Program Grafik Gempa SNI


Belum lama ini dapat info ada program (online) bagus :)… Klik saja alamat berikut :

http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/

Tunggu dulu biar puas loading-nya…

Loading...

Nanti akan keluar seperti yang berikut ini :

Peta Indonesia

Pada halaman ini pernah diulas mengenai peta hazard  gempa (2010). Nah… kalau yang ini adalah untuk membantu perhitungan data grafik spektrum respons menurut SNI Gempa kita yang terbaru (masih draft…) resmi dari Puskim. Data grafik faktor-faktor koefisien dalam peta hazard tersebut juga bisa dilihat pada tab-tab yang ada di bagian atas (Peta MCEG, Peta MCER, dst.).

Faktor Koefisien

Dalam SNI Gempa 2002, grafik spektrum respons tinggal dilihat yang tercantum di peraturan terkait, disesuaikan dengan Wilayah Gempa dan jenis tanahnya. Misal kota Yogyakarta kalau dilihat terletak di Wilayah 3, jadi dapat grafik seperti ini :

Wilayah 3 (2002)

Ingat, itu grafik yang 2002 lho… Secara umum dalam peraturan baru nanti proses garis besarnya masih sama, namun zonasi gempanya sudah lebih detail (halus) dibandingkan peraturan 2002, plus ada lebih banyak faktor yang akan terlibat dalam perhitungan. Oleh karena itu, tiap kota atau tempat di Indonesia akan memiliki grafik spektrum respons masing-masing, tidak hanya terbatas pada 6 Wilayah Gempa seperti sebelumnya. Misalnya, untuk kota Yogyakarta wilayah Sleman (utara) dan Bantul (selatan) nilai percepatan puncaknya akan menghasilkan nilai berbeda, sedangkan menurut peraturan lama nilainya akan sama karena terletak di Wilayah Gempa yang sama pula. Lebih akurat, tapi lebih pusing juga, kan… Intinya, untuk menyederhanakan (membantu) perhitungan maka itulah fungsi utama dari program online ini.

Oke, sekarang mari kita coba pakai programnya. Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa masing-masing kota atau tempat akan memiliki grafik spektrum responsnya sendiri, tergantung lokasinya. Kalau dilihat di sebelah kiri atas, di bawah kotak judul Desain Spektra Indonesia, tercantum keterangan Jenis Input. Jadi, tempat yang akan dihitung grafik spektrum responsnya bisa dimasukkan berdasar koordinat (lintang dan bujur) atau nama kota atau tempat yang bersangkutan.

Jenis Input

Kita coba masukkan berdasar nama kota saja dulu supaya mudah. Klik saja pilihannya lalu pilih Nama Kota, dan ketik nama kota dimaksud. Setelah itu, klik tombol Hitung.

Nama Kota

Pada peta Google di samping akan otomatis menuju (terlihat) posisi tempat kotanya dan muncul kotak keterangan. Klik Lihat Hasil lalu akan ditampilkan pop-up yang memuat tabel hasil perhitungan dan grafiknya.

Hasil Peta

Grafik Jogja

Di sebelah kanan tertampil grafik spektrum respons untuk tanah keras, sedang, lunak, dan batuan. Tampilan bisa disesuaikan untuk semua atau jenis tanah tertentu saja, termasuk rentang waktu, lewat pilihan di bagian kanan atas. Sedangkan pada bagian kiri, tercantum dua buah tabel. Tabel sebelah atas mencantumkan data faktor-faktor koefisien, sedangkan tabel bawah adalah data koordinat untuk grafik spektrum respons (pasangan nilai waktu dalam detikdan koesifien percepatan dalam g). Kedua tabel tersebut juga bisa disesuaikan tampilannya untuk tiap jenis tanah atau batuan.

Untuk tabel tersebut, data yang ada juga bisa disalin dalam bentuk lain, misal ke format Excel. Tinggal klik saja tombol Excel di bagian atas tabel, lalu pilih nama dan lokasi penyimpanan. Mungkin ada baiknya juga di belakang nama file diberikan sekalian ekstensinya (.xls atau .xlsx).

Save Data

Data Excel

Cuma sayangnya nilai waktu (T0 dan TS) untuk tabel koordinat grafik (bawah) masih dalam bentuk notasi, belum disesuaikan dengan hasil perhitungannya (tabel atas), jadi perlu ditambahkan atau diganti sendiri semisal akan diolah lebih lanjut. Selain itu data grafiknya tidak bisa di-save secara langsung, mesti dengan capture manual misal lewat print screen atau bantuan program screen capture. Mudah-mudahan bisa dikembangkan lagi. Tapi lumayanlah setidaknya perhitungan bisa menjadi jauh lebih ringkas dan sangat menghemat waktu. Jika memerlukan data untuk input response spectrum function di SAP2000 misalnya, tinggal pakai saja hasil data dari tabel koordinat grafiknya.

Nah, sekarang coba utak-atik lebih lanjut. Misalnya pada contoh di atas adalah data untuk kota Yogyakarta, maka jika dilihat lebih detail koordinat lintang dan bujur ada di wilayah sekitar Kraton (pusat kota). Mari coba lihat untuk data tempat lain namun masih di wilayah Yogyakarta. Ambil contoh di lokasi sekitar bandara Adisucipto. Untuk melihat data suatu lokasi, saat input jenis data pilih Koordinat (sebelah kiri atas) dalam tampilan peta sebelumnya. Setelah itu bisa geser dan zoom pada peta untuk menuju suatu lokasi tertentu. Klik saja pada lokasi yang dikehendaki, maka di bagian kiri akan otomatis tertera koordinat Lintang dan Bujur tempat yang bersangkutan. Selanjutnya klik tombol Hitung dan Lihat Hasil.

Peta Adisucipto

Misal kita lihat data untuk jenis tanah lunak.

Grafik Adisucipto

Nilai percepatan tanah puncak adalah 0,788g. Sekarang kita coba lihat lokasi di sebelah selatan, tepatnya sekitar daerah Bantul yang terkena dampak paling parah pada gempa tahun pertengahan 2006 silam. Data dilihat jenis tanah yang sama (tanah lunak).

Peta Bantul

Grafik Bantul

Nilai percepatan puncaknya sebesar 0,929g, lebih besar daripada di lokasi airport . Berikutnya untuk lokasi di utara, misal daerah Kaliurang, yang dulu juga sempat heboh akibat erupsi gunung Merapi akhir tahun 2010, untuk jenis tanah lunak juga.

Peta Kaliurang

Grafik Kaliurang

Tertera nilai percepatan puncak 0,609g. jadi nilai terbesar ada di wilayah selatan. Harap diingat, ini hanya sekadar untuk contoh saja, karena jenis tanah sebenarnya di lokasi tersebut bisa saja berbeda. Misal untuk daerah utara jenis tanahnya bisa lebih keras atau padat daripada di belahan selatan atau lainnya, sehingga nilai perbandingan percepatan mungkin sebenarnya tidak seperti selinier yang tersebut di atas. Dari contoh tersebut terlihat bahwa untuk tiap lokasi memang memiliki grafik spektrum responsnya masing-masing, walaupun masih dalam satu kota/wilayah yang sama.

Hmm… jadi penasaran, apa jadinya kalau kita klik wilayah di luar Indonesia? Oh, ternyata kebanyakan tidak bisa (nilai koordinat lintang dan bujur tidak berubah), kecuali tetangga dekat kita. Oke, coba saja klik di wilayah tersebut, yang terakhir lalu sempat (hampir) bikin ribut lagi gara-gara perkara tari Tor-tor.

Peta Malaysia

Grafik Malaysia

Nilainya kecil, hanya 0,102g. Mungkin saja itu sebatas karena interpolasi atau ekstrapolasi, ya? Waduh kok pakai aneh-aneh lihat negeri seberang segala. Sudahlah mending mengurusi negeri sendiri dulu. Grafiknya sudah keluar tapi peraturannya kok masih draft juga. Semoga bisa cepat sah lah… Amiin.

Oh ya, sekalian juga deh mengucapkan : Selamat Puasa… :)

UPDATE :

Lihat juga Peta Hazard Gempa Indonesia 2010 di sini (tersedia juga di halaman Download).

73 responses to “Program Grafik Gempa SNI

  1. Mas..klo saat mendesain beban gempa dinamik kan kt mesti memasukan respon spektrum ke program etabs, misalnya unk zona gempa 5 sekitar aceh ato zona2 lainya sehingga respon spektrum yg kita buat membentuk grafik di dalam program etabsnya..klo mas punya ga data2 nilai grafik respon spektrum tsb dlm bentuk excel ato note pad?? krn data yg sy milki hanay dlm bentuk gambar dan nilai inti dr T (waktu getar alami) dan C ajah…

    • Kenapa tidak dibuat sendiri saja? Kan mudah memakai excel, tinggal dibuat 2 kolom masing2 untuk nilai T (waktu) dan koefisien C, lalu diisi rumusnya. Dari T=0 sampai T pada daerah C konstan dengan nilai C masing2, lalu pada sisi resesi (melengkung) dengan rumus C=f/T (nilai f menyesuaikan wilayah gempa dan jenis tanah).

      • oiyah sepa..makasih mas..

        ijin tanya lagi mas..saat kita menganalisis beban gempa dengan 2 cari yaitu static dan dinamik, apakah pd beban static dan dynamik bs di desain dng cara otomatis??? krn sy liat contoh di buku itu di analisis dng cara manual yaitu memasukan nilai beban gempa static dan dynamik pd titik berat bangunan..sementara cara dari mas noer ilham dng cara otomatis..sy bingung klo cara otomatis itu emang bs secara bersamaan pendefinisianya??

      • Dalam satu file bisa dilakukan sekaligus analisis statik dan dinamik, dan keduanya bisa dilakukan untuk desain, tinggal setting kombinasi pada desain saja.

      • ok//makasih mas..

        ijin tanya lagi..jd klo mau desain beban gempa static x dan y secara manual autolateral loadnya di buat none yah mas? terus klo mau mendefinisikan autolateralnya dengan user koef, apakah beban gempa static x dan y nya perlu di definisikan secara manual ato gmn?

      • Untuk auto lateral load tidak perlu masukkan bebannya, cukup definisi beberapa parameter yang ada saja, misal nilai I, R, Ca dan Cv. Topik ini nanti juga akan dibahas di buku Seri 2 yang akan terbit.

      • dan tanya lagi mas, klo mau mencari data eksentrisitas arah x dan y saat mendefinisikan beban gempa statik dengan user koef pd lateral loadnya gmn?? pada program etabs, sama seperti pertanyaan diatas juga unk program etabs..!!jd setalah di run mesti cetang apa unk menapilakan data eksentrisitas x dan y yg nantinya di masukan pd overide…

      • Eksentrisitas bisa dihitung dengan rumus di SNI gempa 2002 yang tergantung dari ukuran lebar dan panjang denah bangunan.

      • ketika menghitung beban gempa dinamik pd program etabs itu kan mesti mencari inersia lantai bangunan, klo misalnya bentuk bangunan tidak teratur ky segitiga ato jajarn genjang..itu gmn cr mencari inersia nya pak?

      • Kalau beban dinamik kan sudah otomatis dihitung oleh programnya, untuk rumusnya saya kira di buku2 acuan analisis struktur/mekanika bahan mungkin ada.

      • ok.mas…

        kira – kira kapan buku jilid yg keduany terbit? kira2 bulan apa dan cara pembelianya sprti jilid pertama ato bebas di jual di toko buku..?

      • agak sulit mas klo ky kmrn..berulangng kali di sms ga ada balasan..akhirnya cb cari info ke temen sekedar ikut baca2 bukunya sekaligus meminjamnya..!

        oiyah mas klo mau desain beban gempa unk bentuk bangunan L apakah mesti di buat dua tinjauan antara bentuk bangunan yg besar panjang dan pendeknya ato di tinjau dengan bentuk L..?

      • Tergantung struktur gedungnya, jika ada dilatasi/pemisah bisa dianalisis terpisah namun bila tidak ya harus dimodelkan jadi satu. Kalau memang ada kesulitan sms sebaiknya diinfokan via blog ini juga supaya nanti bisa dibantu tindak lanjuti.

      • klo unk dilitasi sndiri unk bentang panjang kira2 max brp m’ sehingga bangunan wajib di dilitasi..??

        oiyah kebetulan ada dilitasi pd bentik L nya..ok, jd di hitung terpisah bisa yah mas..!

        kira2 kapan buku yg jilid 2 terbit mas..? biar bs cek ke blog ini, krn g bs setiap saaat ol mas..kira2 bulan apa??

      • Untuk bangunan dengan bentuk denah tak beraturan dianjurkan diberi pemisah/dilatasi pada bagian perubahan bentuk/sambungannya, tidak tergantung panjang/lebarnya. Jika sudah terbit nanti pasti diumumkan, ditunggu saja tanggal terbitnya, Insya Allah bisa segera.

      • mau tanya mengenai portal struktur beton mas..apa ada ketentuanya klo portal itu hanya satu atau dua arah sajah? bgmn jika portal beton itu tinjaunya lbh dr 2 arah tinjuan yg dikarenakan posisi balok yg saling tumpang yg dikarenan posisi kolom yg berjauhan

      • Satu / dua arah itu maksudnya 2 / 3 dimensi tinjauannya ya. Tinggal menyesuaikan pembebanannya saja kalau akan ditinjau secara 2D, beban balok melintang dijadikan beban titik di kolom atau balok induk penumpu.

      • tanya lagi mas…
        1. klo pas saat kita mendesain gedung beton dng etabs, saat kita mendefinisikan kombinasi beban, pd bag. Load Combination Type apa yg msti kita pilih, apakah ADD, ENVE, ABS, SRSS???

        2. misalnya kt menghitung struktur gedung beton dng etabs, analisisnya menggunakan beban gempa static ekivalen (qx dan qy) dan beban gempa dynamik (RSPx,RSPy) secara bersamaan, saat kita mendefiniskan kombinasi beban apakah apakah kita mesti medefinikan kombinasi beban tsb??? misalnya 0,9D +/- E (Qx,Qy,RSPx, RSPy)..?

      • Add itu semua tipe beban ditambahkan, Enve diambil terbesar/terkecil dari beberapa tipe beban, Abs diambil nilai mutlaknya. Lihat manual (analysis reference manual) hal. 298 untuk lengkapnya. Antara statik dan dinamik dalam satu kombinasi dipilih salah satu saja, misal D+L+Qx, lalu D+L+RSx, jangan D+L+Qx+RSx.

      • Mohon Koreksi Pak..
        Saya sedang merencanakan sebuah gedung kantor 2 lantai dng data2 :
        1. Ukrn bangunan (x dan y) 10,1 x 23,8 m, Tinggi lt. dasar 4m, Tinggi lt. atas 3,6, Peruntukan gedung kantor (Live load 250 Kg.m2), Lokasi kota bandung (zone gempa 4), Kondisi tanah lunak
        2. Lalu masuk ke tahap pembebanan di plat lantai dasar LL = 250 Kg/m2, SDL = 171 Kg/m2, DL di hitung otomatis, lalu beban titk akibat kuda2 baja ringan di ringbalk lt atas sebesar 35 Kg beban dinding di balok2 lt. atas 815 Kg.
        3. Setelah itu saya mengitung berat bangunan dengan perintah assign group name dng hasil :
        Group SelfMass SelfWeight TotalMassX TotalMassY
        ALL 15.644,53 153.577,16 44.062,58 44.062,58
        LT DASAR 13.753,43 135.012,82 40.071,44 40.071,44
        LT ATAS 1.891,10 18.564,34 3.991,14 3.991,14
        4. Lalu masuk ke perhtngan Momen inersia unk gempa dinamis dng rumus
        Momn Ineersia Lt. dasar = 135.012,82*((11,9*11,8)+(5,5*5,5)) = 1.880.194,12 kgm4
        Momn Ineersia Lt. atas = 18.564,34*((11,9*11,8)+(5,5*5,5)) = 258.527,8 kgm4
        5. Lalu menentukan
        Kordinat Pusat Masa
        Koordinat X = 11,9 ed = 12,495
        Koordinat Y = 5,05 ed = 5,3025
        Kordinat Pusat Rotasi
        Koordinat X = 11,9 ed = 12,495
        Koordinat Y = 5,05 ed = 5,3025
        Lalu memasukan nilai tsb ke grid etabs.
        6. Lalu klik define dan pilih mass source lalu pilih Form Self and spesipic mass (plng atas)
        7. Lalu beri tanda draw point ke pusat kordnt pst masa dan rotasi lt. atas dan memasukan massa dan momen inersia dng cara klik assign, joint point, additional point mass lalau masukan 18.564 ke direction x dan 258.527 ke rotation z dan bgtu selanjutnya unk lantasi dasar.
        8. Bersambung…sampai dng ini mohon koreksinya klo ada salah..

      • Saya mau mengomentari saja untuk masalah penempatan massanya karena saya biasanya pakai SAP. Karena Anda memakai joint mass maka perlu dipastikan beban berat sendiri struktur tidak terhitung ganda. Kalau pada hitungan massa joint sudah terkandung nilai berat sendiri struktur maka pada mass source sepertinya perlu dipisahkan dari massa yang akan dihitung. Kalau di SAP pakai pilihan from element and add.mass and load, pada load-nya tidak diikutsertakan berat sendiri, hanya beban mati tambahan (asumsi sudah terhitung di joint mass), jadi pada load case dipisah juga beban mati akibat berat sendiri dan beban mati tambahan. Bisa lihat juga tulisan di sini.

  2. salam pak, maf sekali sy mahasiswa sipil.
    sy mau brtanya pak,
    pada sni gempa ada nilai A0 ( PERCEPATAN MUKA TANAH)
    nilai2 tsb di peroleh dr mana y pak?? apakaha ada perhitungannya agar kita bisa menentukan nilai A0 sesuai jenis2 tanahnya pak??
    atau memang di dpt dr grafik sprti di atas pak?? ini jd prtnyaan diskusi ktka ada tgs gempa pak.. sy sndri krg bgtu mengerti..
    tlg pencerahannya pak..
    salam..

  3. Makasih pak buat infonya, sngat membantu skali.
    Ternyata Respon Spektrum Rencana SNI 1726-XX ini sangat jauh berbeda dg 1726-02, dimana klo SNI 02 utk tanah keras selalu memliki perceptan maksimum yg plg kecil dibanding dg jenis tanah yg lainnya, sdgkan SNI yg bru ini TIDAK SELALU sperti itu, bisa jadi malah tanah keras memilki percepatan max yg plg besar diantara yg lain. Kira2 apa yg menyebabknnya pak??
    Oya, kpan buka sap jilid kedua terbit pak?? hehe…

  4. trimakasih atas pnjelasannya pak, oh ya sy mau brtnay ttg waktu getar dinamik apakah ada pembatasana waktu getarnya?? melihat di sni gempa pasal 6.2.1 hanya statik yang memiliki batsan waktu getar.
    sy membandingkan waktu getar statik msh memenuhi syarat pasal 6.2.1, tapi bgaimana dgn dinamik pak??
    pd output etabs untk dinamik, nilai waktu getarnya melebihi T=zeta x n ( pasal 5.6)..
    tlg masukannya pak..

    • Analisis statik dan dinamik semua dibatasi oleh pasal 5.6. Untuk statik pasal 6.2.1 adalah untuk pengecekan terhadap waktu getar asumsi awal, jika terpenuhi maka selanjutnya dicek juga syarat pasal 5.6. Lihat juga beberapa komentar di halaman Download tentang waktu getar alami statik/dinamik.

  5. trimakasih pak atas pnjelasnnya n info nya,,,
    bgni pak, sy sdg menghitung nilai eksentrisitas rencana untuk gedung beraturan dgn bntuk simetris n typikal. shgga nilai eksntrisitas hsl etabs nya sama pak untuk pusat massa dan kekakuan arah x 12 m, juga untukpusat massa dan kekauan arah y 7,5 m.
    shgga nilai e adalah nol karena massa lantai dan konfigurasi strukturnya adalah simetri.

    tp walaupun e nya 0 tp ttp di hitung kan pak nilai enksentrisitas rncananya??
    dgn rumus suatu titik koordinat pusat massa, yaitu
    koordinat x = xcr + edx
    koordinat y = ycr +
    nah, jdnya dptnya arah x 13 m, arah y = 8 ,5 m.
    yg sy tnya, apakh perlu dimasukkan nilai trsbt ke etabs pak?? krn mnrt sy dr awal nilai eksntrisitasnya sm pak.. tp knpa nilai eksntrisitasnya bertmbh y pak??
    tlg pnjlsnnya pak mngenai eksntrisitas pak..
    trmksh bnyk….

    • Eksentrisitas sebaiknya dimasukkan, lihat alasannya pada Penjelasan SNI gempa 2002 (Lampiran A) tepatnya A.5.4.3, ada penjabaran/penjelasan penyebabnya. Intinya, antara hitungan teoritis dan kenyataan akan terdapat perbedaan baik dari segi mutu material dan penempatan posisi elemen, sehingga perlu diperhitungkan kemungkinan penyimpangan tersebut dalam bentuk tambahan eksentrisitas.

  6. Mas Purbo, mau nanya nih.
    Dari keluaran program online ada 2 buah tabel. Yang sebelah bawah saya sudah ngerti pemakainnya atau cara input ke software.

    Kalau yang sisi atas inputnya ke mana ya? PGA, SS, S1, CRS, CR1. Heheheh Maaf masih awam, masih menunggu buku anda keluar heheheh

  7. aslamualaikum pak..

    izin tanya tentang daya dukung pondasi bored pile atau strauspile

    1. dari hasil penyelidikan tanah dng alat sondir (kapasitas 150 kg/cm2) di hasilkan nilai qc dari kedalaman 1 m sampai 11,9 m yaitu 15 kg/cm2, lalu pada kedalam 12 m qc nya baru mencapai 150 Kg/cm2..setelah itu dalam gambar rencana sy menggambarkan kedalam strauspile sedalam 12 meter, sementara dlm perhitungan daya dukung pondasi sy mesti mengambil nilai qc brp? apakah sy ambil nilai max nya yaitu 150 kg/cm2 atai nilai 15 kg/cm2 ?? atau brp??

    2. apa fungsi tulangan dlm pondasi bored pile atau strauspile?? krn yg sy baca di buku perhitungan tulangan straupile itu unk memperhitungankan kemungkinan pondasi tiang tsb mengalami patah ketika diangkat oleh TC, analisis sprti ini bs di lakukan jk pd pondasi pre cast, smntara strauspile kan tdk ada pengangkatan oleh TC..mohon bimbingannya..thank’s

    • Sebaiknya lihat juga acuan di referensi buku-buku fondasi. Kalau tidak salah yang saya tahu dipakai nilai reratanya. Tulangan bisa sebagai antisipasi terhadap susut beton dan juga struktural untuk tahanan momen terhadap kemungkinan adanya gaya lateral (akibat gempa, tekanan tanah, dll.).

      • maksud bapak nilai rata2nya? jd yg dipakai nilai 15 kg/cm2?…klo antisipasi susut beton dll seperti yg bpk tuliskan di atas, lantas metode analisisnya apakah sama dengan metode analisis antisipasi patah ketika pengangkatan?

      • Rerata di sekitar ujung tiang, bisa lihat di buku2 fondasi, dinyatakan dalam jarak sekian kali diameter tiang. Kalau susut dinyatakan dalam persentase, bisa lihat di SNI beton untuk batasannya, dan kalau tiang menahan beban lateral dianalisis sebagai tiang terjepit sampai kedalaman tertentu yang dibebani lateral sehingga timbul aksial dan momen (sifat seperti kolom).

  8. asslm pak… sy tika.
    pak, sy mau brtanya ttg nilai massa dan momen inersia pada eksentrisitas rencana. sy memakai analisis dinamik. sy masukkan nilai eksentrisitasnya pada edit grid data sesuai buku desain sistem rangka pemikul momen dari its press.
    lalu sy masukkan nilai massa per lantai dan momen inersia disetiap perpotongan koordinat pusat massa titik eksentrisitas. hasilnya kok malah simpangan dan waktu getarnya bertambah 10 kali lipat sblm memasukkan nilai massa da momen inersia ya pak??
    prtnyaan sy, apakah perlu memasukkan massa n momen inersianya pak??

    pertnyaan kedua sy, untuk yg analisis statik bgaimana ya pak cr memasukkn nilai eksentrisitasnya dan apkh jg di masukkn massa ddan momen inersianya mengningat pd statik sdh dihtg berat lantai.

    trims

    • Wa’alaikumsalam, perhitungan waktu getar dan analisis dinamik akan selalu membutuhkan massa, sehingga input massa semestinya harus ada dalam hal tersebut, baik secara manual maupun otomatis. Yang jadi pertanyaan kemudian adalah waktu running sebelum ada input manual joint mass, massanya dihitung dari mana? Kalau massa sudah terhitung otomatis, maka tidak perlu input lagi secara manual, seperti ulasan di tulisan ini atau bisa juga baca buku Seri 2. Sedangkan untuk analisis statik tidak membutuhkan massa karena sudah berupa gaya lateral.

      • trimakasih pnjlasannya pak,
        sy sdh baca seri 2 yg bapak tulis, dsna sy tdk melihat bapak memasukkan nilai massa dan momen inersia analisis dinamik : pada assign > joint point> additional point mass.
        sdgkan skripsi yg sy baca dia memasukkan nilai massa dan momen inersia pd assign mass dlam analisis dinamik stlh dia menentukan point object/titik pusat massa eksentrisitas pak.
        sy coba buat sprti itu, tp kok malah nilai simpangan nya mencapai 10 x lipat besarnya dr simpangan analisis statik pak?
        apakah sebenarnya tidak perlukah pak memasukkan nilai massa dan momen inersia pd analisis dinamik? krn mnrt sy itu sdh otomatis dr spektrum respon nya??
        tlg pnjelasnnya pak, sy jd galau.. hehhe
        trimaksh pak…

      • Penempatan massa otomatis atau tidak itu tergantung dari pemodelannya dan orang yang memodelkan lho, yang penting harus konsisten. Dalam buku tidak diberikan lagi penempatan joint mass karena semua beban baik berat sendiri elemen maupun beban tambahan semisal finishing lantai sudah dimasukkan dalam model, sehingga tinggal setting saja sumber massa seperti di hal. 95. Perhatikan pilihannya dari loads, karena beban DEAD sudah termasuk berat sendiri dan juga beban mati tambahan. Kalau dipakai element & add.mass nanti beban mati tambahan dan beban hidup yang berupa load jadi tidak terhitung (terlalu kecil massanya), sedangkan element & add.mass & loads jadi terlalu besar karena berat sendiri terhitung ganda (di element & di loads). Intinya, penempatan massa menyesuiakan dengan pemodelannya, terutama beban berat sendiri. Apakah berat sendiri elemen dipisah dalam load case tersendiri atau jadi satu dengan beban mati tambahan seperti contoh buku, nanti cara assignment-nya berbeda. Baca juga uraian dua paragraf terakhir di hal. 94.

  9. asslm.pak.
    maaf mau tanya pak, dalam prhtungan gempa kita kan memperkirakan waktu getar alami nya ( analisis statik dan dinamis).
    nah, yg sy tanya apakah waktu getar yg kita hitung itu adalh waktu getr yang nantinya diprediksi sbg waktu getar gempa (periode berlangsungnya gempa) ktika trjadi gempa pak??
    bukankah waktu brlangsungnya gempa hanya bs diketahui setelah trjadi gempa pak??

    prtnyaan sy slanjutnya, ketika terjadi getaran tanah dr pusat bumi ( hipocenter) ke arah bangunan, pasti ada waktu nya kan pak?? bagaimana ya cara atau rumus menentukan waktu merambatnya getaran gempa dr pusat bumi ke bangunan pak??

    trimakasih ya pak, mohon penjelasannya…..

    • Wa’alaikumsalam. Waktu getar alami struktur itu bukan periode waktu lama terjadinya gempa, tapi sifat dari strukturnya sendiri. Gampangnya mungkin ibaratnya seperti pendulum, yaitu waktu yang diperlukan untuk melakukan satu kali ayunan bolak-balik, dan akan tergantung dari kekakuan dan massa struktur. Makin kaku strukturnya makin kecil waktu getarnya, makin besar massa makin besar juga waktu getar, dan demikian sebaliknya. Jadi tidak ada kaitannya dengan ramal-meramal berapa lama gempa akan terjadi. Waktu rambatan gelombang dari pusat gempa tergantung dari jenis tanah dan batuan. Bisa diketahui dari rekaman data akselerogram.

      Terakhir, mohon agar kalau komentar tidak perlu berulang di halaman/topik lain. Semua komentar harus melalui proses moderasi sebelum dapat terpampang di halaman blog, dan saya tidak bisa setiap saat sempat mengakses blog. Juga tidak perlu posting komentar yang sama di FB atau email. Harap bersabar saja, maaf kalau tidak bisa seperti mesin penjawab otomatis yang langsung bisa merespons pertanyaan setiap saat.

  10. Mau nanya pak, kalau untuk menghitung gempa pada jembatan acuan SNI tersebut apa bisa digunakan? terus bagaimana cara menghitung beban gempa untuk jembatan, apakah setiap komponen diperhitungkan atau hanya struktur abutmen dan wingwall aja yang diperhitungkan, terimakasih sebelumnya pak..

  11. Selamat Siang Pak Purbo,

    saya mau tanya, misalkan kita mau mendisain struktur gedung lantai 2 di wilayah gempa 5 dengan dimensi penampang kolom /balok nya < 25cm(misal kolom 13/40 cm) apakah hrs menggunakan SRPMK (di etabs; sway special) atau bisa pakai sway ordinary saja dengan bebab gempa wilayah 5? Terimakasih sebelumnya atas waktunya.

    • Untuk struktur 2 lantai yang sederhana apalagi dengan batasan ukuran yang kecil (mungkin ukuran sebaiknya bisa sekitar 15 cm agar penempatan tulangan tidak terlalu rapat) jika dipakai sistem SRPMK memang konsekuensinya akan bisa menjadi mahal, jadi bisa dicoba dengan desain sistem yang lebih longgar (SRPMM).

  12. mw nanya pak.. saya sedang merencanakan bangunan tahan gemoa dengan menganalisis kedua ragam gempa,yaitu analisis statik dan dinamik(respon spektrum). mnurut bapak mana gaya gempa yang lebih besar dihasilkan?
    apakah gaya gempa yang berasal dari statik atau gaya gempa yang berasal dari dinamik,, jika lebih besar yang statik,mengapa demikian,dan bila lebih besar yang dinamik,mngapa juga demikian,terima kasih pak..

    • Tergantung dari strukturnya, bisa lebih besar statik bisa juga hasil dinamik, yang jelas ada batasan bahwa gaya geser dinamik minimal 80% (SNI2002) dari statik.

  13. Pak Purbo,

    Saya mau nanya tentang kombinasi pembebanan..
    Bila saya memperhitungkan beban mati, beban hidup, dan beban gempa (statik ekuivalen UBC97) maka kombinasi nya yg tepat seperti apa ya pak? Apakah dibawah ini sudah tepat?
    Mohon koreksinya ya pak..
    Terima kasih banyak..

    1,2D + 1,6L
    1,2D + 0,5L + Ex + 0,3Ey
    1,2D + 0,5L + Ex – 0,3Ey
    1,2D + 0,5L – Ex + 0,3Ey
    1,2D + 0,5L – Ex – 0,3Ey
    1,2D + 0,5L + Ey + 0,3Ex
    1,2D + 0,5L + Ey – 0,3Ex
    1,2D + 0,5L – Ey + 0,3Ex
    1,2D + 0,5L – Ey – 0,3Ex

    • Untuk kombinasi pembebanan mengacu pada desain struktur yang bersangkutan yang sesuai, misal gedung beton mengacu ke SNI beton, bangunan baja mengacu ke SNI baja atau mungkin AISC, dst. karena masing-masing peraturan memberikan faktor pengali yang berbeda.

  14. Purbo, aku udah coba run program interaktifnya Puskim + ITB ternyata eh ternyata masih belum matang sama sekali, saya gak tahu apakah tidak ada masa uji coba sebelum dirilis ke publik karena bisa dikatakan ini sudah official. Apa ini semacam dagelan tingkat tinggi?
    1. Yang pertama masalah terlalu banyaknya parameter yg dipakai, apa iya praktisi akan memerlukan semua parameter tersebut? Eurocode 8 atau DIN 4149:2005-04 saja tidak serumit ini. Perlu ada kesepakatan untuk mengambil satu (atau 2) faktor representatif yg titik berat konservatif dan ekonomisnya disetujui pembuat kebijakan. Jangan malah membuat pusing para pengguna. Sedikit nakal, saya terpikir mungkin mereka mendorong supaya semua earthquake design agar ber”konsultasi” ke I**, toh logonya nongol disitu (sekalian tambah alamat email dan nomor telepon harusnya).
    2. Yang kedua inkonsistensi nilai yang tertera di halaman tersebut dgn grafik yg ditayangkan. saya coba plot data tabel tapi hasilnya jadi spektra yg aneh. Ada pula nilai Ts+0 yg value Sa nya berbeda dgn Ts. Kalau di OVJ ini bagian dimana aziz gagap muncul.
    3. Selanjutnya, nilai PGA pada period rendah (0,0x s) beda dgn Sa-nya, kalau ini karena faktor yg njilmet itu tadi maka sekali lagi menegaskan poin saya bahwa produk ini tidak siap pakai.
    4. kemudian, seharusnya diberi keterangan atau hyperlink ke referensi (SNI) dimana para pengguna bisa membandingkan nilai2 yang tercantum disitu.
    5. Mari kita berdoa, tidak ada orang jepang, jerman, inggris, amerika, india, china yg sempat membuka halaman itu supaya kita terhindar dari malu, amiiin.

    • Terima kasih mas Hendra atas tanggapannya, walaupun ini sebenarnya lebih cocok ditujukan kepada pihak pembuatnya, karena saya sendiri juga sebatas pengguna saja. Mudah-mudahan dari pihak yang berwenang ada yang membaca masukkannya ya (dan kemudian menindaklanjuti). Parameter-parameter yang tercantum itu kan mengacu pada Peta Hazard Gempa Indonesia 2010 yang ada penurunan/perhitungan rumusnya (bisa coba lihat di sini). Nilai Ts kayaknya ada yang meleset, sepertinya harusnya 0, T0, Ts, Ts+0.1, dst. atau 0,T0, Ts+0, Ts+0.1, dst. Memang versinya kelihatannya masih awal/pertama, jadi ya maklum saja kalau masih ada kurang sana-sini. Yang ‘aneh’ juga adalah peta grafik gempanya sudah keluar dahulu, sementara SNI-nya sendiri masih tahap draft, sedangkan Peta Hazard Gempa Indonesia 2010 tersebut terasa masih terlalu teknis untuk bisa dipahami langsung di lapangan tanpa panduan dari SNI-nya. Terlepas dari semua kekurangan tersebut, menurut saya tetap harus kita beri apresiasi dan support terhadap usaha pihak Puskim dan rekanan yang telah bersedia membuat program online ini. Dua hal penting yang perlu ditindaklanjuti adalah : update/revisi dan pengesahan SNI gempa terbaru (201x), sehingga kita tidak perlu malu-malu lagi kalau programnya dilihat baik oleh orang amerika maupun ameriki :).

  15. Terima kasih Purbo penjelasannya, saya coba download link-nya. Saya juga sudah kirimkan komentar saya ke alamat webmail Puskim bersamaan dgn komen saya yg sebelumnya di halaman ini, sampai saat ini mereka belum merespon. Tipikal alamat kontak web departemen di pemerintahan?

  16. ijin tnya pak,klo pengaruh gempa terhadap struktur bawah (pondasi pancang dan tie beam) ap y?,krn sy lg nyusun skripsi.mhon pnjlasannya.trim’s

    • Kalau dengan struktur fondasi pengaruhnya secara sederhana bisa ke gaya-gaya yang bekerja pada fondasinya (aksial/vertikal, geser/lateral/horizontal dan momen), selain itu juga ada tinjauan lebih detail terhadap interaksi antara tanah dan struktur fondasi (soil-structure interaction).

  17. masi bs nanya kan bang??
    hehehehe

    1. klo kita menganalisa kekuatan struktur dengan respon spektra (UBC 97) apa masi perlu menentukan titik eksentrisitanya, massanya dll??
    2. bagaimana kita memasukkan faktor reduksi gempa pada SAP klo kita merencanankn struktur dengan beban gempa respon spektra??
    3. bagaimanaka caranya kita tahu klo hasil out put SAP itu udh benar atw masi ada yg salah?
    4. bagaimana kita mengetahui struktur yg kita desiain udah termasuk dalam katagori aman dan ekonomis. krn pernah saya mendesain ruko 5 lantai dengan bentang arah x dan y 8m dan z 4m, hasil saya yg dapatkan adlah dimensi kolom yg agak besar menurut saya, yaitu sekitar 70 x 70 cm. (beban gempa adalh respon spektrum, zona 3 tanah sedang.)

    thx bg… :)

  18. Ulasan yg sangat membantu pemahaman tentang RSNI 201x….trima kasih Dik Purbo, kapan kita nginep di hotel bintang 5 lagi? hahaaaa….

    • Makasih juga kunjungannya mas Budi… sekamar bertiga bareng bos, sarapan buah asin, datang bareng pas pulang mencar sendiri2, satu garuda satu KA satu lion hehehe :)

  19. lama gk berkunjung ke blog pak purbo..ternyata semakin lengkap sj pembahsannya..
    dan para pengunjung yg sllu haus akan ilmu teknik sipil..
    sukses selalu buat pk Purbo dan tim Zamil nya,..
    terus smngat untuk berbagi,

  20. izin share link nya pak di fb sy,,
    biar junior sy bisa mengunjungi blog ini,sbgai bahan referensi bertanya2 sm ahlinya..heheh//

  21. Selamat siang Pak…

    Saya mau tanya, mana yang lebih berpengaruh waktu getar alami fundamental dibandingkan dengan rotasi arah z (RZ pada modal partisipting ratio). Secara terkadang waktu getarnya oke, RZ nya tidak, begitu juga sebaliknya. Apa waktu getar alami fundamental bisa di “akali” dengan menggunakan waktu getar dinamik pada C1x=Ar/T (apabila waktu getar alami dinamik lebih besar)?

    Terima kasih sebelumnya pak.

    • Saya kurang paham dengan maksud ‘rotasi arah Z tidak oke pada modal partisipating ratio’, yang perlu dicek pada participating mass ratio adalah nilai UX dan UY saja, dan nilai tersebut serta waktu getar fundamental harus memenuhi keduanya. Pada grafik respons spektrum, waktu getar (T) adalah input dan nilai C adalah hasil (output) pembacaannya. Jadi semestinya ya tidak bisa dibalik kan, karena nilai C ini yang dicari berdasar T.

      • Maksud saya,
        poin 1. bukankah pada modal participating ratio itu terdapat rx,ry, dan rz (dalam pikiran saya rx dan ry merupakan partisipasi massa yang harus > 90%, sehingga rz harus < 10% sehingga tidak terjadi torsi? (mohon diluruskan ya pak kalau salah).
        poin2. Sedangkan ada juga time period yang harus mengikuti pasal 5.6 sni 03-1726-2002.

        Diantara 2 poin itu mana yang lebih menentukan?
        Untuk poin 2, kalau lebih tinggi dari sni, berarti bangunan kurang kaku, tapi apakah boleh tetap dilanjutkan desainnya? Padahal untuk bangunan yang cuma 2 atau 3 lantai, terkadang lebih besat time periodnya.

      • Yang perlu dicek pada participating mass ratio adalah nilai UX dan UY saja yang harus memenuhi syarat 90%, bukan RX, RY, atau RZ (dijelaskan dalam buku Seri 2). Kedua sayarat tersebut wajib terpenuhi (T fundamental dan rasio partisipasi massa 90%). Memang untuk bangunan bertingkat rendah, syarat waktu getar ini terasa agak memberatkan, untuk bangunan yang sifatnya sederhana dan luasan kecil seperti ruko mungkin masih bisa ‘dimaafkan’.

  22. selamat malam pak….
    saya mau tanya, bagaimana cara melihat nilai output simpangan antar lantai dan output torsi tak terduga pada etabs??
    dengan menggunakan SNI 1726 2012
    mohon bantuannya pak…

    • Kalau di ETABS saya kurang tahu ya (maklum jarang pakai), kalau di SAP untuk simpangan antar lantai dihitung manual dari selisih output lendutan horizontal per lantai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s