kok malah tegak lurus pada bidang elemen, alias salah arah, jelas tidak sesuai dengan kapasitas elemennya. Mau ditunggu sampai kiamat pun jelas tidak akan pernah berhasil analisisnya hehehe…

Jadi, biasakan sebelum meng-klik tombol OK dengan pede, scrolling dahulu layar SAP Analysis Monitor sembari mencari tulisan “ *** WARNING *** ” atau malah “ *** ERROR *** ” (kalau ada, mudah-mudahan saja sih tidak ada hehehe…). Terutama harus dicek adalah untuk pesan “Warning”, karena analisis bisa cenderung selesai dan mungkin tidak diketahui, sementara untuk “Error” analisis bisa terhenti di tengah jalan sehingga lebih mudah dideteksi.

  • Cek output!

Nah, kalau dari hasil cek input dan saat analisis (tampaknya) sudah benar, sekarang perlu dicek pula untuk outputnya. Kok pakai kata ‘tampaknya’? Walaupun dari input sudah benar dan analisis nggak ketemu sama mas error atau mbak warning, belum menjamin hasilnya benar. Contohnya? Masih ingat dengan kasus kedua di bahasan sebelumnya kan, tentang contoh kedua (analisis portal dengan beban gempa time history). Input sudah masuk, analisis ok, tapi hasil keliru. Kenapa? Input rekaman gempa sudah masuk tapi belum di-assign ke analysis case yang akan diproses sebagai beban pada struktur. Kalau meminjam istilah salah satu dosen penulis, hasilnya jadi ‘rubbish’ alias sampah, tidak akan berguna karena salah 😦 … Indikatornya? Hasil output kombinasi non-gempa dan gempa tidak berbeda, sehingga (seharusnya) sangat jelas keanehannya, ada sesuatu yang terlewat atau terlupakan. Memang, untuk kasus-kasus lain mungkin tidak akan sejelas itu indikatornya. Misalnya, masih untuk contoh tersebut, keliru memasukkan nilai scale factor pada analysis case. Hasilnya akan keluar, dan akan ada perbedaan antara output kombinasi non-gempa dan gempa. Namun, hasilnya tetap saja salah karena faktor pengali tidak sesuai, yang (fatalnya) bisa jadi terlalu kecil dibandingkan dengan yang seharusnya terjadi. Kalau terlalu besar sih mungkin masih aman, tapi boros donk…

Sebagai perunut untuk mengecek output hasil analisis, salah satu hal yang mudah adalah dengan memeriksa respon struktur seperti lendutan atau gaya dalam. Untuk contoh pengecekan gaya dalam sudah terkandung dalam contoh model portal terdahulu. Untuk contoh cek lendutan, coba simak contoh berikut. Perhatikan bentuk deformasi struktur portal akibat beban pada pelat.

Wah… itu plat daknya kok malah jadi bergerak naik begitu ya, padahal teman-temannya (pelat lainnya) melendut turun semua. Ada setannya kali ya… ini dia setannya :

Bebannya arah gravitasi (ke bawah), tapi nilainya negatif (-1), hasilnya ya… jadi ke atas alias naik. Harusnya, nilainya tetap positif, atau bisa diganti memakai pilihan Z untuk direction. Kalau tidak dicek bentuk deformasinya, mungkin tidak akan terlihat kesalahannya, kan? Cara ini lumayan cepat dan mudah untuk pengecekan hasil analisis. Selain dari bentuknya, nilai deformasi juga sebaiknya dicek. Berikut contoh deformasi akibat beban gempa time history (maksimum) :

Wuih… displacement horizontalnya sampai 13 meter, bung! Apa nggak ambrol tuh gedung ya… Biang keladinya? Salah input nilai scale factor :

Bedanya dengan contoh terdahulu, yang ini maksudnya sudah benar akan dikalikan dengan nilai g = 9,81 kN/m2, namun salah memasukkan data desimal. Misal dalam system komputer pemisah desimal memakai simbol koma (,) namun dimasukkan input dalam SAP2000 dengan titik (.), maka akan diabaikan oleh program (demikian pula sebaliknya). Jadi jika dimasukkan nilai ‘9.81’ akan dibaca oleh SAP2000 sebagai ‘981’ (bukan 9,81 seperti seharusnya). Wow…

Sedikit tambahan untuk pengecekan gaya dalam, setelah selesai analisis bisa dicermati dahulu output pada salah satu batang, seperti balok dengan dimensi terbesar. Cek apakah gaya dalam yang terjadi sudah wajar. Jika ada keanehean, kemungkinan elemen-elemen lain juga akan ikut-ikutan jadi aneh (walaupun kalau sudah wajar belum tentu juga lainnya ngikut). Alternatif lain, misal untuk beton bertulang, bisa coba didesain salah satu yang terbesar tadi. Misal balok beton dimensi 30/60 momen ‘hanya’ 80 kNm dengan tulangan 2 D 19 kok sudah cukup, atau sebaliknya momen 850 kNm mau didesain sampai rasio tulangan melebihi maksimum juga nggak bakalan sampai. Memang bisa saja ada kemungkinan dimensi balok tidak memadai untuk struktur tersebut, namun sebelum bersusah payah mengganti dimensi-dimensi elemen lebih baik kalau dicek dahulu modelnya sendiri, bukan? Kalau modelnya memang ada kesalahan, mau diganti dimensi berapapun hasilnya ya tetap ‘rubbish’…

Untuk lendutan dan gaya dalam sebenarnya akan saling berkaitan, sehingga bisa dicek salah satu sebagai pembanding. Jika lendutan berlebihan atau terlalu kecil, demikian pula gaya dalam-nya. Output juga otomatis terkait dengan inputnya, jadi kalau ada output yang tidak wajar, pasti terdapat kesalahan atau kekurangan pada input, baik dari segi elemen model ataupun pembebanan (atau mungkin orangnya hehehe…).

  • Konfrontir cara manual

Jika memungkinkan, hendaknya hasil analisis di-cross check dengan hitungan manual, terutama untuk struktur sederhana seperti kasus simple beam di contoh terdahulu. Untuk struktur yang agak rumit pun sebenarnya masih bisa diterapkan, walaupun memang cakupannya akan terbatas. Ambil contoh portal kita terdahulu, coba amati momen maksimum pada salah satu batang tengah lantai kedua berikut.

Momen negatif maksimum akibat kombinasi 1,2 x beban mati dan 1,6 x beban hidup adalah sebesar 26 kNm. Ukuran balok adalah 20/30, bentang 4 m (ada balok anak antara), tebal pelat 12 cm, dengan beban mati luasan 1 kN/m2 dan beban hidup 2 kN/m2. Coba kita hitung sebentar dengan cara manual (balok jepit-jepit beban merata) :

Berat sendiri = 0,2 x 0,3 x 24 x 1,2 = 1,728 kN/m

Beban pelat = 0,12 x 2 x 24 x 1,2 = 6,912 kN/m

Beban mati luasan = 1 x 2 x 1,2 = 2,4 kN/m

Beban hidup luasan = 2 x 2 x 1,6 = 6,4 kN/m

Beban merata total = 17,44 kN/m

Momen negatif = 1/12 x 17,44 x 4 x 4 = 23,25 kNm (mendekati 26 kNm)

Memang tidak akan sama persis, namun selisihnya tidak terlalu jauh, sehingga model dan input sudah benar. Kalau angka di SAP2000 menunjukkan nilai jauuuh di atas atau di bawah nilai tersebut (misal cuma 5 kNm atau sampai 195 kNm), perlu dicek lagi model strukturnya. Tentu saja hal ini hanya untuk pemeriksaan cepat / awal saja, sebelum melangkah lebih jauh lagi ke sortir gaya dalam, desain, laporan, dst., jadi jangan keburu syukuran dulu kalau sudah oke hasilnya di sini hehehe… Untuk output yang lebih rumit (misal karena beban gempa) mungkin tidak bisa dicek secara langsung dengan cara manual, sehingga untuk kasus ini pakai saja cara perbandingan dengan kewajaran seperti yang diuraikan sebelumnya.

Oke, sampai di sini dahulu posting kali ini. Cukup panjang dan lama ya bacanya… apalagi waktu membuatnya hehehe… Yang penting kan tidak sia-sia Anda menongkrongi blog ini hanya untuk menunggu posting baru 🙂 Tunggu juga bahasan-bahasan selanjutnya, hanya di channel ini (kayak siaran program ya…).

Wassalam.

286 tanggapan untuk “Tips Kerja Cepat (& Tepat) SAP2000 (Part 2 – Kerja Tepat)”

      1. nah . kalo bentuk nya seperti greenfield tower yg tinggi nya sekitar 120 meter
        batang tekan saya rancang sependek mungkin , dalam arti jarak 1,5 meter saya kasi bracing
        pada saat cek kelangsingan nya ( yg kl/r 1
        atau langsung saja k = 1 ?

        apa joint di semua titik di truss bisa di anggap sendi pak ?

  1. nah , itu dia pak
    kan saya itung manual ok
    pas di sap dia overstrees , warning kl/r > 200
    dan di bawah nya kn ada cm B1 B2 K L Cb
    nah bagian k nya , k major k minor , k nya itu di atas 1 pak
    k major 5.1 k minor 3,3

    tetapi kalo saya ganti di overwrites nya , faktor k nya saya ketik 1 , dia pas seperti itungan manual

    nah , yang ingin saya tanyakan , k yg bener untuk truss tu yg k dari sap ( k > 1, pake kekakuan relatif ) atau k = 1 ?

    1. Kalau tidak diberikan masukan lain, program memang akan menganggap ujung elemen struktur sebagai jepit yang menahan momen (yang mana ini adalah setting default) jadi bisa dipastikan nilai k akan berbeda (besar), jadi bisa dilakukan dengan overwrite, atau mungkin coba diberikan release momen di ujung batang dan coba bandingkan apakah hasilnya berbeda.

      1. trima kasih pak
        saya pikir dengan model 3D truss uda otomatis release
        skarang uda nga merah lagi dia

        trus kalo mis #3 shear stress exceed maximum alowed , apa satu satu nya jalan besarin penampang ya pak ?

      2. Untuk elemen truss mestinya dominan adalah aksial, program memunculkan pesan tsb karena masih menganggap batang menahan shear (seharusnya tidak). Bisa coba setting property modifier saat define frame section faktor pengali kecuali aksial, massa dan berat lainnya dinolkan.

    1. Untuk frame beton, bisa coba diganti dahulu mutu sengkangnya, misal semula polos diganti dengan deform fy lebih tinggi. Perbesaran dimensi sebaiknya diambil sebagai jalan paling akhir saja. Bisa coba juga bandingkan dengan hitungan manual, karena sepengetahuan saya kadang hasil desainnya bisa lebih konservatif.

      1. trima kasih pak

        kalo melihat sni 2847 2002
        pasal 23.3(4(2))
        dimana gaya geser akibar gempa (Mpr) > gaya geser gempa + grafitasi (Mpr + q )

        pemahaman saya kebutuhan tulangan longitudinal bertambah karena syarat geser
        apakah memang demikian adanya pak ?
        mengapa demikian ya pak ?
        bukan kah gegagalan geser di antisipasi dengan tulangan transfersal ya pak ?
        maksutnya

      2. Terus terang kok saya agak bingung dengan pernyataan “gaya geser akibat gempa > gaya geser gempa + gravitasi” pada pasal terkait, mungkin yang dimaksud adalah gaya geser pada balok yang berasal dari Mpr ujung balok ditambah dengan beban gravitasi, sedangkan gaya geser pada kolom hanya dari Mpr ujung kolom saja, hal ini karena pada kolom tidak ada gaya lateral merata seperti pada balok.

  2. iya itu maksut saya pak
    misal nya di dapet kebutuhkan tulangan lentur 8D22 untuk m- dan 4D22 untuk m+
    setelah syarat lentur ok , pindah ke syarat geser
    nah di syarat geser tu kan mengharuskan
    Mpr > 0.5(Mpr+Vu)

    apabila syarat ini tidak ok , [ Mpr 0.5(Mpr+Vu)
    berati kita harus menambah jumlah tulangan longitudinal yg ada ?

    1. Ketentuan tsb adalah untuk menjamin bahwa kekuatan geser balok tidak hanya mampu menahan beban gravitasi saja, tapi juga berdasarkan dari kapasitas tulangan momennya saat mencapai taraf leleh/yield. Hal ini untuk memastikan bahwa kekuatan geser bisa lebih besar daripada kekuatan momennya, sehingga balok diharapkan gagal karena momen terlebih dahulu (bersifat daktail) daripada gagal geser yang bersifat getas dan tiba-tiba.

  3. Assalamualaikum pak, saya minta bimbingan pak. Saya mendesain sebuah rangka baja untuk kanopi. Yang saya bingung adalah ketika frame sudah di assign misal Besi L 50.50.5, apakah saya perlu memasukkan berat sendiri lagi atau SAP sudah menghitung berat sendiri rangka tsb? Dan jika saya perlu memasukkan berat sendiri, menggunakan satuan apa? saya setting kgf, m, C. Mohon bantuannya bapak. Terima kasih

    1. Wa’alaikumsalam, secara kaidah struktur truss (rangka batang) semua beban diberikan hanya pada nodal, namun demikian jika berat sendiri struktur dibandingkan beban mati tambahan seperti atap dan beban hidup atau beban hujan (bisa dilihat lewat reaksi tumpuan) relatif kecil, maka bisa saja dihitung otomatis lewat berat sendiri (self weight multiplier).

  4. Aslmlkm pak purbo, pak kebetulan saya lagi memodelkan gedung sap 2000 dari DED yang di evaluasi SNI gempa 2012 dengan metode respon spektrum. dalam kasus ini gedung yang saya simulasikan partisipasi ragam tidak mencapai 90% padahal sudah menggunakan 100 mode. sum ux dan uy mentok di 80% tidak 90%. mohon sarannya pak ? kira – kira apa yang menyebabkan partisipasi massa gedung tidak mencapai 90%. terima kasih.

    1. Wa’alaikumsalam, berdasar pengalaman memang pada kasus tertentu agak susah untuk mencapai persyaratan, umumnya pada struktur dengan bentuk maupun elevasi bangunan yang tidak beraturan, termasuk misal ada beberapa dinding geser atau elemen serupa dengan penempatan yang kurang beraturan juga. Jika mode yang dimasukkan sudah cukup banyak kemungkinan sudah bisa mencukupi untuk output (pengaruhnya akan ke output misal momen dan defleksi), dalam arti perbedaan yang ada pada output masih sebatas sekian angka yang tidak terlalu signifikan.

  5. Assalamualaikum pak,
    saya rizky, mahasiswi yang sedang mengerjakan tugas dengan menggunakan program etabs 2015 pak. saya ingin bertanya mengenai beberapa hal pak. pertama, apakah yang harus dilaukan apabila muncul “detailer error: can not generate rebar”? apakah error tersebut berpengaruh terhadap time periode, atau momen maksimum yang terjadi?. kedua, mengenai metode pada respon spekturm, apakah perbedaan antara CQC dan SRSS? serta kegunaannya pak.
    Terimakasih

    1. Wa’alaikumsalam, saya jarang memakai ETABS jadi tidak bisa terlalu banyak menanggapi, namun kalau melihat dari pesannya kelihatannya ada masalah pada penulangan beton (rebar). Secara umum penulangan mestinya pengaruh ke desain, jika dipakai desain otomatis dari program, dan mestinya tidak berpengaruh ke waktu getar ataupun momen (analisis).

      CQC dan SRSS merupakan metode kombinasi ragam, yang pemilihannya ditentukan dari jenis ragamnya (SNI 2012 pasal 7.9.3), sedangkan dalam SNI 2002 pemilihan berdasar selisih waktu getar (pasal 7.2.2).

    1. Coba lihat di SNI gempa 2012 pasal 11.1.4 butir (a), nanti masih dikalikan lagi dengan g (gravitasi=9,81 kNm/s^2) untuk input di program.

  6. assalamualaikum pak purbo, pak bagaimana cara mencari nilai center of mass dan center of rigidity pada sap 2000 untuk titik eksentritas gedung. sudah di ubek – ubek tapi saya belum nemu pak. mohon pencerahannya pak purbo.. terima kasih

    1. Wa’alaikumsalam, untuk pusat massa, bisa dilihat di file dengan ekstensi .out di folder hasil running setelah analisis selesai, dan pada model per lantai juga harus ada constraint tipe diafragma.

  7. assalmulaikum pak purbo, saya analisis pakai time history namun finish dalam run analisisnya itu gk selesai2 pak, lama finisnya atau completenya. kira2 salah saya dimana y pak?

    1. Wa’alaikumsalam, coba dicek lagi input fungsi grafik time history dan juga setting pada load case-nya. Coba juga jika pada isian time step dengan nilai kecil/rendah dahulu. Mestinya analisis selesai jika step sudah mencapai nilai pada number of time step (tampilkan analysis monitor saat analisis berlangsung jika belum agar bisa memantau progres kemajuan analisisnya).

  8. selamat malam pak Purbo, untuk input gaya lateral da momen pada sap mengunakan respon spektrum, yang momen hitungannya bagaimana ya? makasih.

    1. Saya kok kurang paham, “input gaya & momen memakai RS” maksudnya bagaimana? Kalau input analisis RS memakai grafik hubungan waktu getar alami dan spektral percepatan, sedangkan untuk input gaya lateral gempa maka alternatifnya dipakainya dengan metode statik ekuivalen.

  9. Assalamu’alaikum master saya mau tanya kenapa ya pada perhitungan beban gempa statik yg saya inputkan dari etabs ke excel, untuk mencari nilai koordinat pusat massa yg didapat dari nilai rotasi kurang nilai eksentrisitas rencana(ed) hasilnya yg didapat nilainya minus bukan plus, contoh hasi koordinat pusat masssanya = -4.00072 ? tolong pencerahannya master

    1. Wa’alaikumsalam, tanda tersebut semestinya hanya menunjukkan posisi relatif dari titik eksentrisitas, misal kalau x minus berarti posisinya di kiri dari titik pusat massa (asumsi x positif ke kanan), dst.

      1. pak setelah saya teliti saya masih belum bisa mengerti, saya cerita dulu cara perhitungan yg saya pakai. Saya diajarin ama orang bahwa penginputan beban gempa ke model penggambaran yg kita buat di etabs yaitu pada titik koordinasi pusat massanya, dan letak(nilai) koordinasi pusat massa didapat dari nilai pusat rotasi kurang nilai eksentrisitas rencana(ed). Misal beban gempa yg kita inputkan di titik x = 6 dan y = 10(karena nilai koordinasi pusat massa pada titik-titik tersebut). Agar dapat mengetahui dimana letak titik-titik tersebut maka kita menggunakan sumbu global x dan y sebagai patokan, titik awal adalah titik 0. Namun dalam pengaplikasiannya nilai koordinasi pusat massa yg saya dapat misal di titik x = 10 dan y = -4 nahh disitu saya bingung kalau pada sumbu y titiknya adalah minus maka kita tidak bisa melakukan penentuan koordinasi pusat massa dong karena titik awalnya adalah 0.
        Gimana nie pak tolong pencerahannya

  10. Assalamu’alaikum pak purbo saya mau tanya jika nilai koordinasi pusat massa, bentuknya minus itu gimana apakah adakah yg salah, misal nilai koordinasi pusat massanya = – 7.0002 kN ?

  11. Maaf pak mau numpang tanya, untuk medesain struktur baja tentunya perlu perlakuan khusus terkait sambungan yang dilakukan. yang ingin saya tanyakan untuk release batang yang perlu di lakuakan realese apa ya?

    terimakasih

    1. Untuk release disesuaikan dengan tipe sambungan dan jenis struktur bajanya. Misal untuk struktur rangka batang (truss) seperti kuda-kuda atap atau rangka jembatan umumnya dapat dianggap sebagai sendi pada ujung batang sehingga diberikan release momen. Pada struktur portal (frame) perlu diperhatikan tergantung sambungannya, ada sambungan momen/rigid/kaku sehingga mungkin tidak perlu release, contoh seperti di sini. Ada juga sambungan geser yang tidak menahan momen (contoh seperti ini), yang mana pada jenis sambungan ini dapat diberikan release momen. Pemilihan apakah sebagai sambungan menahan momen atau tidak tentu perlu diselaraskan dengan detail pada desainnya nanti (atau dengan desain yang ada jika itu adalah evaluasi bangunan eksisting). Pada struktur portal, umumnya sambungan balok-kolom bisa berupa sambungan momen, dan sambungan balok induk dan anak/sekunder dapat berupa sambungan geser (namun sekali lagi harap diingat bahwa perlu disesuaikan dengan desainnya karena bisa saja berbeda untuk tiap kasus).

  12. Assalamu’alaikum Pak Purbolaras,saya ingin bertanya mengenai hasil run setelah permodelan struktur gedung dibuat.pada awalnya setelah saya modelkan dan run(belum input beban tambahan apapun) ada kolom yg lompat2 dan sudah saya perbaiki hingga tidak ada yg lompat lagi,saya cek semua elemen dari seluruh tampak (X-Y,X-Z,dll) dan semua elemen terkoneksi.kemudian setelah saya run ulang ada suatu area yg balok dan pelatnya bergoyang lebih hyper dibanding yg lain,ada satu kolom yg tidak ikut bergerak,dan analysis terdapat tulisan warning.agar seluruh elemen struktur dapat bergerak stabil dan tulisan warning hilang adakah cara untuk menemukan bagian yang bermasalah dengan cepat?mengingat gedung yg saya modelkan terdiri dari 16 lantai(lt parkir P1-4,lt.5-16 kantor)+lantai atap dan lantai atap LMR struktur dari beton bertulang,sangat memakan waktu dan sulit untuk mengeceknya karena terhalang dengan elemen2 yg sudah dibuat,mohon pencerahannya,terimakasih Pak Purbolaras 🙏

  13. Setelah saya cek lagi ternyata tulisan warning tidak ada lg Pak,tapi elemen tetap ada yg bergoyang lebih hyper daripada sebelumnya dan ada kolom yg terlihat seperti tidak ikut bergoyang.
    Di hasil analysis menunjukkan:
    Total number of equilibrium equations = 12720
    Number of non-zero stiffness terms = 242268
    Number of eigenvalues below shift = 0
    LINEAR STATIC CASES
    Using stiffness at zero (unstressed) initial conditions
    Total number of cases to solve = 1
    Number of cases to solve per block = 1
    Linear static cases to be solve:
    Case: dead
    EIGEN MODAL ANALYSIS
    Case: modal
    Using stiffness at zero (unstressed) initial conditions
    Number of stiffness degrees of freedom = 12720
    Number of mass degrees of freedom = 6360
    Maximum number of eigen modes sought = 12
    Minimum number of eigen modes sought = 1
    Number of residual-mass modes sought = 0
    Number of subspace vectors used = 24
    Relative convergence tolerance = 1.00E-09
    Frequency shift (center) (cyc/time) = .000000
    Frequency cutoff (radius) (cyc/time) = -INFINITY-
    Allow automatic frequency shifting = yes
    Original stiffness at shift : EV= 0.0000000E+00, f= .000000, T= -INFINITY-
    Number of eigenvalues below shift = 0

    Number of eigen modes found = 12
    Number of iterations performed = 7
    Number of stiffness shifts = 0
    ANALYSIS COMPLETE
    Berdasarkan hasil diatas kira2 hasil analysis struktur bangunan saya ada yg bermasalah apa tidak ya Pak?ada tulisan INFINITY dibeberapa bagian,terimakasih 🙏

    1. Tahap pengecekan memang salah satu tahap yang membuat malas, pinginnya langsung running, selesai, dapat output, diproses, bikin laporan, lalu dapet THR. 🙂 Namun demikian tahap ini memang penting untuk menghindari kemungkinan kesalahan yang kalau baru disadari belakangan jadinya bisa bikin lebih pusing lagi. Perhatikan bahwa ketika tidak ada warning, belum tentu langsung lulus. Untuk membantu pengecekan, bisa dilakukan salah satunya dengan variasi metode tampilan. Misal dengan memeriksa per denah lantai, atau per portal. Bisa juga dengan pembatasan view (view > set limits) bisa ditampilkan elemen untuk misalnya elevasi tertentu saja. Cara lain dengan memilih dahulu satu atau beberapa tipe balok/kolom, misal kolom K1 adalah kolom luar, kalau setelah dipilih section K1 lalu ditampilkan view > show selection only ternyata terdapat kolom K1 ada di sebelah dalam maka bisa langsung terlihat dan diperbaiki.

      Kalau menilik kasus yang ada, kelihatannya waktu getarnya ada keterangan infinity. Yang jelas bukan karena kebanyakan nonton Infinity War, tapi ada sesuatu di modelnya. Coba dicek goyangan mode pertama seperti apa, atau juga lendutan akibat berat sendiri, coba dicek juga materialnya. Untuk struktur gedung umumnya waktu getarnya hanya berkisar satu digit (dalam detik). Perhatikan juga kalau dalam pemodelan ada penggunaan elemen khusus misal spring, atau suatu elemen dimodelkan dengan modifikasi modulus atau kekakuan, itu juga perlu berhati-hati dalam penerapannya.

      1. Ooh begitu ya Pak,jujur saya pertama kali memodelkan struktur gedung 16 lantai yg fungsinya sebagai tempat parkir bertingkat(P1-P4) sekaligus kantor(lt.5-16),ada 2 lagi pertanyaan saya Pak,apabila di denah struktur kolom letaknya tidak selalu pada as(ada kolom yg hampir mendekati as) dan tidak beraturan letaknya,lalu ada balok yang tidak tepat bertemu pada inti kolom,apakah dipermodelan harus dibuat teratur dan rapi serta selalu bertemu inti balok dengan inti kolom?misal ada satu kolom berdimensi 0,4mx0,8m bertemu dengan balok berdimensi 0,4mx0,4m(titik temu di sisi kolom 0,8m) didenah letaknya tidak bertemu di tengah sisi yang 0,8m tapi di salah satu ujungnya,apakah saya harus gambar sesuai di denah atau saya harus tempatkan di inti tengah sisi 0,8m?soalnya saya menggambar mengikuti denah,balok miring,saya gambar miring juga,balok tidak bertemu sentris dengan kolom saya gambar juga sama,saya rasa permasalahan saya dipenempatan pertemuan elemen2 struktur.Ditunggu pencerahannya dan terimakasih Pak Purbolaras 🙏😊

      2. Untuk pemodelan kolom dan balok yang tidak segaris, dapat digunakan option insertion point (pilih batang lalu lewat menu assign > frame). Cara ini untuk menentukan letak posisi elemen balok atau kolom bisa rata ujung tepi, sentris, dll.) dengan default di middle center, selengkapnya bisa coba lihat di sini atau mengikuti manualnya. Untuk mengecek, tampilkan bentuk extrusion (pilih extruded view di view > set display options) di layar utama.

  14. Terimakasih pencerahannya Pak Purbolaras 🙏😊,setelah saya coba teliti terus sekarang periode getar fundamental model struktur saya :
    Mode 1 T= 2,522954
    Mode 2 T= 2,190102
    Mode 3 T= 1,977686
    Mode 4 T= 0,893349
    Mode 5 T= 0,668257
    Mode selanjutnya terus menurun…
    Apakah periode getar fundamentalnya ini tergolong baik dan normal?dan bagaimana makna angka pada setiap mode terhadap keadaan struktur yang dimodelkan Pak?lalu,apakah periode getar fundamental ini T-nya harus selalu satu digit untuk pemodelan semua jenis struktur(struktur dari beton/baja,seperti gedung,jembatan,dll) atau ada ketentuan lainnya?Mohon pencerahan dan ilmunya lagi Pak Purbolaras 🙏😊

    1. Secara sekilas sepertinya sudah normal, dari sisi nilai waktu getar saja. Perlu dilihat juga bentuk defleksi terutama untuk mode rendah/awal (terutama mode 1) untuk lebih pasti, asal tidak ada elemen yang terpisah misalnya dan bentuk defleksi bisa dominan translasi kemungkinan besar sudah bisa dilanjutkan. Mode pertama (fundamental mode) akan menjadi perhatian karena mode tersebut adalah yang akan paling mungkin terjadi, sehingga misal pada gedung diharapkan bisa didominasi translasi. Secara umum memang tergantung dari strukturnya dan juga tipe pembebanannya (misal pada jembatan atau balok bentang panjang, mode 1 akan cenderung getaran arah vertikal), namun kalau nilainya terlalu ekstrem (besar sekali atau kecil sekali) maka dapat menjadi petunjuk kalau ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Untuk lebih detailnya akan lebih baik kalau Anda pelajari tentang analisis dinamik (structural dynamics) sebagai dasar pemahaman. Misal salah satunya adalah prinsip bahwa waktu getar alami struktur diusahakan agar tidak mendekati periode beban luar (misal vibrasi mesin) agar tidak terjadi resonansi, dan hal2 lainnya.

  15. Oia Pak,kalo Allow Automatic Frequency Shifting yes/no yang tertera pada hasil analisis itu maknanya apa?dan pengaruhnya terhadap permodelan struktur untuk apa ya?Terimakasih

    1. Untuk parameter tersebut, menurut manual program, dapat berguna untuk mempercepat analisis dan juga terhadap akurasi, terutama salah satunya pada struktur yang besar dan jumlah mode yang diperhitungkan banyak. Secara default, dan juga untuk struktur yang umum, kiranya dapat dipakai parameter yang ada tersebut.

      1. jadi sebaiknya Automatic Frequency Shiftingnya di set No,begitu Pak?oia,saya juga ingin bertanya apabila gedung saya memiliki lantai tanjakan parkir ke atas dengan elevasi sekitar 1 meter diatas titik 0 sumbu Z(elevasi lantai tanjakan parkir lebih tinggi daripada dasar kolom karena ada semacam timbunan)itu memodelkan/define element timbunan tanah atau landasan kendaraan dari elevasi 0 ke elevasi 1 meter bagaimana ya Pak?mengingat itu bervolume dan bentuknya tidak petak seperti pelat atau apakah dasar lantai tanjakannya hanya perlu dikasih perletakan jepit2 saja agar kaku?Terimakasih

      2. Bisa dipakai defaultnya saja dahulu. Untuk masalah perbedaan elevasi, mungkin perlu diperjelas dulu apa maksudnya elevasi kolom dasar di 0 m lalu ada timbunan 1 m untuk lantai parkir, lalu ramp/tanjakan ke lantai di atasnya mulai elevasi 1 m tersebut? Jika memang demikian pemodelan tumpuan dasar ramp bisa cukup sebagai tumpuan sederhana saja namun tidak pada posisi denah kolom (agak digeser sedikit) agar tidak mempengaruhi gaya pada kolom.

  16. Iya benar Pak,persis spt itu yg saya maksud,hehe,berarti dikasih jepit2 saja sdh cukup ya?tidak perlu dimodelkan macam2,saya sangat berterimakasih sekali atas ilmu dari Bapak melalui buku2 SAPnya dan tanggapan langsung melalui kolom komentar ini,sangat ditunggu buku seri 3 nya Pak 🙏😊 seri 1 dan 2 nya alhamdulillah sudah punya,pertanyaan terakhir dong Pak,maaf nih banyak nanya,masih terus belajar soalnya,hehe,menu show virtual work diagram itu sebenarnya menginformasikan apa ya Pak?kekuatan strukturkah?apakah jika suatu batang berwarna merah sudah pasti strukturnya tidak kuat dan harus ganti dimensi?bagaimana jika lendutannya kecil tapi dalam virtual work diagram menunjukkan warna merah?terimakasih banyak Pak Purbolaras,mohon ilmu dan pencerahannya 🙏😊

    1. Secara sekilas virtual work menyatakan jumlah persentase energi yang ada pada satu elemen tertentu terhadap jumlah energi total struktur, dengan energi tersebut berkaitan dengan gaya yang bekerja dan deformasi pada elemen struktur. Nilai yang besar merupakan indikasi elemen tersebut dominan dalam menahan beban yang ada sehingga juga akan paling berpengaruh pada struktur jika dilakukan perubahan misal dimensi dll., dan demikian pula sebaliknya. Warna hanya menunjukkan nilai persentase tersebut dan bukan merupakan indikasi aman atau tidaknya struktur. Rasio interaksi antar gaya (yang dapat dipakai sebagai indikasi keamanan elemen) ditampilkan tersendiri setelah desain struktur seperti cara yang diuraikan pada buku Seri 2. Untuk keterangan lebih detail mengenai virtual work dapat didalami pada literatur mengenai mekanika bahan tentang metode kerja virtual (kalau tidak salah disebut juga energi regangan atau semacamnya).

      Terima kasih juga sudah membeli buku-buku kami semoga bermanfaat, untuk Seri 3 sedang tahap finalisasi mudah-mudahan bisa segera terbit, juga sedang disiapkan judul lainnya. 🙂

      1. Semoga seri 3 bisa dikeluarin tahun ini Pak, saya selalu memantau blog bapak untuk menunggu informasi buku seri 3nya.

      2. Terima kasih, seri terbaru sedang tahap finalisasi, mudah2an sudah bisa terbit dalam waktu dekat. Sedang disiapkan juga buku lainnya tentang perencanaan, semua nanti pasti akan diumumkan di sini kok. 🙂

  17. Assalamu’alaikum Pak Purbolaras,saya ingin bertanya tentang topik lain tp masih seputar SAP,hehe.saya mau mengetahui kinerja batas layan dengan data2 dari hasil analisis response spectrum SAP,bagaimana tahapannya ya Pak?beberapa parameternya kan displacement UX UY tiap lantai,simpangan antar tingkat,dan faktor skala,nah untuk memunculkan parameter tersebut di SAP bagaimana ya pak?mohon pencerahannya Pak,terimakasih 🙏😊

    1. Wa’alaikumsalam Wr. Wb., untuk displacement lateral dilihat dari tabel output bisa diambil nilai terbesar untuk tiap lantai. Agar mudah bisa dipilih/select satu lantai tertentu lalu ditampilkan outputnya sehingga didapatkan displacement khusus untuk lantai tersebut. Output tersebut selanjutnya dipakai untuk menghitung simpangan antar tingkat (dihitung manual). Faktor skala dibaca dari output base shear (base reaction dari structure output saat menampilkan tabel data output) yang dibandingkan antara output RS dengan base reaction statik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.