Halaman ini khusus ditujukan untuk para penggila dan penggemar program analisis struktur SAP2000, hasil karya Prof. Edward L. Wilson keluaran pabrik CSi (Computers and Structures) yang bermarkas di California, Amerika sana. Buat orang teknik sipil (khususnya bidang struktur) pasti sudah tidak asing lagi dengan program ini. Topik-topik yang diulas di sini akan membahas seputar masalah program tersebut, sebagai ajang sharing dan juga diskusi. Harap dicatat pula bahwa halaman ini sebenarnya hanya memuat link-link ke posting yang ‘berbau’ SAP2000 yang ditulis di halaman depan (utama) blog. Pertama penulis memang ingin memuat langsung tulisan di sini, namun bila dipikirkan lagi khawatir tulisannya menjadi bertumpuk-tumpuk (dari pertama sampai terakhir) menjadi puanjaaaaang (belum termasuk kalau ada comment…). Kasihan pembacanya, harus scrolling dari atas sampai bawah… Jadi, Anda bisa menemukannya di halaman depan juga, atau di halaman ini (terutama untuk posting lama).
Lho… kalo program-program lainnya gimana? STAAD, Etabs, SansPro, dll. pada ngantri tuh… Harap maklum, penulis sudah terlanjur familier dengan program ini dibanding lainnya, jadi (sementara) program inilah yang nongol di halaman ini. Selain itu diharapkan topik yang dibahas juga bisa lebih berbobot, dibanding membahas program lain yang penulis sendiri belum terlalu ‘akrab’. Ibaratnya fasihnya berbahasa Inggris, coba-coba ngomong bahasa Italia atau lainnya yang baru < 30% paham, bisa-bisa belepotan jadinya hehehe… So, let’s begin !
Pingback: Grand Launching ! « The Web Logs of Purbo
kok nddak nambah2 ya? hehe kalau saya usul bikin aja forum mas. penulis bisa dari siapa saja
Terima kasih atas sarannya. Hehehe… ini bahan2 berikutnya sedang digodok, tunggu aja… maaf kalo agak lama karena kesibukan pribadi dan memang agar postingnya juga bisa berkualitas. Usulannya cukup bagus, utk sementara kalau mau berdiskusi juga boleh lewat comment.
Nanya mas, kalau memodelkan concrete wall apa bisa langsung keluar luas tulangan mas (sebagaimana column+beam)? gimana caranya ya?
Coba dari menu Display > Show Forces/Stresses > Shell, Component Type pilih yang Concrete Design, terus Component pilih Ast1 (intensitas tulangan arah sumbu lokal area 1) atau Ast2 (intensitas tul. arah sumbu-2).
bos numpang tanya, apa beda pier ama sprandel saat kita mendesain shear wall? makasi sebelumnya
Pier label/penamaan untuk elemen yang vertikal, sedangkan spandrel balok penghubung antar shear wall (horizontal). Bisa coba lihat di sini untuk tambahan keterangan.
Nanya mas popo, untuk bangunan high risk building kira2 apa saja yang perlu diperhatikan ya? misalnya kapan kita sebainya memakai shear wall, kapan dan dimana seharusnya ada dilatasi?
High risk building? Wah saya tahunya high rise building hehehe… Untuk shear wall banyak faktornya, misal masalah lokasi penempatan (tengah,core,tepi dst.), kemungkinan ada bukaan (opening), perbandingan pemikulan gaya lateral dgn framenya, dll. Beberapa hal utama yang perlu diingat a.l. bahwa fungsi utamanya adalah pemikul gaya lateral, dan harus menerus sampai ke fondasi (elevasi tidak boleh terputus). Silakan merujuk pada literatur2 saja untuk detilnya. Dilatasi terutama ditempatkan pada sambungan antar bagian gedung, misal pada gedung yang bentuk/denahnya tak beraturan (T,L,H).
Melanjutkan yang kemarinb mas Purbo. “Ast1 (intensitas tulangan arah sumbu lokal area 1) atau Ast2 (intensitas tul. arah sumbu-2)”. yang keluar kok bukan luas tulangan ya? malah kayak diagram merah kuning ijo. Kayk lampu lalu lintas hehe
Ya betul, warna-warni kayak pelangi… bagus kan? Berarti Anda benar mengoperasikannya… selamat !
…
Oya, luas tulangannya ya? Mousenya diarahkan ke elemen pelat warna-warninya, kan muncul angka, itu intensitas tulangannya. Di bawah layar juga ada pita warna dan angka2 kan, maksudnya itu warna tertentu mewakili kisaran nilai intensitas tulangan tertentu juga. Cuma untuk tampilan bentuk tabel kayaknya belum bisa (tidak ada daftarnya), jadi sepertinya yang versi ini belum full support untuk desain tulangannya (hanya bisa dilihat lewat tampilan grafik).
mr. popo pada sap 2000 sudah bisa belum mendesain spread footing.
Untuk fondasi menerus desainnya ya kita lakukan secara manual, di SAP setahu saya desain beton baru terbatas untuk balok atau kolom saja.
pak purbolaras. mana yang lebih baik antara menghitung manual beban terus di assign ke balok. atau melalu fasilitas assign slab+memberikan area load?
Sebenarnya dengan fasilitas uniform load to frame SAP otomatis sudah membagi beban ke balok-balok pendukungnya seperti metode amplop itu. Mau pilih yang mana terserah saja, memang cara assign slab bisa lebih cepat (kalo lihat di example problems pakainya juga cara itu). Memang akan ada perbedaan, tapi toh cara manual sebenarnya juga pendekatan saja kok.
pak purbolaras. jika kita sudah mendapatkan data material kayu. spt modulus elastisitas, angka poison ratio, de el el. apa bisa menggunakan SAP? apa program ini hanya utk material beton, baja, alumunium1?
Bisa saja, untuk material lain silakan tipe materialnya tinggal dipilih OTHER lalu diisikan nilai2 properties materialnya. Gampang kan…
cuman begini pak, sy msh ragu penggunaan utk material selain beton,besi dan alumunium. misalnya utk material bambu dgn kuat tarik yg mendekati besi plain apa ya berani ngasih tul bambu utk rumah tinggal? utk material kayu jg spt itu. ada sih teman yg bikin model sampai detail sekali. gording usuk de el el. jadi sudah kyk keluaranya max sj he he. menurut pendapat pak purbolaras gmn ya?
Lho kok topiknya jadi tulangan bambu…? Kamsudnya mungkin tinjauan dari nilai properties-nya ya… Kalau bambu memang ada yang kuat tariknya mendekati dengan punyanya baja (dari hasil pengujian lab), jadi ya memang nilainya segitu, walaupun kemudian untuk aplikasinya untuk hal tertentu (misal tulangan) kan ada faktor2 lain yang mempengaruhi (Catatan: pernah ada juga penelitian bambu utk tulangan lho…). Untuk model ya tergantung penggunaannya, kalo cuma desain sederhana (tinjauan makro) sih tidak perlu sampe detail, tapi utk penelitian atau tinjauan mikro ya mungkin perlu.
Bro, request tutorial yang ada elemen shellnya donk. makasih sebelumnya…
Ok bro… tunggu nanti ya bro… tengkyu…
Pingback: Happy New Year 2010 « The Web Logs of Purbo
Met siang pak, mau sedikit nanya nih sedikit mengenai teori mektek di sap. Bagai mana memodel elemen frame dengan beda EI.
Misalnya ada batang frame dengan EI dan 2 EI dimana memasukkan parameter2 tersebut??? yang kedua mengenai EA apa beda antara
keduanya??? bagaimana pula cara memasukkan parameternya??? EI dan EA itu pengaruhnya pada gaya2 apa pada frame tersebut??? Makasih pak.
Met siang juga… untuk input beda nilai EI, ya tinggal dibuat saja satu tipe frame section lagi yang E atau I-nya 2 kali dari frame lainnya (bisa define material baru dgn E 2x atau section baru I 2x-nya), sama caranya untuk EA. Pengaruhnya? Coba cermati rumus2 MekTek (lendutan, momen, dll.) kira2 kalo berubah E,A,I (makin besar / makin kecil) bagaimana nilai2 respon tsb. (lendutan, momen, dll.).
Mau menambahkan .
Dalam aplikasi EI yang berbeda diterapkan untuk bangunan tingkat tinggi dengan memperhitungkan gempa untuk bangunan rendah tidak perlu, untuk peraturan gempa terbaru 2002 dan 2010 untuk penampang akibat gempa ada reduksi di moment inersia crack/retak untuk balok = 0.35 dari penampang utuh dan untuk kolom = 0.7 dari penampang utuh.
Dalam praktek sebenarnya memang tidak perlu input beda2 cukup masukkan material dan section saja, yang ditanyakan di atas adalah cara assignment batang dengan EI berbeda2.
“…untuk peraturan gempa terbaru 2002 dan 2010…” , sudah keluar ya yang terbaru (2010)? Saya malah belum tahu, bisa di-share mungkin infonya…
Wah kebetulan ini ada forum tanya2 bebas tentang SAP, mau nanya nih pak bagaimana mendesain frame dengan dua material berbeda property pak (keduanya di gabung). Misalnya kayu dengan baja. Kayak pelajaran mektek 2 gitu.Pusing saya pak hehe
Oh, itu kan tinggal pake inersia transformasi aja yang sudah gabungan antara E dan I nya, kayak di mata kuliah MekBan itu lho…
waduh gabungan gimana ya? kalau ada link nya bisa di share nih pak. Saya sambil ngubek2 juga nih. Pokoknya lanjutkan pak bagus nih blognya.
Di literatur kan mestinya ada, coba cari di buku2 ‘berbau’ mekanika bahan/mechanics of materials dan semacamnya, misal yg karangan pak Timoshenko, tentang bahasan momen inersia, namanya metode transformasi, bahan yang satu diekuivalensikan ke bahan lainnya jadi dianggap satu bahan dengan modifikasi dimensi.
Selamat sore mas. Nanya dikit nih. Untuk sambungan besi antar lantai itu letaknya dimana ya??? tengah2 atau dimana? makasih…
Met sore juga… maksudnya sambungan tulangan kolom antar lantai ya… prinsipnya diletakkan di daerah yang momen lenturnya kecil/nol, nah kalau pada kolom daerah itu di mana hayo… coba simak juga di sini atau di sini ya…
Kok beda pak ya??? saya kebetulan punya structure drawing kok ada di tengah ya lokasi sambungannya?? seperti gambar ini : http://img155.imageshack.us/img155/2240/sambungankolom.jpg Begitu pula desainnya shimizu (jepang) juga ada di tengah. Kok bisa beda2 ya???
sambungan lewatan untuk struktur tahan gempa, pengkangan begel juga ekstra. gimana tuh asumsi ujung atas dan bawah kolom struktur beton sendi? unstable
Untuk kolom sebaiknya sambungan ada di tengah bentang karena geser di kolom di tengah bentang mendekati nol ( coba lihat detail sambungan di kolom sesuai peraturan/ peraturan beton 1983)
http://www.nurilhuda87.wordpress.com
Maaf bukan geser melainkan moment.
Karena efek gempa lebih baik daripada di ujung. Terutama untuk high rise building.
Hal ini diterapkan pada bangunan Hotel Bumi Minang Padang 8 lantai yang telah terbukti masih kokoh diterpa gempa 3 kali yaitu 2005, 2007 dan 2009.
http://nurilhuda87.wordpress.com/gempa-padang-studi-kasus-hotel-bumi-minang/
Baca buku yang berjudul Perencanaan struktur beton bertulang tahan gempa oleh prof.ir rachmat purwono,msc
Oh kalau yang saya baca dalam buku tersebut berdasar SNI 2002. Setahu saya sih SNI 2010 baru keluar zonasi gempanya (website PU), sedangkan peraturannya sendiri masih berupa draft, jadi namanya sementara 201x, menunggu pengesahan (info dari seminar HAKI).
Mungkin gini mas Purbo, untuk asumsi sendi maka momen lentur nol ada di ujung kolom. Sedangkan untuk asumsi jepit momen nol ada di
tengah bentang. Sepertinya ada hubungan dengan pembahasan pak Wir di sebelah. hehe
Bagaimana dengan sambungan kolom seperti gambar berikut pak ( http://img36.imageshack.us/img36/656/proyeksebelah.jpg) ??? Untuk sambungan dengan berbagai asumsi (jepit/sendi) pada lantai 2
bukankah diagram momennya maximum semua ya??? Apa ndak bahaya tuh pak?
Bagaimana dengan sambungan kolom seperti gambar berikut pak ( http://img36.imageshack.us/img36/656/proyeksebelah.jpg ) ??? Untuk sambungan dengan berbagai asumsi (jepit/sendi) pada lantai 2
bukankah diagram momennya maximum semua ya??? Apa ndak bahaya tuh pak?
Wah kok banyak banget komennya bingung jawab yg mana dulu ni hehehe…
@ Asumsi sendi/jepit : memang akan berbeda bentuk momennya, tapi itu hanya berlaku pada tumpuan/dasar fondasi saja lho, kalo di lantai atasnya (pertemuan balok-kolom) otomatis akan menjadi/mendekati jepit sehingga diagram momen tipikal akan sama, maksimum di ujung2, mendekati nol (kecil) di pertengahan bentang.
@ Sambungan : prinsipnya memang tidak ditempatkan pada lokasi momen maksimum, atau tepatnya tidak pada lokasi dengan tegangan tarik maksimum. Kenapa? Karena daerah tarik akan cenderung retak sehingga lekatan beton dan tulangan potensial hilang dan tulangan mungkin akan bekerja sendirian, kalo pas ada sambungannya, bisa lebih rawan. Memang idealnya di tengah tinggi kolom, tapi… kan tidak harus melulu pada momen nol, jadi bisanya ya di daerah yang momennya relatif kecil, asal tidak pada maksimumnya.
saya pernah menjumpai gedung dgn kolom spt bentu huruf Y. yang sy tanyakan untuk frame cabang atas itu kita definisikan sbg balok atau kolom ya? makasih bos
Mungkin sebenarnya secara analisis akan termasuk kategori balok-kolom, artinya momen lentur masih dominan tapi aksial juga ada dan bisa cukup besar. Untuk model/desain ada baiknya dianggap sbg kolom jadi sudah ter-cover momen dan sekaligus aksialnya.
selamat siang mas Purbo
saya mau bertanya bagimana mencari nilai tulangan (As) pada elemen Shell.. ada literatur SAP 2000 yang menyatakan bahwa nilai As = (Mu/(0,8 * Teg BJ * 0,9 * d))
saya masih kurang jelas apa itu nilai d
apakah yang dimaksud adalah jarak dari serat terluar hingga titik berat tulangan seperti yang didefinisikan dalam SNI 03 2847 2002 ?
bagaimana tanggapan bapak.
Terima Kasih
Kok jadi tanya ke saya, bukan ke pengarangnya? Jadi bingung hehehe… Literatur SAP atau ETABS ya, karena saya juga ada buku ttg ETABS membahas hal serupa. Nilai d di situ yg dimaksud adalah hanya sebatas tebal pelat dikurangi selimut beton (kalau memang bukunya sama lho…).
Intinya rumus itu kan asalnya dari Mu = phi.Ts.z dgn phi = faktor reduksi lentur = 0,8 , Ts = gaya tarik tulangan = As.fy dan z = kopel momen yang di rumus buku tadi diambil penyederhanaan praktis = 0,9.d .
Mas Purbo, kalau misalnya salah satu frame terlihat overstress dengan tanda merah. Apa kira2 yang
akan terjadi dengan balok tersebut apabila kita terus memasangnya ?? Sebagai catatan luas tulangan
terpasang melebihi dari luas tulangan yang dibutuhkan. Hanya saja dimensi balok tersebut sepertinya kurang besar.
Dengan peringatan “O/S #45 Shear stress due to shear force and torsion together exceeds maximum allowed”
Saya lihat defleksi balok tersebut sebesar 6 mm. Apakah berbahaya??? dan sejauh mana bahayanya??? Mohon pencerahannya. Makasih
Yang namanya overstress ya berarti tidak aman kan? Mencermati pesan warning-nya, baloknya tidak aman terhadap geser (shear), bisa dicoba atasi dengan memperbesar dimensi balok atau mutu betonnya. Masalah defleksi dibandingkan dengan batasan defleksi ijin dari SNI Beton misal L/360 dgn L panjang bentang balok.
baca komentnya jadi pusing sendiri mas, dikit dikit ntar dipelajari deh, hee
met menjalankan puasa Mas
sukses selalu
Kalo gitu jangan dibaca, tapi dicatat aja, biar nggak pusing hehehe…
Wah dah bikin blog juga ya ternyata, mampir ah…
Met puasa juga & salam sukses…
benar tuh pak dcatat..hehe
drtd saya baca blog bapak trnyata bermanfaat bgt…
salam kenal pak..
ntar kalo ga tau bole nanya2 pak?/
hehe
Salam kenal juga, nanya boleh tapi jangan sulit2 hehehe…
Mas purbo mau nanya nih. Gimana cara ngakalin struktur dengan bentang panjang misalnya 9 meter gedung lantai 4 dengan kolom-kolom pipih (rata dinding).
Dan parahnya lagi posisi kolom berada pada sisi lemahnya. Pemilik gedung ngotot ndak mau ubah dimensi kolom diperbesar. Makasih mas.
Secara umum bisa memakai syarat material yang lebih baik misal beton (fc’) dan -terutama- tulangannya (fy). Kalau memungkinkan apa bisa didesain sebagai kolom komposit ya (profil IWF dicor beton), atao tulangan arah sb lemah dibundel jadi dua tulangan (asal masih dalam batas rho maksimum kolom).
Tanya komendan. Pada SAP versi baru untuk material besi ada dua pilihan A615Gr60 dan A992Fy50. Itu parameter2 ambil dari stnadard kode besi mana ya?
Kalau untuk di Indonesia yang paling mendekati itu pakai yang mana. Makasi komendan
A615Gr60 itu default untuk material rebar alias tulangan, trus yang satunya (A992Fy50) default material untuk baja profil. Supaya cocok dengan selera Indonesia tinggal sesuaikan saja nilai E dll. dengan yang ada di SNI baja kita.
Met siang, nanya nih. Bagaimana caranya bikin grid 3 D dengan cara memasukkan nilai2 x,y,z nya??? untuk uji patch test. Makasih
Lewat Define > Coord Systems atau saat awal membuat model baru pilih Grid Only.
mas purbo bikin jasa konsultasi struktur ndak? barangkali nanti sy punya problem. alhamdulillah sampai saat ini msh bs ditangani sendiri
Jasa desain ada, bendera sendiri juga ada bareng teman, silakan kalo mau order
Pingback: Happy Birthday ! « The Web Logs of Purbo
halo mas popo. mau nanya peraturan tegangan ijin geser plat nih. buat analisa punching shear
salam kenal pak purbo,
saya awam dgn sap,saya mau tanya dikit tentang “show deformed shape”, apakah itu yang di maksud dengan “gambaran ” ketika suatu gempa akan terjadi?struktur2nya bergoyang seperti yang di timbulkan oleh ” show deformed shape ” ?bagaimanakah cara menghilangkan efek itu ?? soalnya.. kalo kita hitung kekuatan balok/kolom wf secara manual …ok ( kuat ), tapi kalo kita hitung pake sap 2000… kolom/balok itu akan berubah warna menjadi “merah” atau overstrees/tidak kuat..salah satunya penyebabnya adalah efek “goyangan” default nya itu atau efek gempa “show deformed shape”.
Terima kasih pak purbo
Salam kenal juga…
Deformed shape = bentuk deformasi/perubahan bentuk struktur akibat beban. Beban apa? Tergantung load case yang dipilih/ditampilkan, kalo dipilih beban DEAD misalnya berarti nanti akan tampil bentuk deformasi akibat beban DEAD/mati. Kalo dipilih load case beban gempa, berarti tampilannya adalah deformasi akibat beban gempa.
“Cara menghilangkan”… saya kurang paham maksudnya, selama pada struktur ada/dikenakan beban gempa, ya pasti akan selalu ada/muncul bentuk semacam itu. Yang lebih penting adalah besarnya deformasi jangan sampai melebihi syarat misal dari SNI.
Untuk desain baja, coba cek apa sudah disesuaikan code/peraturan yang dipakai, metode ASD/LRFD, dan kombinasi yang dipakai untuk desain.
Kalau di SAP memang kolom diberi overstrength factor 1.25 karena memang SAP didesain untuk menahan beban gempa yang mempunyai konsep strong kolom and weak beam, jadi kolom diberi angka keamanan 1.25. Kalau untuk bangunan rendah dan tidak perlu didesain gempa pada besi dan beton kolom kekuatannya dibagi 1.25.
@deo: coba set analysis case nya di setting modal ‘dont run’
mas Purbolaras, kalau kita bikin model slab itu kita langsung bikin semua atau sebagian-sebagian? Misalnya model kita terdiri atas beberapa balok arah x misalnya 3 dan arah Y juga 3, kita bikin 1 model
plat atau kita bikin 9 buah plat. Makasih sebelumnya
Bisa per panel (9 buah) masing-masing, atau juga bisa langsung 1 luasan lantai (1 buah). Jika langsung 1 luasan lantai, jangan lupa diberi assignment automatic area mesh (based on points on area edges) agar nodal elemen pelat menyambung dengan nodal balok-baloknya.
malam mas,
untuk memasukkan model 1m x 1m pelat, ke-4 sisi disupport balok (beam slab model), (bukan flat-slab)
apakah cukup dengan memasukkan 4 support sendi di 4 titik?
Mohon bantuannya.
hutanami@mail.com
Sebaiknya pada sisi2 tepi pelat diberi tumpuan rol vertikal, dan di joint2 sekitar lokasi kolom diberi tumpuan jepit/sendi (pelat juga perlu diberi mesh/dibagi dalam pias2).
selamat malam mas…
saya orang awam di SAP 2000…
ada beebrapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan, berkaitan dengan program sap itu…
yg pertama, apa beda dari penggunaan shell thin dan membrane pada area section?kapan saya harus memakai salah satu di antaranya?
kemudian, pada assign>area load, apa beda penggunaan option gravity, uniform, dan uniform to frame??
makasih sebelumnya…
Selamat pagi… Untuk tipe shell bisa baca komentar di Kompilasi foto proyek (Part 1), ada yang pernah nanya serupa dan sudah dijawab, sedangkan untuk area load
kebetulan sedang disiapkan tulisan tersendiri dan akan segera terbit di blog ini, silakan tunggu tanggal mainnya…bisa klik di link berikut.sore mas,
sap2000, untuk memasukkan model pelat lantai 1m x 1m , ke-4 sisi di support balok (beam-slab model).
misal A(0,0) B(1,0) C(1,1) D(0,1), maka ada balok AB, BC, CD , DA.
Apakah untuk modelisasi cukup dengan membuat perletakan sendi di titik A, B, C D ?
terimakasih
Sebaiknya pada sisi2 tepi pelat diberi tumpuan rol vertikal, dan di joint2 sekitar lokasi kolom diberi tumpuan jepit/sendi (pelat juga perlu diberi mesh/dibagi dalam pias2).
wah, …mantap.., dapat respon cepat.
Mas, kalau satu panel pelat, katakanlah kordinatnya A(0,0) B(1,0) C(1,1) D(0,1)
Balok 4 buah, AB , BC, CD , DA.
Kemudian pelat kita divide mesh menjadi 8×8, berarti muncul titik-titik joint di sisi AB, BC, CD, DA.
Kalau di buat support di titik-titik joint sepanjang sisi AB, BC, CD, DA berarti Uz akan selalu = 0 (nol) ya Mas? Padahal Balok kan melendut.
Tutorial yang sejauh ini saya dapat selalu model Flat Slab tanpa balok. Yang ada, Flat Slab dengan kolom.
Bisa balas lagi ya Mas, apakah untuk beam slab , modelisasinya di SAP2000 perletakan hanya di titik sudut pelat lantai ?
Thx
Saran saya kan diberi rol vertikal. Rol vertikal akan mengakomodasi Uz, tapi Ux atau Uy tertahan (asumsi tahanan dari pelat di samping/panel sebelahnya). Ini asumsi saya jika memodelkan bagian pelat gedung keseluruhan. Kalau cuma memodelkan tinjauan satu panel (tanpa panel lain di sebelah2nya) cukup tumpuan bebas saja.
salam mas,
Dalam output sap2000 terdapat simpangan, misalkan untuk analisa struktur gedung simpangan yang terjadi dapat dilihat pada sumbu ZX didapat simpangan pada setiap portal. Pertanyaannya adalah mas simpangan yang diambil yang mana untuk menhitung kontrol simpangan atau priode getar struktur, apakah rata2 simpangan dari seluruh portal.
Terimakasih
Salam juga, diambil saja yang nilai maksimum dari beberapa portal tersebut (lewat bantuan tabel/Excel).
assalamu ‘alaikum mas purbo,
saya sangat awam dengan SAP 2000. Yang ingin saya tanyakan, darimana memulai belajar SAP 2000?..apakah ada buku yang bisa dijadikan referensi untuk pemula seperti saya?..kalo ada, mohon dishare yah mas..
terimakasih atas jawabannya.
salam
Wa’alaikumsalam… Untuk buku2 pembelajaran dasar saya kira beberapa buku yang ada di pasaran bisa Anda coba. Yang lebih penting sebenarnya adalah Anda juga mesti membaca manual programnya sendiri, supaya bisa lebih memahami program dan tidak sekadar bisa memakai saja (ada juga kok contoh pemakaian bawaan dari sono-nya, baik yang bentuk PDF maupun Help dalam program). Untuk metode belajar, saran saya bisa coba dengan cara bandingkan dengan hitungan manual juga. Pakai saja model sederhana kayak simple beam atau struktur statis tertentu seperti truss misalnya. Coba saja Anda otak-atik sana-sini dan bandingkan hasilnya, sehingga bisa paham sendiri apa yang mesti di-tuning di programnya.
EDIT : Telah terbit juga buku tutorial SAP2000 terbaru, klik link ini untk infonya
mohon maaf kalo pertanyaan agak menyimpang. Apa bisa ya memodelkan struktur komposit menggunakan ETABS/SAP? apakah harus dikonversikan dulu? atau langsung lewat section designer? sekali lagi maaf kalo pertanyaannya agak oon. Trima kasih
Sebelum saya jawab, perlu diketahui pertanyaannya sama sekali nggak menyimpang atau oon kok… Kemudian untuk penampang komposit bisa dipakai alternatif lewat General Section (nilai I,A, dkk. dihitung manual lalu diinput langsung, perlu dihitung sebagai nilai transformasi misal luasan baja diekuivalensi ke beton), atau dengan Section Designer (dibuat langsung dimensi penampang dan input sesuai bahannya).
mas purbo, saya sudah coba dengan section designer, hasilnya tidak rasional….
knapa demikian? pertama saya coba menggunakan beton bertulang biasa, ukurannya normal untuk gedung 47 lantai yaitu 1-1,2 x1-1,2 m…tapi menggunakan komposit yg didisain menggunakan SD, hasilnya jadi ngaco, bahkan kolom 2,1m x 2,1m sekali pun masih o/s. (entah apakah input saya ada yg eror kali ya)
nah mengenai general section ini lebih masuk akal…sedang saya coba, transformasi A, I, dan E saya masi bisa hitung…sedangkan terhadak kawan2nya masih terkendala, kekurangan literatur, ada saran literatur pak purbo?
Trima kasih banyak atas bantuannya, sangat membantu
Bisa coba lihat di dokumen pdf manualnya (Analysis Reference) hal 92-93, ada juga di buku SAPnya pak Wiryanto hal 16-17. Saran saya kalo ingin membuat perbandingan coba saja dengan model sederhana dulu misal portal 2D 2 lantai, yang general section mungkin bisa dijadikan acuan (asumsi menghitungnya benar hehehe) lalu bandingkan hasil yang section designer misal lendutan, momen, dll. sehingga lebih mudah mengotak-atiknya jika hasil masih jauh, setelah oke barulah diterapkan di model full yang 47 lantai itu.
salam kenal pak Purbo, maaf mau tanya, untuk analisa struktur portal 3D jika beban pada balok akibat beban plat diinput dengan beban trapesium mengapa hasil momen lenturnya pada balok jauh lebih besar dibandingkan jika pembebanan diinput dengan menggunakan shell(area) load ?
Saya menggunakan sap2000 versi student
Salam kenal juga,untuk masalah ini apa sudah baca topik ini? Untuk hasil beban pelat yang jauh berbeda (lebih baik kalo ada ket. berapa persen/kNm misalnya), pertama perlu dicermati apakah saat input beban dengan shell sudah memakai uniform to frame (bukan uniform saja), kedua hitungan beban luasan yang dimasukkan jangan mengikutsertakan beban pelatnya sendiri, alias hanya beban finishing saja yang seharusnya diinput. Jadi, model dengan beban trapesium hanya balok-kolom tanpa shell lantai dengan bebannya pelat lantai dan finishing, sedangkan model dengan uniform to frame balok-kolom dan shell lantai dengan beban finishing saja. Oh ya, jangan lupa mesh shell pelat lantainya juga untuk mengakomodir berat sendiri pelat.
trimakasih pak Purbo, saya sdh baca topik tsb, beban sdh sesuai,krn total hasil reaksi vertikal sama,perbedaan nilai momennya sekitar 25 %, sdh dilakukan mesh juga tapi sptnya memang tidak bisa menggunakan SAP2000 vstudent krn tidak ada fasilitas uniform to frame , namun setidaknya sy bisa menjelaskan ke mhs sy dgn merujuk ke topik bpk ini, krn sy memang hanya gunakan SAP2000 untuk materi mengajar
Oya kalo boleh tahu mengajar di mana? Untuk versi student itu maksudnya yg versi 7 ya kalo ndak salah… memang fasilitas unifotm to frame belum ada di versi itu, jadi bisanya memang memakai uniform load. Bisa juga memakai versi terbaru misal v14 tapi yg demo/trial version, bisa request download di situsnya CSi, walau memang mungkin besar ukurannya dan harus ngisi form juga.
Trims pak Purbo,saya ngajar di Universitas Borobudur di Kalimalang,betul pak SAP2000v.7.4,sy dpt dr bukunya pak Wiryanto,awalnya sy ngajar pakai versi 9 ,tp krn bukan software asli jadi sering error…..trus ga bisa diinstall ulang, …baik pak, trims infonya,…nanti akan sy cari linknya…
pak…klo desain beban gempa 3d dan 2d pada sap beda gak caranya?
Secara umum ya sama, tinggal disesuaikan saja arah pembebanannya.
klo desain gempa 3d, yg pk response spectrum, itu otomatis di hitung sap gak pembebananya? jd kita gak perlu definisikan lg beban titik gempa
Untuk RS sudah otomatis dihitung, yang perlu diperhatikan tinggal definisi mass source (baca di artikel ini), arah pembebanan serta faktor pengalinya.
Assalamualaikum
pak purbo, menyambung kasus 3D modeling, saya punya problem ni, kalau beban gempa secara 3D dengan 2 arah x dan y, hasil P dan M kolom tetap m33 yg digunakan untuk penulangan? atau secara otomatis sap menghitung rebar area untuk 2 arah tersebut setelah di start design/check structure?
kemudian untuk gedung model donat alias ada void di tengah, beban gempa kan di tempatkan pada joint baru yg digambar ditengah, kemudian di diapraghma, nah setelah saya run, kok momen akibat gempa pada balok hasilnya nol, sementara pada kolom hasilnya jutaan, apa memang normal seperti itu??
mohon petunjuk pak…..
terimakasih
wassalamualaikum…
Wa’alaikumsalam…
Kalau kasusnya 3D ya mestinya momen pada kedua arah dipertimbangkan, yaitu M33 dan M22, ya kan? Jadi desain kolom adalah secara biaksial. Untuk gedung ‘donat’, coba Anda renungkan apakah logis gedung (tidak hanya yang ‘donat’ saja tapi secara umum) didesain dengan beban gempa lalu baloknya bisa kecil sekali dengan tulangan minimum sementara kolomnya jadi gede dan tulangan banyak, tapi didesain akibat beban gravitasi (mati+hidup) jadi lebih besar baloknya… Kemungkinan definisi diafragma dengan joint constraint keliru belum memakai tipe diafraghm, mungkin masih tipe body, atau saat definisi constraint titik joint beban tengah belum ikut di-select. Intinya, coba Anda cek dahulu modelnya (terutama constraint) dan pembebanannya.
Siang Pak,
Saya ingin bertanya mengenai jenis area section. Apa bedanya Sheel, Plane, Asolid?dari penjelasan Bapak pada http://purbolaras.wordpress.com/2010/05/05/kompilasi-foto-proyek-part-1/, sy msh krg mengerti. Terima kasih atas kesediaan Bapak untuk menjawab pertanyaan saya.
Regards,
Shell penjelasannya saya kira seperti komen di tulisan tersebut saja ya. Untuk Plane maksudnya elemen bidang yaitu plane stress dan plane strain (tegangan & regangan bidang), sesuai namanya model ini untuk tinjauan 2D. Misal terowongan yang paaanjang cukup bisa dimodelkan bagian tampang tertentu. Asolid = axissimetry solid, elemen solid (3D, ada panjang-lebar-tinggi elemen dimodelkan beneran) yang punya sumbu simetri putar, misal cerobong, yang biasanya dimodelkan sebagian saja (misal separuh/seperempat bagian).
1. klo dlm analisis beban 3d dng sap 2000 statuc ekivalen dng ubc 97, apa kita hanya fokus di laod patern ajah pak..maksudnya apakah dlm load cases nya ga perlu di masukin apa2 misalnya scala faktornya tetep 1
2. masalah etabs sy baca di bukunya itu ada keterangan unk asign constarint plat lantai unk mencari nilai center of mass, center of rigidity yg nantinya nilanya di kali 9,81,.nah pertanyaan saya bagamn klo plat lantai hanya ada di satu dasar ajah, jadi lantai atapnya bkn plat lantai tp kuda2..apakah perlu di asign juga atapnya walau bkn plat lantai..masalahnya nanti klo gak diasign nilai beban lantai atas apa ga ikut dihitung?
Auto lateral load cukup didefinisikan saat modify lateral load di load case, scale factor tetap 1, pengali gravitasi sudah otomatis diberikan program pada perhitungan massa (ada keterangan di help program). Untuk constraint ringbalk, coba dibuat model sederhana saja misal grid 2×2, bandingkan dengan hitungan statik ekuivalen manual, dengan dan tanpa constraint mana yang lebih mendekati?
pak ijin unk bertanya
1. gimana caranya, step by step mencari nilai waktu getar alami fundamental (T1) pd sap 2000?
2. klo misalnya kita mendesain frame beton dengan 3D, termasuk di dlmnya mendefinisikan beban dengan 3D, tapi pd saat analisisnya dng 2D..apakah bisa? apa pembebanannya bisa di baca sap2000..
3.apa analisis gempa dng statis ekivalen bs di lakukan dng 3D..tolong donk pak kasih step by step tahapanya dng sap2000…
Pertanyaan diijinkan… sekarang sy minta ijin menjawab…
1. Waktu getar alami struktur bisa diperoleh dengan analisis “Modal“, lazimnya sudah ada saat membuat model baru (lihat di load case/load pattern), tinggal diikutkan running saja saat analisis. Saat menampilkan deformed shape, pilih yang case Modal, di sudut kiri atas layar window yang aktif akan terlihat nilai T1 tersebut.
2. Model & beban 3D analisisnya 2D, itu ibaratnya dikasih dana Rp 50rb buat beli barang seharga Rp 20rb, jelas bisa saja kan. Yang jadi perhatian adalah: a) jangan sampai dibalik barang senilai 50rb didanai 20 rb (ngerti kan…), b) saya jadi agak heran kenapa susah2 sudah modelkan 3D dianalisisnya kok malah 2D…? Bisa lebih dijelasin mungkin… Kalau memang perlunya 2D, model dan bebannya sebaiknya ya 2D saja, contoh salah satunya ada di Buku Seri 1.
3. Analisis gempa statik ekuivalen bisa dilakukan secara manual (lewat joint load di tiap lantai dengan distribusi beban dihitung manual) atau lewat load case dengan tipe Quake dan memilih Auto Lateral Load berdasar code tertentu, misal UBC, kemudian di-modify nilai2 input parameternya (I, R, dst.).
Oh ya, topik analisis statik ekuivalen ini bersamaan dengan analisis dinamik Response Spectrum dan Time History Insya Allah akan ada dalam bahasan Buku Seri 2 yang sedang disusun.
1. nah itu dia pak..pas sy desain 3d, pas mau masukin beban gempanya agak bingung,klo masukin secara manual dengan beban joint load searah sb x dan y apakah di definisikannya hanya di salah satu portal ajah ato di setiap portal (krn 3d kan menunjukan smua portal)..
2. unk jawaban yg ke 3 apakah selsai sampai distu..jd ketika auto lateral load memilih UBC dan sdah didefinsikan dng cr mengisi parameter I, T dst..berarti ketika di run beban gempa sdh ikut dianalisis..? klo misalnya bersadarkan SNI codenya apa pak? apakah UBC ato apa..? klo misalnya auto lateral loadnya dengan memilih user load itu apa artinya…?
kira2 kpn itu buku seri ke 2 terbit pak?
Kalau mau 3d ya tinggal dibebankan di kedua arah misal untuk load case sendiri2 Ex dan Ey, lalu dikombinasikan misal 1,2D+L+Ex+0,3 Ey (E=beban gempa). Untuk auto lateral load SNI kita kan tidak (atau belum…) ada, dan SNI 2002 dasarnya adalah dari UBC 97. Dengan auto lateral load distribusi beban gempa sudah langsung dihitung sendiri oleh SAP. Buku Seri 2 masih dalam proses, mohon doa restunya aja biar bisa cepat terbit…
1. jadi klo beban gempa dng joint load yg di masukan secara manual di portal itu hanya unk 2d yah pa? klo 3d definisi bebanya melalui auto lateral load dengan UBC 97 dng mengisi parameter I, R dst?….
2. pak. dlm menghitung nilai masa dan pusat masa bangunan dalam sap 2000 itu kan di mulai dengan constraint plat lantai atu mengekang plat lantai lalu di run..nah unk melihat nilai massanya caranya gmn?
Kalau modelnya 3D oleh SAP ya dianalisisnya juga secara 3D walaupun bebannya cuma di satu arah, tidak tergantung bebannya. Misal beban cuma gempa arah X, deformasi dan gaya/momen akan tetap ada di kedua arah, hanya arah X yang akan lebih dominan. Di auto lateral load kan sama saja juga di-set arah gempanya (X atau Y). Untuk data nilai dan pusat massa bisa dilihat di file output dengan ekstensi *.out (dibuka dengan text viewer semacam notepad).
jd setelah di run, terus klik file, terus klik print tables, terus klik apalagi dibagian Analisys resultnya pak?atau apa yg harus di contreng/centang di bagian analisys resultnya unk munculin nilai masssa dan pusat massa…? disitu kan ada Joint Out Put, Elemen Output, Structure output…!~
ky misalnya kita mau liat data2 rebar, berarti caranya centang Property Definitions lalu centang Material Properties lalu centang Rebar Data..!~nah yg sy blm tau itu cr unk nampilin nilai dan pusat massa..?..trim’s..
untuk munculin nilai dan pusat massa setelah diu run apa yg harus di contreng ato dicentang dalam print table pak..?sehingga nanatinya nilai tsb muncul dlm file npte pad..
Itu dilihatnya langsung dari file output (*.OUT) pada folder tempat input SAP, misal lewat Windows Explorer, bukan dari program SAP-nya. Sebelumnya tiap lantai harus sudah di-assign constraint tipe diaphragm dulu.
makin bingung jg nih cr desain beban gempa di sap2000…mohon keihlasanya dr bapak alias minta tolonglah kasih gambaran tahapan2 yg msti dilakukan saat kita mendesain bangunan dengan beban gempa itu baik 2d dan 3d…!!!
Wah gimana ya,sy kok jadi ikut2an bingung ini heheheheh….
Begini aja, dibuat gampang saja deh. Model SAP 3D, beban gempa statik ekuivalen dengan auto lateral load, dibebankan di kedua arah (load case Ex dan Ey), dikombinasikan menjadi misal 1,2D+1L+1Ex+0,3Ey dst. terus run/analysis. Dengan demikian, berarti model dan beban semuanya 3D. Auto lateral load sudah menghitung otomatis distribusi beban gempa termasuk penempatan beban di pusat massa.
Kalau mau model 2D, ya bebannya hanya pada arah tinjauan saja. Misal ditinjau portal bidang X-Z, berarti beban gempanya cukup Ex saja. Kalau Y-Z ya Ey saja. Itu saja dipahami dulu.
Oh ya, lain kali sebisa mungkin mohon dikurangi penggunaan tanda baca berlebih (??? !!!!), karena dalam bahasa forum itu konotasinya teriak, apalagi pake tanda seru. Ya kalau nulisnya di forum gaul macam kaskus sih gpp, tapi khawatirnya keterusan di forum resmi, nanti malah salah paham kan repot hehehe ya nggak…
Thanks.
aduh maaf banget pak, sy ga maksud teriak..maaf sy bener2 ga tau klo itu artinya ga baik…sekali lg mohon maaf..sedikit mulai ada pencerahan tentang gempa dng sap2000nya.
saya mau tanya lg pak, kebetulan skrg sy ada kasus menangani suatu bangunan sekolah dasar yg mengalami kegagalan struktur…dimana balok induk mengalami retak dan platnya mengalami lendutan…mngkn faktor penyebabnya kesalahan perencanaan..dmn dimensi balok induk hanya 20/40 sementara bentanganya 7,5m…solusi dari bapak gimana? kebetln kapasitas sy sbg konsultan perencana unk perkerjaan perbaikan sekolah dasar tsb.
Wow, dimensi baloknya terhadap bentangan memang luar biasa, dari hitungan sederhana saja sudah tidak masuk itu, apalagi jika diatasnya ada beban pelat atau dinding. Ada beberapa alternatif cara, misal dengan perkuatan balok/pelatnya, tambahan elemen kolom (jika memungkinkan), injeksi untuk mengisi crack dll., tergantung dari kondisi aktual di lapangan dan kemampuan pihak sekolah.
rumus unk menghitung profil baja gm pak..klo unk menentukan tinggi balok beton kan diambil 1/20 s. 1/15 x bentangan..nah klo balok baja IWF ada rms sederhanya gak?
Coba dimensi profil tertentu, toh itu kan hanya untuk preliminary design saja, nantinya juga harus dicek rasio aman tidak, atau bila terlalu besar/boros ambil yang lebih kecil.
Pak purbo..sy prnh liat buku sap 2000 v. 7 yg ada contoh struktur beton yg beraturan tp di analisisnya dng respon spektrum, jd tdk hanya static ekivalen…emng bs bgtu pak?apakh tujuanya agar lbh akurat ato gmn?
Gedung beraturan bisa/boleh dianalisis lewat metode statik maupun dinamik (misal respons spektrum), gedung tidak beraturan wajib memakai analisis dinamik, walaupun nanti ada juga syarat gaya geser dasar minimum.
pak,klo analis dan desain plat lantai beton bangunan dengan etabs bisa gak? crnya gmn?
Saya biasa desain pelat manual dengan tabel momen pelat (misal dari buku Gideon dkk.) dan tulangan dihitung seperti balok asumsi lebar per meter.
jd biar nilai eksentrisitasnya muncul modal gak ikut di run dan auto lateral load jg di nonaktipkan..nah cara menonaktipkan auto lateral load gmn pak? klo modal kan tinggal klik run/not run..tp non aktipkan autolateral load gmn?
Caranya ya sama kan, load case yang auto-lateral load di set ke do not run.
Ijin Tanya pak..sy coba memodelkan sebuah gedung 3lantai dan stlh selesai memodelkanya dan memberikanya beban hidup, mati dan beban tambahan..lalu ketika sy mencb memodelkan beban gempa arah x dan arah y dng autolateral load UBC 97..ketika klik modify lateral load patern, disitu ada parameter override, stlh di klik sap meminta sy unk constrain..lalu sy constraint plat lantai dan kembali ke parameter td, lalu klik evoride dan ada kolom diafragma dan ada diaph 1, diaph2, diaph 3, sesuai dng constrain plat lantai..lalu ada kolom X-Dir(Eccen Y) dan Y-Dir(Eccen X) ..nah pertanyaan sy :
1. X-Dir(Eccen Y) dan Y-Dir(Eccen X) itu diisi dng angka apa dan dptnya drmn?
2. Sy cb mengabaikan nilai tsb lalu run analisis dan di out putnya sy tdk menemukan nilai CENTER OF MASS GLOBAL U1 U2 U3 pdhl sdh di kekang plat lantainya…terus nilai rebarnya kecil unk kolom lt. 1,2,3 sama 900mm2, dan balok hanya 200 mm2 an..
3. Apakah dng analisis beban gempa 3d dng ubc 97 sprt yg sy coba ini tdk perlu memasukan nilai F(beban gempa nominal static ekivalen)=((wi*hi)/total(wi*hI))*V?
Eccentricity adalah nilai eksentrisitas pergeseran pusat massa dengan pusat rotasi lantai, dinyatakan dalam jarak (m,cm,dst.), bisa dihitung berdasar ketentuan SNI gempa 2002 pasal 5.4.3. Nilai pusat massa ada di file *.out, dan analisis
modal harus di-run jugaauto-lateral load di non aktifkan, karena kalo ada auto lateral load tidak muncul datanya. Nilai tulangan yang kecil kemungkinan akibat gaya gempa kecil, misal karena setting parameter auto lateral load dengan nilai R / reduksi gempa besar dan seismic coeff. juga kecil untuk tipe soil profile dan zone factor. Gunanya auto lateral load kan memang supaya bisa pembebanannya otomatis, jadi tidak perlu input manual.klo pak purbo biasa pake sap 2000 versi berapa? yg terbaik itu sap 2000 versi brp yah pak?
Saya lebih banyak pakai versi 11, saya belum tahu versi terbaru jadi belum bisa komentar mana yang lebih baik, secara umum kecenderungannya makin baru ya makin lengkap tapi juga makin berat. Saya pikir kok yang lebih penting itu adalah penguasaan programnya, bukan versinya.
pak purbo pd saat desain beam slab buiding beton bertulang pd sap 2000, saat kita definisikan balok itu apa sebagai rectangular ato sebagai tee? terus apa pengaruhnya antara kedua hal tsb dlm hal keamanan struktur?
jd pak purbo klo analisis plat suka pake manual yah pak? klo kolom dan pondasi juga pake manual? klo yg pake program bagian mana dan apa programnya pak?
Sebagai balok T jelas inersia dan properties lain akan lebih besar nilainya, cuma perlu diingat juga untuk memperhitungkan retak (pengabaian beton tarik), di daerah lapangan (momen positif, atas/sayap tekan bawah tarik) sayap balok masih bisa efektif diperhitungkan sebagai balok T, namun pada daerah tumpuan (momen negatif) akan cenderung sebagai balok persegi (sayap tertarik).
iya pak..emang dimensi baloknya kurang memadai…unk perkuatannya, skrg sy coba menggunakan perkuatan baja IWF di bawah balok yg retaknya dan balok iwf yg dipasang diagonal unk menahan lendutan plat lantai..kira2 bs g solusinya kaya gt???
unk permukaan plat lantai keramiknya pd meletup,mngkn pengaruh lendutan..kira2 beton plat lantainya mesti di kupas nggak pak?
klo unk mnentukan dimensi balok beton kan rumus sederhananya 1/10 s.d 1/15 di kali bentangan..klo untuk menentukan dimensi balok baja rms sederhanya gmn pak ?
Bisa saja dicoba tambahan portal balok dan kolom baja di bawahnya, hanya perlu dipertimbangkan juga apakah cukup mengandalkan pengaku diagonal untuk mengurangi lendutan (syarat L/360), apa masih mungkin menambah kolom di tengah bentang (7,5m lumayan itu). Bisa dicoba hitung dengan analisis 2D sederhana untuk portal tambahan bajanya, beban dari pelat dan balok beton (asumsi beban dilimpahkan seluruhnya/sebagian ke portal baja), tinggal dicoba ukuran profil yang aman (rasio tegangan memenuhi ijin).
Eccentricity nilai eksentrisitas pergeseran pusat massa dengan pusat rotasi lantai.apakah nilai tsb di dpt dng hitungan manual..? jd gak ngambil data2 apapun dr sap 2000 unk dapetin nilai tsb yg nantinya skn kita masukan ke beban gempa 3d ubc 97..
klo nilai dan pusat massa dilihatnya langsung dari file output (*.OUT) pada folder tempat input SAP, setlh sy constraint plat type diaph dan run, dr kluaran hanay satu file bntk notepad yg ada kata2 analisis complete dan lain2, file note p[ad itu bkn pak tmptnya nilai dan pusat masa berada? krn sy liat kok g muncul..
Diapraghm eccentricity dihitung seperti rumus di SNI gempa 2002, dari SAP yang diambil bisa data pusat massanya. Untuk nilai pusat massa auto-lateral load sementara tidak ikut di-run agar keluar hasilnya, kalau ikut di-run memang jadi tidak keluar datanya.
klo mau dapetin tutorial ato panduan analisis beban gempa 3d pada gedung metode static ekivalen dan respon spektrum kmn yah pak? sy cari buku2nya gak ada..sy bersedia ganti ongkos copy ato kirim emailnya..sy bnr2 png bisa analisis gempa dng sap 2000
Nah untuk topik itu nanti ada di buku Seri 2, dari statik ekuivalen (auto lateral load), response spectrum sampai time history. Insya Allah nanti sekitar kuartal 1 atau 2 tahun depan sudah bisa terbit.
@mas purbo
Untuk nilai pusat massa auto-lateral load sementara tidak ikut di-run agar keluar hasilnya, kalau ikut di-run memang jadi tidak keluar datanya.
ini lbh jelasnya ky gmn pak..?jd steleha selesai pemodelan dan pembebanan dan kekang plat lantai..lalau gmn lg? ato auto lateral load yg ga ikur do run itu posisinya dmn? klo pas run kan hanya ada beban mati, hidup, dan modal ajah yg di run ato not run..
Kalau cuma ingin melihat pusat massa tidak perlu auto-lateral load, cukup dengan constraint. Tapi untuk analisis memakai auto-lateral load tidak perlu lihat pusat massanya lagi, karena sudah dianalisis otomatis oleh program.
klo pak purbo sendiri saat desain balok T (balok gabung dengan plat lantai) dengan sap apakah pake rectangular ato pake tee??
Lebih mudah memakai balok persegi biasa, karena dengan balok T juga masih harus menghitung lebar efektif.
pak kapan buku nya terbit? yg bahas gempa static dan dinamiknya?
Insya Allah bulan depan sudah ada kabar, tunggu saja infonya…
pak mau tanya mengenai kuda2 baja siku dng betuk persegi panjang (bkn segitiga)…apakah perletakannya mutlak mesti sendi – roll ato sendi – sendi atau boleh gak perletakanya di buat jepi-jepit..jadi tumpuanya di cor monolit dengan kolom..mohon pencerahanya..
krn rencana awal perletaknya di atas base plat dan di baud pd kolom..di rubah jd monolit (dicor langsung pd kolom)..
Memang lazimnya rangka truss kuda-kuda dibuat sebagai sendi dan rol, untuk mengakomodasi gerakan lateral akibat angin juga. Apa mungkin Anda keliru dengan sistem rafter (balok WF tunggal) ya? Untuk rafter memang diasumsikan jepit. Itupun pada rangka portal dibawahnya harus dianalisis sebagai satu kesatuan dengan atap rafternya, sebagai konsekuensi penjepitan di tumpuan.
klo begitu perubahan tsb keliru yah pak dengan membuat perletakan kuda2 baja siku di buat monolit dengan kolom..? tdnya sy pikir bs dng alasan kuda2 beton pun di buat monolit.
pak klo unk jembatan memang muttak mesti sendi dan rol yah pak? jd gak berlaku jepit2..itu dasar pemikiranya apa pak?
Untuk kuda-kuda beton kan memang dicor jadi satu kesatuan dengan portal, sedangkan rangka baja (ataupun sistem rafter) dipasang belakangan setelah dicor portalnya ya kan, kalau masangnya bersamaan saya malah ndak bisa mbayangkan gimana itu… Kalau di jembatan perlu rol, terutama mengantisipasi gerakan horizontal, baik akibat aksi kendaraan maupun susut/muai rangka baja, selain bisa membantu mengurangi gaya reaksi pada abutment/tumpuan.
jd bentuk kuda2nya persegi panjang (bkn segitiga) di cor monolit di kolom, jd sengkang kolom di buat U bkn persegi, agar ujung kuda2 bisa masuk ampe as klom dan gt di cor…kolom sblh barat 14,5 m dan jolom sebelah timur 12,5 m..jd arah air hujan turun ke belaklang gedung bkn kesamping..!!jd sy yg tanyakan prinsipnya itu boleh ga tumpuan kuda2 di cor monolit ato di jepit..krn lajimnya kan kuda2 baja itu di tumpu di bas plat dan di baud..nanti sy kirim gambar kuda2nya pak, klo bapak punya email apa?
Mau dimodelkan jepit juga bisa, cuma pikirkan juga beberapa hal berikut, di antaranya prinsip kerjanya jadi kurang sesuai dengan prinsip truss, mungkin akan timbul momen-momen pada batang terutama batang2 ujung (tidak hanya dominan gaya aksial) sehingga perlu dicek juga; kemudian analisis harus menjadi satu dengan portalnya karena dianggap terjepit monolit. Terkait untuk pelaksanaannya sendiri, apa nanti tidak mengganggu posisi tulangan kolom selain pengecorannya sendiri yang mungkin jadi susah. Saya jadi penasaran, kenapa kok tidak dibuat sebagai sendi-rol biasa ditumpu di atas kolom. Alternatif lain bisa juga truss dibaut ke sisi2 samping kolom; atau dibuatkan konsol kecil sebagai tumpuan di bagian dalam kolom.
pak purbo..klo mau desain dengan sap ato etabs pd gedung apa harus kita desainya ikut memodelkan tie beam ato tidak perlu (dianalis terpisah)..jadi elevasi kolomnya base (kolom pedestal), lantai dasar (tie beam/sloof), lantai satu (balok+plat), lantai dua (Balok+Plat) and seterusnya…
Bisa ikut dimodelkan bisa juga tidak, tumpuan bisa diberikan pada elevasi sloof. Untuk tie beam mungkin sebaiknya dimodelkan karena sifatnya yang lebih struktural dibanding sloof sebagai penerus beban.
di bukunya ngebahas analisis gedung struktur beton dan gedung struktur baja 2d dan 3d dengan analisis beban gempa static dan dinamik yah pak…
dan program sap 2000 nya yah versi skrg, jng yg student..
Mas Purbolaras, mau nanya nih ketika mendesain struktur, terjadi keanehan menurut saya. Jumlah tulangan dilantai 2 lebih banyak daripada di lantai 1. Dilantai 2 di dapat sekitar 9000 mm2 sedangakn di lantai 1 sekitar 3000 mm2.
Apakah salah dalam pemodelan atau memang seperti itu? saya coba dengan model lainpun juga sama. Mohon pencerahannya.
Itu yang dimaksud lantai 1 adalah lantai di atas ground floor kan ya. Sepertinya karena pengaruh tipe tumpuan, itu mungkin dipakai jepit / fixed, jika dipakai sendi / pinned bisa berbeda. Untuk frame portal dengan tumpuan jepit memang deformasi akibat beban lateral adalah deformasi geser. Saya asumsikan yang dimaksud adalah tulangan kolom. Cuma kenapa kok selisihnya jauh sekali bisa tiga kali lipatnya, itu yang mungkin perlu dicek lagi modelnya.
Assalamualaikum, pak Purbo,salam kenal pak
pak saya ingin tanya mengenai define frame properties dengan menggunakan section designer, kalau saya ingin membuat box girder AASHTO-PCI-ASBI standard dengan fasilitas menu tersebut bagaimana cara membuat lubang ditengah, jika saya menggambar dengan membuat reference line terlebih dahulu lalu dibuat poligon shape dengan tujuan untuk mengarsir area yang ingin saya jadikan box girder, apakah langkah yang saya lakukan sudah benar karena ditakutkan program menterjemahkan input yang saya berikan berbeda dengan asumsi yang saya harapkan,
lalu pak ada yang saya ingin tanyakan kembali untuk mengisikan properti data pada menu define|frame properties||other |general
disana terdapat baris-baris yang diisikan secara manual, tolong pak berikan cara-atau rumus yang berkaitan dengan pengisian baris-baris tersebut, jika bentuk yang saya definisikan berbentuk box girder seperti pertanyaan saya awal
mohon pak pencerahannya, maklum masih pemula pak jadi banyak pertanyaan yang perlu dikembangkan
terima kasih
Wa’alaikumsalam, salam kenal juga…
Untuk mengecek apakah program sudah membaca input section dengan benar, bisa dicek section properties dari tampang yang dibuat (misal inersianya) dibandingkan dengan hitungan manual. Kalau sudah bisa mendekati berarti sudah ok. Sedangkan untuk nilai2 properties untuk general section beberapa ada di manual SAP, misal untuk shear area, torsional constant. Untuk mengecek apakah rumus sesuai atau tidak bandingkan dengan hitungan properties tampang yang sederhana dulu, misal tampang persegi.
Semoga terbantu.
Diskusi yang menarik. Terima kasih, Pak Purbo dan semuanya. Salam Kenal (semua)
Selamat pagi, Pak. Saya mau tanya. Menurut teman saya, tidak boleh me-Run case gempa arah X dan Y secara bersamaan. Dengan logika, tidak munkin pada saat gempa arah X dan Y secara bersamaan. Apakah betul begitu, Pak, tidak boleh me-Run case gempa X dan Y secara bersamaan?
Apakah berat dinding (bata) dan beban mati tetap lainnya (plafond, mekanikal elektrikal, dll) boleh menggunakan superdead atau hanya dead saja?
Kalau bisa meramalkan arah datangnya gempa dengan tepat yakin 100% ya silakan dianalisis satu arah saja. Secara logika pula, kita akan sulit memperkirakan arah datangnya gempa bukan? Gelombang getaran gempa bisa datang dari mana saja, gimana kalau datangnya ternyata berarah misal 45 derajat terhadap sumbu X? Misalnya ada patahan/sesar/potensi sumber gempa di sekian km arah sumbu X gedung, penjalaran gelombang gempa kan bisa berasal dari sepanjang patahan tersebut, tidak pasti 100% dari arah X tegak lurus gedung. Belum lagi kalau sumbu utama gedung tidak searah dengan potensi sumber gempa. Karena itu dalam SNI misalnya diatur ketentuan untuk mempertimbangkan arah datang gempa yang tidak beraturan / tidak bisa ditentukan tadi, yaitu 100% arah utama + 30% arah tegak lurusnya. Untuk gedung yang tidak beraturan denahnya, malah mungkin perlu ditinjau arah gempa dari berbagai sudut. Beban mati tambahan bisa dengan dead atau superdead, pastikan jangan dobel self-weight multiplier-nya.
Apakah benar cara saya mendefinisikan Case Gempa X (Respon Spektrum) Scale Factor untuk U1 = 1, dan U2 = 0,3; dan Case Gempa Y, U1 = 0,3 dan U2 = 1, Pak?
Yak, pinter… ada 2 alternatif: diberikan di analysis case (misal case Ex=100% U1+30% U2) lalu di kombinasi tinggal 1,2D+1L+1Ex; atau bisa juga di analysis case hanya per arah saja (case Ex=100% U1) baru di gabung di kombinasi misal 1,2D+1L+1Ex+0,3Ey. Saya kira cara kedua bisa lebih baik, karena kita juga bisa punya satu case gempa murni untuk satu arah utama, tapi terserah saja, semua bisa dipakai.
Bila menggunakan alt 1, kapan digunakan IR/g pada faktor skalanya? Karena pnah saya bca untuk gempa X (alt 2), scale factornya diisi IR/g.
Scale factor-nya harusnya I/R.g, diberikan di analysis case. Jadi misal I=1, R=4, g=10 m/s2 (penyederhanaan) maka scale factor = 2,5. Misal kombinasi orthogonal diberikan di analysis case maka arah X pengali = 2,5 dan arah Y = 30% x 2,5 = 0,75.
Ya, itu maksud saya Pak, I/R.g (>_^’)>
Mohon ijin untuk mencantumkan nama Bapak dan blog ini pada skripsi saya
Silakan… kalau mau lebih resmi ya pakai sumber yang dari buku.
Kalau tidak salah akan ada 3 jilid buku Bapak, kira-kira ketiga berbicara mengenai apa, Pak?
Nah itu nanti bisa dilihat saja di buku Seri 2 yang akan segera terbit, ada kisi-kisi untuk seri berikutnya…
Ditunggu, Pak. Oh iya, di jilid 1 bapak menggunakan balok rectangular. Kenapa tidak Balok T atau L? Dan bila menggunakan balok T/L apakah pemberian beban lantainya sama (shell)?
Supaya sederhana saja contohnya, untuk balok T/L harus menghitung dulu lebar efektifnya (gambar di contoh soal hanya sketsa untuk memperjelas saja, lihat juga beberapa komentar di atas tentang balok persegi dan T). Pemberian beban pelat tetap sama.
Assalamualaikum pak Purbo, salam kenal pak.
Saya mau tanya tentang tipe joint constraint pak, masing-masing tipe digunakan dalam kondisi struktur seperti apa saja ya pak?
Penjelasan lengkap bisa dilihat pada manual/help program. Untuk kategori pelat lantai gedung secara umum bisa dipakai tipe diaphragm, yang mengakomodasi constraint untuk translasi searah bidang pelat dan rotasi memutari sumbu tegak lurus bidang (asumsi pelat lantai memiliki kekakuan yang besar pada arah tersebut). Pembahasan mengenai tipe ini akan diberikan dalam buku Seri 2 yang akan segera terbit.
terima kasih pak atas balasannya, ditunggu juga buku seri 2 nya ya pak.
aslm..
apa kabar pk…?
wah seru baca komentar diblog pk purbo, banyak pertanyaan.
sehingga yg tdk kefikiran bertanya pun bisa mnambah pngetahuannya..
..sy juga ingin bertnya kembali..mohon pencerahannya..pa
masalah Time period struktur pa..
untuk mendapatkan nilai period awal bangunan dari analysis struktur dgn SAP/Etabs apakah menggunakan asumsi penampang retak (Cracked Section)
pada “property Modifiers > Analysis Property Modifications Factor”
untuk kolom=0,7
balok persegi=0,35
dan pelat=0,25
mengingat nilai nilai diatas sngat mempengaruhi besarnya nilai T, sehingga Cek terhadap T < 0,18n tidak terpenuhi..
*0,18=Faktor pengali pada Wilayah Gempa Zona 3..
mohon pencerhannya pak..
trms,,
Wa’alaikumsalam…
Untuk mendapatkan waktu getar alami struktur memang seharusnya tidak diberikan reduksi inersia pada penampang (dipakai inersia utuh). Faktor reduksi diberikan saat masuk proses analisis/desain penampang beton, keterangan lebih lanjut bisa juga baca di buku perencanaan beton Pak Iswandi Imran terbitan terbaru. Masalah ini nanti yang juga akan kami bahas dalam buku Belajar SAP2000 Seri 2 selanjutnya.
oke..
terimaksih banyak pak purbo.
assalamu’alaikum, pak Purbo..
Mau bertanya lagi ni pak, dalam analisa 2D portal yang berbeda nilai kekakuannya (EI) ada tambahan input yang harus didefinisikan tidak pak dalam program SAP selain membuat frame section dan material properties yang berbeda?
Soalnya pak saya bandingkan dengan perhitungan manual untuk struktur portal sederhana ( untuk kolom 2 EI dan balok 1 EI ) hasil momennya berbeda hingga 20% pak..
Mohon bantuan penjelasannya pak..
Terima kasih..
Wa’alaikumsalam, mungkin ada parameter lain yang perlu disamakan dengan manual, misal deformasi geser diabaikan (bisa coba lihat hal.211 bukunya pak Wiryanto). Cek juga kemungkinan berat sendiri apakah terhitung ganda atau tidak.
Pak, mengapa kurva pushover yang saya anlisis tidak muncul pada 3D, sedangkan pada 2D muncul?
Lha memang modelnya kayak apa…
Mas, T1 pada modal dengan niali 4,919 masih ‘normal’ ya?
Tergantung strukturnya, misal kalau gedung berapa lantai, btw apa sudah dicek terhadap batasan waktu getar alami di SNI (koef. berdasar wil. gempa x jumlah lantai)…
8 lantai @ 4m, 42m x 36 m.
Dan koq momen dengan analisa 2D lebih besar dari pada 3D, ya? Saya menganalisa portal baja, pada 3D baloknya ‘aman’, dan pada 2D tidak ‘aman’. Saya liat momennya lebih besar 2D. Beban Shell pada 3D dan Trapesiodal pada 2D (pemberian beban acuan dari Buku Bapak)
Hasil pada 2D bisa lebih besar daripada 3D, karena pada model 2D pembebanannya disederhanakan perhitungannya, jadi bisa saja distribusi beban 2D lebih berat daripada 3D yang bisa lebih merata. Itu memang salah satu konsekuensi relatif pemodelan dengan 2D (tentu saja tergantung tingkat kerumitan pemodelannya).
Pak purbo numpang tanya nih,
bagaimana cara design balok statis tak tentu dengan prategang dengan sap V14, boleh minta tahap2 pengerjaannya pak,
trims
Coba lihat di example problems bawaan dari SAP (dari help), kalau tidak salah di Problem I ada contoh aplikasi tendon prestress.
assalamua’alaikum
mw numpang tanya pak, skedar prtnyaan org awam..
bgini pak, knpa yah klo reaksi perletakan hasil dr SAP yg sya dapat itu g prnah sama dgn itungan manual (kcuali cuma ada 2 tumpuan)?? adakah faktor koreksinya ??
trus misal kita mendesain tangga 2D, kmudian d dpat reaksi prletakan, slanjutnya jika kita ingin mendesain balok bordes, apakah reaksi perletakan tsb lgsg kita jadikan bban merata atau spt apa pak??
mohon pnjelasannya..
terima kasih
Tergantung strukturnya, kalau statis tak tentu (misal balok 3 tumpuan) tidak bisa dihitung secara simple beam biasa, tapi dengan rumus tersendiri (misal dengan distribusi momen, metode momen tiga siklus, dst.). Reaksi dari tangga bisa dibebankan sebagai beban merata (gaya) dan juga sebagai momen (puntir di balok).
owh bgt pak, trmksh jawaban’a
oia mw tnya lg pak, mumpung gratis, hehehee
jk kita ingin membuat joint pada frame tanpa harus d divide, apakah bisa dgn draw point object ??
sya pernah coba, setelah d run, point2 yg saya buat pada turun (pada point saya beri beban) apakah itu berarti point yg saya buat tdk menempel d frame??
Terlebih dahulu pastikan posisi joint sudah pada frame (siapa tahu belum pas). Kemudian bisa coba divide frame dengan option yang break at intersection (dipilih dulu frame dan joint-nya), kalau tidak bisa terbagi berarti joint-nya belum nempel di posisi frame. Kalau tidak mau membagi batang coba dengan Assign > Frame > Auto Frame Mesh, pilih yang at intermediate joints. Secara default harusnya sudah aktif, jadi kemungkinan posisi joint-nya yang belum pas di frame.
selamat pagi pak purbo,apa kabar pak? pak..saya mau tanya ( terakhir nanya sama pak purbo 27/10/2010 )
, karena laporan tertulisnya ini yg buat saya harus ngapain? harus ada pembuktian analisa yang saya pake ini dalam laporan tertulis,akhirnya saya bawa laptopnya dan sap 2000 buat presentasi, jelas ownernya seperti kelihatan tidak mengerti, tapi dgn segala cara dan panduan dari SNI, mereka akhirnya menerima juga,
, pertanyaannya saya : apa yang buat struktur itu aman di dalam laporan tertulis, apa yang harus saya hitung secara manual? apalagi dgn analisa gempa dinamis misalnya, dari fungsi waktu ke perkuatan kolom misalnya, itu yg buat saya bingung, jelas masih dangkal ilmu saya pak, saya mohon penjelasan bpk, atau dalam jilid 2 buku bpk, bisa di jelaskan lebih renci lagi.
1.pak purbo, dari 3 jenis analisa gempa ( statis ekivalen,respon spektrum dan time history ) apakah analisa gempa dgn metode time history perhitungannya lebih akurat/lebih baik dibandingkan statis ekivalen atau respon spektrum? pendapat bapak ?
2. selama ini saya selalu menganalisa struktur dgn program sap 2000, biasa tanpa laporan tertulis, hanya lihat ada frame merah atau tidak,dan jika ada frame merah, maka biasanya saya lalukan perkuatan dan cek ulang sampe benar2 aman semua, suatu ketika ada presentasi di owner dan saya harus buktikan perhitungan saya itu benar, jujur saya gugup,
salam pak dan terima kasih
Sebenarnya tidak hanya masalah akurasi saja, tapi juga aplikasinya. Misal, desain rumah 2 lantai sederhana tapi pakai time history non-linier bisa2 lama jadinya, keburu rumahnya selesai dibangun. Atau analisis reaktor nuklir denah/bentuk rumit tak beraturan dan termasuk kategori gedung penting tapi cuma pakai statik ekuivalen 2D ya jelas tidak valid. Semuanya sebetulnya akurat sampai pada tingkat tertentu, tinggal batasan penerapannya saja. Untuk laporan kan bisa juga ditampilkan tabel hasil outputnya sebagai lampiran (dari Display > Show Tables atau File > Export > Excel). Atau bisa juga diberikan contoh hitungan manual untuk satu contoh saja, sisanya/lainnya dengan rangkuman tabel hasil output.
Saya punya contoh laporan perhitungan struktur yang biasa dipakai di DKI. Jika anda berminat kirim e mail ke nuril_h@yahoo.com
http://www.nurilhuda87.wordpress.com
baik pak, sdh saya coba dan bisa,
trmksh bantuan’a
baca kata meshing jd keinget prtnyaan lain,
klo pada etabs, saat pemodelan ramp pd bagian miring kok g bs d meshing yh pak, beda dgn sap..
pdhal saya sdh cb smw cara meshing,
kata tmen sh, itu salah satu kekurangan etabs,
mau nanya nih mas,,bagaimana caranya nentuin titik berat pelat lantai dan dinding pada analisis dengan SAP 2000 v.8??trimakasih mas
Untuk data pusat massa bisa dilihat di file output dengan ekstensi *.out (dibuka dengan text viewer semacam notepad). Silakan lihat beberapa komentar sebelumnya pada tulisan ini untuk detailnya.
Begini Pak. Misalkan ada blok 30/50 dibebani beban stngah bata 2m. Tapi bata tdk pada as balok melainkan rata pinggir (ada eksentrisitas) sehingga ada momen kan Pak. Nah bagaimana cara menassign beban sprti itu? ksus sdeehana bentang 4 m simple beam?
Eksentrisitas yang ada terhitung kecil, jadi momen puntir bisa diabaikan, lagipula senemarnya juga masih ada momen lawan/imbangan dari pelat beton. Kalaupun mau dimodelkan, bisa dimasukkan sebagai beban momen puntir per satuan panjang (momen memutari sumbu lokal 1) pada balok tepi sebesar beban dinding x tinggi x eksentrisitas (dalam kNm/m misalnya).
Nanya lagi, Mas. Boleh? Soalnya kalo dirata-ratakan saya orang paling sering nanya kayanya. Hehehehe
Begini, Mas. Saya coba-coba desain balok 25/40 menggunakan SAP2000 v11. Nah pada sebagian frame ada balok yang ‘tidak aman’ dengan Mu sekitar 84 KNm, sementara pada frame lain dengan dimensi yang sama ‘aman’ sementara Mu lebih besar (112 kNm). Koq begitu ya Mas?
Sebagai referensi mungkin bisa saya kirim via e-mail. Mohon alamat emailnya Mas
Sebenarnya saya sudah upload di http://www.ziddu.com/download/19049681/KTT-i.rar.html
Terima kasih (lagi) sebelumnya Mas
Coba dicek, status ‘tidak aman’-nya pada SAP apakah hanya karena momen saja (status misal karena geser apakah aman atau tidak)?
pak purbo . . .
pada menu rebar material, ada data yang hrs di input :
Fy, Fu, Fye, Fue
mis pakai U-40, maka Fy=400 MPa
Fu, Fye, Fue hrs di isi nilai berapa ? mungkin ada rumus pendekatannya
sap2000 apakah bisa kita membuat balok corbel ?
terimakasih atas pencerahannya
Data material diinputkan menyesuaikan data misal dari PUBI-82, kan sudah ada datanya, fy tegangan leleh dan fu tegangan tarik putus minimum. Misal BJ-TP 30 fy= 235 MPa dan fu= 382 MPa. Harap diperhatikan juga input apakah untuk baja tulangan atau baja profil (data bisa diambil dari SNI baja 2002, misal BJ-37 fy=240 MPa dan fu=370 MPa). Tegangan efektif kalau ada datanya bisa diinput, atau bisa diambil sama dengan fy atau fu.
Balok corbel bisa dimodelkan memakai non-prismatic section (saat define frame section pilih tipe others, sebelumnya buat dahulu data penampang untuk potongan ujung dan tengah).
Contoh lain BjTD40, fy=390 MPa , fu=500 MPa, (SNI 07-2052-2002)
tapi untuk nilai Fye, Fue, diisi berapa?
Nilai effective stress bisa diisi tegangan fy atau fu kalikan faktor overstrength bahan misal sekitar 1,25-1,5.
Nanya lagi nih. Pada saat menampilkan Luas tulangan perlu diexcel; pada tipe kombinasi ada muncul DCON1, DCON2, DCON2(sp). ‘(sp)’ nya itu mksudnya apa Pak? Dan luas pada TIPE (sp) itu besar sekali. Sementara bila klik kanan frame tpe (sp) tidk ada.
DCON adalah kombinasi bawaan dari programnya (dibuat otomatis, berdasar code/aturan yang dipilih), sehingga belum tentu sesuai dengan keperluan kita. Ganti/sesuaikan dulu kombinasi yang akan dipakai dalam desain (dari design > concrete design > select design combos).
Untuk DCON saya mengerti Pak. Kan pada combi beban hanya ada dua yg saya gnkan. DCON1 dan DCON2. Tapi pada saat tampilan luas tulangan perlu khususnya di excel muncul jg DCON2(sp). Dan luas tlangan perlu pada DCON2(sp) ini amat sangat besar. Apakah geranagn Si DCON2(sp) ini? Karena sya tdk mersa menggunakannya.
Isi combo DCON2 nya itu apa ya
Dilist combonya hanya ada 2, yaitu:
DCON1 : 1,4 DL
DCON2 : 1,2 DL + 1,6 LL
DCON2(sp) tdk ada dlm combo list -dan tidak pernah saya input, namun muncul pada tabel Luas Tulangan Perlu. Iwa peyek iku Pak?
Disortir saja di Excel-nya, kombinasi yang tidak dipakai disembunyikan/dihapus.
Bahas tentang beban berjalan donk Pak.
Suatu shell 3 X 5 m2. Dbebani DL 100kg/m2, SW off. Mesh 10 x 10. Koq deformasinya aneh. Bgtu pla momennya. Bukankh makin bnyak pias makin bgus?
Anehnya bagaimana? Bebannya uniform atau uniform to frame?
UTF. Bendin momennya tidak berbntuk lengkung, melainkan zigzag.
Elemen pelatnya pakai/pilih tipe Shell, jangan yang Plate, karena ada elemen frame juga.
kalo kita masukkan plat lantai sebagai elemen maka beban plat akan langsung didistribusikan ke kolom,ini ditandai dengan momen yang kecil yang ada pada balok karena balok cuma menahan berat sendiri….bagaimana caranya agar plat lantai bebannya didistribusikan ke balok dulu……
Silakan bisa baca tulisan ini.
Secara garis besar apa perbedaan Plate dan shell pada sap 2000?
Kemudian apakah perbedaan option pada saat kita membuat pelat dimana ada shell thin, shell thick, plate thin, plate thick dsb?? apakah perbedaan mendasarnya dan pengaruhnya terhadap hasil analisa?
Untuk perbedaan tipe bisa baca komentar di Kompilasi foto proyek (Part 1), ada yang pernah nanya serupa dan sudah dijawab. Dalam buku Seri 1 juga dibahas mengenai hal tersebut. Secara garis besar pemakaiannya disesuaikan dengan model misal tinjauan 2D/3D, arah pembebanan, dst. Salah aplikasi bisa menimbulkan output yang tidak benar bahkan bisa aneh.
tampilannya berubah ya? Sebenarna saya lbh ska yg versi sblm ini krn ada “x post on sap2000″ misalnya. jadi kita tahu ada koment baru. yg skrg sdh tdk ada jd pmbaca tdk tahu apakah ada komen baru atau tidak? Mohon dikembalikan ke tamplan lamanya donk.
Slm sejahtera, saya mau tanya, knapa pada saat saya membuat comb 1,2 D+1L+1E dan saya membuat lagi comb 1,2D+1L+0,25E kok hasil outputnya sama ya…..? tnhks n GBU
Beban gempa E yang dimaksud apakah dengan statik atau dinamik? Jika dengan dinamik, sudahkah dibuat analysis case atau load case-nya? Gempa dinamik tidak bisa/tidak cukup hanya diinput lewat function saja.
dengan dinamik,load case sudah saya buat dengan beban mati,hidup,dan gempa. Padahal saya sudah membuat 2 sap yang sama bebannya dengan kombinasi yang berbeda tetapi setelah saya bandingkan masih sama hasilnya. Jadi maksud dari diinput lewat apa lagi agar hasil terlihat berbeda?
thks,
Beban gempa dinamik input diberikan lewat function (bisa response spectrum atau time history), lalu diberikan faktor pengali lewat analysis case. Lihat juga tulisan ini.
Selamat weekend Pak. Bila nilai stress ngatif apa mksdnya Pak? Tekan atau tarik? Dan apakah sama nilai stress mgunkan load vs utf?
Met weekend juga, tegangan negatif berarti tekan dan sebaliknya. Jika ragu coba saja buat model sederhana pelat memanjang dengan dua tumpuan jepit-jepit misalnya lalu dilihat nilainya.
salam kenal pak, saya lagi nyoba membandingkan hasil SAP2000 antara balok T dengan persegi (dengan beban yang sama, ukuran balok T dan persegi sama cuma beda di b efektifnya), pas di running hasil momen balok T jadi lebih besar dari persegi. padahal setau saya kalo inersia makin besar momen makin kecil. kalau udah gini, dimana yang harus saya cek dulu pak?
Salam kenal juga. Kemungkinan ada pengaruh dari berat sendiri balok (luas tampang balok T > balok persegi). Bisa coba berat sendiri di-nol-kan sementara untuk mengeceknya (self weight multiplier=0).
nanya lagi pak. sudah saya cek self weight multiplier = 0, tapi hasilnya tetap sama juga pak (momen tumpuan). apakah ada hal2 lebih spesifik yang harus diperhatikan dalam perencanaan balok T pak? terima kasih.
Kalau ingin melihat pola garis krits pelat yg dgunakan S berapa, Pak?
Klo d etabs kn ada output center of mass and center of rigid. Klo SAP2000 kn C.o.M sdh pnah dbhas d ‘out’. bgmna dng C.o.R?
Pola garis kritis maksudnya…? Di SAP memang tidak diberikan data CoR setahu saya.
Pola garis lelehnya Pak. Apakah bisa ditampilkan di SAP2000. Biasanya untuk pelat beton membntuk sdut 45°
Oh kalau pola garis leleh tidak bisa ditampilkan di SAP.
So desu ne. Terima kasih Pak. Seri 2 belum launching ya Pak.