UTF versus Mesh


Eh, ini bukan liputan hasil pertandingan lho… UTF itu maksudnya “Uniform To Frame”, dan “Mesh” itu maksudnya pias.

Setelah agak lama vakum karena beberapa kali harus keluar kota untuk urusan pekerjaan, dan sempat dag-dig-dug akibat status Merapi, ditambah lagi memang baru males menulis, kini tiba saatnya membahas tentang SAP2000 lagi… Jika menyimak judulnya (penjelasan di bawah judul maksudnya…), tulisan kali ini memang berkaitan terutama dengan pemakaian elemen shell untuk pemodelan pelat pada bangunan gedung. Di antara (atau malah semua?) para pembaca tentunya ada yang mengenal metode pelimpahan beban pelat lantai ke balok-balok gedung dengan pembebanan segitiga dan trapesium. Dalam metode tersebut, pelat tidak dimodelkan sebagai elemen namun hanya sebagai beban (termasuk berat finishing lantai dan beban hidup), sehingga model struktur gedung hanya mencakup elemen balok dan kolom saja. Hal ini terkait terutama karena keterbatasan metode perhitungan klasik struktur frame. Nah, seiring dengan berkembangnya jaman, dan mulai hadirnya program semacam SAP2000, kini tersedia pula metode alternatif: pelat dapat langsung ikut dimodelkan sebagai elemen dalam model struktur. Tulisan ini akan mencoba membandingkan kedua metode tersebut, dengan kaitannya terhadap pemodelan pembebanan uniform dan uniform to frame, serta pengaruh mesh. UniformUniform to frame? Mesh? Nggak gatal tapi jadi garuk-garuk kepala? Ikutin aja ceritanya, nanti juga manggut-manggut kok akhirnya…

Langsung saja, di sini akan dibandingkan 5 macam model struktur gedung sederhana 2 lantai dengan tinjauan beban gravitasi. Seperti yang disebutkan sebelumnya, dibuat model struktur frame dengan pelat sebagai beban saja, dan model dengan pelat sudah ikut disertakan sebagai elemen. Pada model dengan pemodelan elemen pelat, ditinjau pengaruh pembebanan tipe uniform dan uniform to frame. Termasuk pula adalah tinjauan terhadap pengaruh meshing alias pembagian pias-pias pada elemen pelat. Sebagai rekapitulasinya, model tinjauan kita adalah sbb. :

  1. Frame tanpa pelat, beban segitiga/trapesium
  2. Frame dengan pelat, beban uniform to frame, tanpa mesh pelat
  3. Frame dengan pelat, beban uniform to frame, dengan mesh pelat
  4. Frame dengan pelat, beban uniform, tanpa mesh pelat
  5. Frame dengan pelat, beban uniform, dengan mesh pelat

 

Pada model 2 s/d 5, beban pada pelat berupa beban luasan yang langsung diberikan pada pelatnya (ndak perlu dihitung dulu seperti pada model 1). Ada dua pilihan yang bisa dipakai, yaitu beban uniform dan beban uniform to frame, semua berupa beban per luasan (misal dalam kN/m2). Bedanya? Beban uniform diaplikasikan pada pelatnya saja, sedangkan pada uniform to frame beban luasan juga akan ditransfer secara otomatis oleh program menjadi beban segitiga dan trapesium ke balok-balok di sekitarnya. Lantas kenapa tidak langsung pakai uniform to frame saja, kan sudah jelas to? Beban uniform juga bisa dipakai kok, tapi ada syaratnya… Apa itu? Sabar donk, nanti juga dijelaskan kok. Kalau dijelasin sekarang habis lah bahan tulisan saya hehehe… Satu lagi, warna teks untuk kedua jenis beban tersebut nanti akan dibedakan supaya yang membaca tidak mudah bingung dan tersesat (tulisan beban uniform dengan warna merah dan uniform to frame warna biru).

Oh ya, sebelum kelupaan… mesh yang dipakai di sini adalah dengan automatic area mesh. Mau dengan divide area juga boleh sih, sama saja kok. Bedanya hanya di modelnya saja, dengan divide area model akan dibagi dalam pias-pias secara fisik sedangkan dengan automatic mesh hanya dalam analisisnya saja program akan melakukan pembagian pias secara otomatis. Biar lebih jelas, misal satu panel pelat dibagi menjadi 10 x 10 pias lewat divide area, maka akan didapatkan 100 elemen pelat untuk panel tersebut. Dengan automatic mesh, panel tetap akan menjadi 1 elemen, namun dalam analisisnya akan dihitung sebagai 100 pias/elemen. Jika ingin melakukan perubahan jumlah/ukuran pias, maka metode dengan divide area harus membuat panel/elemen baru lalu dibagi, sedangkan pada automatic mesh tinggal mengganti inputnya saja. Selain itu, mesh yang dimaksud di sini adalah mesh yang lebih detail/halus pada panel pelat antara balok-balok, jadi bukan hanya mesh pada lokasi baloknya saja.

Beban-beban yang ditinjau pada model struktur adalah beban mati (berat sendiri) dan beban hidup (penggunaan lantai gedung). Tentu saja ini adalah penyederhanaan saja agar mudah penyajian dan pemahamannya, misal beban mati bisa ditambahkan pula beban finishing keramik dll. Beban hidup pada model adalah sebesar 2,5 kN/m2 untuk pelat lantai 2 dan 1 kN/m2 untuk pelat lantai dak/atap. Monitoring dilakukan terhadap respon nilai maksimum lendutan serta momen lentur pada balok lantai 2 portal tengah untuk portal arah-X, dengan acuan model frame tanpa pelat (sebagai beban saja, Model no.1). Setelah melalui proses analisis yang cepat (ya iyalah… coba kalau model 50 lantai dengan denah tak beraturan…) maka sim salabim berikut rekap hasilnya, untuk tinjauan beban hidup saja (nomor urut mengacu juga pada nomor model) :

  • Lendutan lantai 2 portal tengah arah X
  1. 0,0611 mm
  2. 0,0619 mm
  3. 0,0617 mm
  4. 0,0574 mm
  5. 0,0658 mm
  • Momen negatif/positif balok lantai 2 portal tengah arah X
  1. 9,077/5,485 kNm
  2. 8,912/5,437 kNm
  3. 7,274/3,975 kNm
  4. 0,221/0,223 kNm
  5. 8,342/4,733 kNm

Pembandingan akan dilakukan per kelompok tipe portal, yaitu model 2 & 3 (beban uniform to frame) dan model 4 & 5 (beban uniform), dengan acuan ke model 1 (portal tanpa model pelat). Untuk model beban uniform to frame (2 & 3), baik respon lendutan dan momen lentur maksimum tampak mendekati respon model 1. Sedangkan pada model 4 & 5, ada perbedaan mencolok, yaitu pada model 4. Hasil lendutan mungkin masih memenuhi, tapi momennya jadi kacau, baik dari segi nominal nilainya maupun bentuk diagram momen… Ada apanya yah…

Coba ingat kembali, model 4 adalah model dengan beban uniform tanpa meshing. Pada beban uniform beban luasan akan langsung disalurkan hanya pada tepi-tepi (nodal ujung) elemen pelat saja. Oleh karena itu, respon lendutan memang masih memenuhi karena titik tinjauan adalah pada joint/pertemuan balok-kolom yang juga terdapat nodal ujung elemen pelat, sehingga beban uniform masih bisa masuk dalam perhitungan. Namun untuk respon momen lentur, di mana titik tinjauan adalah pada elemen batang, maka beban uniform tidak terlimpahkan ke balok karena ujung-ujung pelat hanya ada pada pertemuan/joint balok-kolom saja. Nah, perhatikan tuh model 5, sama-sama dengan beban uniform namun hasil lendutan dan momen bisa mendekati acuan model 1. Apa resepnya? Mesh. Ingat perbedaan model 4 dan 5 hanyalah pada meshing, dengan model 4 tidak dilakukan pembagian pias. Akibat adanya meshing pada model 5, maka beban uniform juga akan tersalukan ke balok karena pada elemen balok juga akan terbebani dari ujung-ujung masing-masing pias elemen pelat. Sedangkan pada model 4 beban hanya akan tersalurkan langsung ke kolom saja.


Terus, model beban uniform to frame, yang tanpa mesh dan dengan mesh (model 2 & 3) kok kayaknya nggak jauh beda ya… kalo gitu, pake yang tanpa mesh aja, biar lebih praktis dan cepat, ya kan ? Eit! Nanti dulu, jangan keburu syukuran… Harap diingat juga, model-model peragawati tadi eh salah… model-model struktur kita tadi baru sebatas tinjauan beban hidup saja lho, untuk keperluan tinjauan beban uniform vs uniform to frame. Nah, sekarang coba kita lihat apa jadinya bila kita bandingkan model 1, 2 dan 3 untuk pengaruh beban mati. Berikut hasil liputan eh hitungan nilai momen maksimum akibat berat sendiri pelat dan balok serta kolom (tinjauan masih pada balok lantai 2 portal tengah arah X dengan format momen negatif/positif, nomor urut masih mengacu nomor model) :

  1. 13,321/7,764 kNm
  2. 2,791/1,521 kNm
  3. 11,891/6,484 kNm

Wah, lagi-lagi model tanpa mesh elemen pelat (model 2) bermasalah… Siapa ni biang keroknya, hayo ngaku… Coba kita cermati jenis bebannya: pada bahasan sebelumnya, beban hidup berupa beban luasan uniform to frame, sedangkan di sini beban mati berasal dari berat sendiri elemen pelatnya (bukan berupa beban uniform to frame) sehingga sifatnya cenderung sama seperti beban uniform. Jadi… ya tetap perlu meshing juga kan. Hasil momen pada model 2 terakhir tadi juga akan mendekati dengan model 1 yang dihilangkan limpahan beban pelatnya (hanya ada berat sendiri balok), yaitu sebesar : 3,043/1,522 kNm, sehingga tampak bahwa beban mati hanya langsung tersalurkan ke joint/kolom.

Sebenarnya ada alternatif lain untuk beban berat sendiri pelat (dan finishing) dihitung tersendiri dan dijadikan beban uniform to frame, sedangkan berat sendiri elemen pelat di-nol-kan lewat modifier di area section-nya, yang menghasilkan momen: 13,096/7,712 kNm (tanpa memakai mesh pelat). Namun, akan muncul masalah lain, jika ingin mencari nilai lendutan pelat (bukan lendutan balok/joint) misal di tengah-tengah bentang pelat, karena deformasi pelat akan menjadi satu kesatuan blok. Bandingkan kedua gambar di bawah ini, bentuk lendutan portal dengan mesh pelat dan tanpa mesh.

Berhubung sudah menjelang akhir tulisan ini (karena sudah mulai capek mikir dan nulisnya…), akan penulis rangkumkan kesimpulan celotehan panjang lebar di atas dalam butir-butir berikut :

  • Pada elemen pelat lantai gedung, dapat diterapkan baik beban uniform maupun uniform to frame.
  • Diperlukan meshing pada elemen pelat lantai, terutama pada beban uniform, dan untuk beban uniform to frame guna mengakomodasi transfer beban berat sendiri pelat.
  • Alternatif lain untuk masalah beban mati pelat tanpa memakai meshing adalah dengan menjadikan berat sendiri pelat sebagai beban uniform to frame dan me-non aktif-kan berat sendiri pelat. Namun harap diperhatikan, metode ini tidak bisa mengakomodasi keperluan lendutan pada elemen pelat. Jadi, tetap direkomendasikan untuk menggunakan meshing.

Kok jadi seperti skripsi saja ya pakai kesimpulan segala… Jadi, demikian tadi kesimpulan dari hasil penyelidikan penulis. Harap dicatat juga, hasil di atas adalah masih sebatas pengaruh beban gravitasi dengan model portal sederhana. Mau pakai cara yang mana, terserah pada user, yang jelas masing-masing metode ada ketentuan dan konsekuensinya sendiri, tinggal dicermati saja biar tidak kesasar. Sesuaikan antara keperluan dengan modelnya: kalau tinjauan meliputi respon pada batang/frame dan pelat (misal gaya batang model frame atau lendutan pelat, dll.) maka akan dibutuhkan meshing yang lebih detail pada panel pelatnya, sedangkan tinjauan lainnya (misal hanya untuk reaksi, gaya batang pada truss, dll.) bisa cukup menggunakan mesh pada posisi baloknya (tanpa mesh pada panel pelat).

Nah, biar tambah penasaran (sekalian ngetes pemahamannya): kalo dilihat di Example Problems SAP2000 (tahu di mana mencarinya kan… dari menu Help), di Problem A (Concrete Wall & Steel Frame) ada contoh pemberian automatic mesh untuk area (shear wall/dinding geser); sedangkan di Problem C (Truss Frame) dan Problem Z (Response Spectrum Analysis) pelatnya tidak diberi mesh (hanya pembagian pada lokasi balok atau titik/joint utama saja). Kira-kira kenapa hayo… (Hint: cermati dan resapi kalimat terakhir paragraf di atas). Silakan dipikir-pikir sendiri ya… Kalau sudah dapat wangsit alias pencerahan nanti bisa di-share di komentar… :)

About these ads

51 responses to “UTF versus Mesh

  1. sejak versi 10 sdh capable distribuse beban 1way & 2ways scara auto.

    perlu dibedakan mana model yg menggunakan element FE dan mana yg bukan,

    pada cara pembebanan uniform (shell) menggunakan element FE plate/shell. beban akan selalu 2ways bagaimanapun geometinya. perlu penerapan meshing. DOF’s akan sangat banyak. Analisa dinamis menggunakan metode consistent mass. Diafragma real. check kekakuan element struktur banyak.

    kalo cara pembebanan uniform to frame (shell) tidak menggunakan element FE plate/shell, maksudnya dummy plate. yg digunakan hanya geometry saja bukan properties elemennya. beban tidak selalu 2ways, dapat juga ditentukan 1way. tidak diperbolehkan menerapkan meshing. DOF’s tidak banyak. Analisa dinamis menggunakan metode lumped mass. Diafragma asusmsi rigid/flexible. check kekakuan element struktur sedikit.

  2. assalaamu’alaikum, mau tanya nih mas purbo…..untuk perhitungan flat slab out put sap apa hanya sampai nilai momennya dan shear nya saja…trus cari tulangannya ( diameter besinya) harus manual?…mohon petunjuknya mas

    • Waalaikumsalam, waktu define area section bisa diinput data tulangan di modify shell design parameter. Output/hasil lewat Display > Show Forces/Stresses > Shell, Component Type pilih yang Concrete Design.

  3. assalamuailaikum, mau nanya lagi nih mas ……tentang moving load untuk bridge….kan ada kelas2 kendaraan sama jenis2 nya…disitu ada jenis P5, P11 P13 trus Hsn44 dll…….. maksudnya klasifikasi kendaraannya kalau di konversi ke standar indonesia yang berapa ton itu mas? mohon penjelasannya…terimakasih sebelumnya….

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
      Coba dilihat saja saat define vehicle diaktifkan show as/convert to general vehicle kan bisa kelihatan konfigurasi sumbu gandarnya dan bisa dihitung/jumlah beban totalnya (perhatikan satuannya).

  4. Blog nya bagus pak. pak mau tanya menurut pendapat bapak untuk anak-anak stm (SMK) bangunan kira-kira pas gak yah kalau dikasih pelajaran SAP. terima kasih sebelumnya.
    salam kenal (nunu guru SMK)

    • Terima kasih kunjungannya. Yang penting untuk belajar SAP untuk materi dasar seperti frame dan truss mesti tahu paling tidak basic untuk mekanika teknik dan mekanika bahan.

  5. pak artikelnya bagus-bagus, mungkin akan lebih bermanfaat lagi jika ada format PDF nya dan bisa di Download. hehe cuma saran sambil berharap. semoga sukses selalu pak.

    • Usulan yang bagus, saya memang ada ide untuk beberapa artikel atau kumpulan artikel terkait dibikin versi PDFnya, namun masih terkendala waktu. Tunggu saja mudah2an bisa terealisasi. Salam sukses juga.

  6. Mas,nyimpang sedikit dari tema,
    1.bedanya M11,M12,Mmax,Mmin ap y?
    2.rumus design tul.torsi di SAP2000 gmn y?ko g cocok antara hitungan As tulangan torsi manual dengan keluran hasil As dari SAP?misal hitungan manual tulangan torsi didapat 2D19,tp di hitungan SAP ktmu 4D19?
    trm ksi

    • Pada elemen shell, notasi Mab menyatakan momen akibat gaya Fab yaitu gaya pada bidang a searah sumbu b. Jadi misal M11 momen akibat gaya pada bidang 1 (bidang yang tegak lurus sumbu lokal 1) pada arah sumbu lokal 1, dst. Mmax/Mmin ya sesuai namanya max/min, tapi arahnya tidak selalu searah sesuai sumbu utama. Untuk desain coba cek dulu code yang dipakai serta kombinasi apakah sudah sesuai keinginan. Kemudian, hasil desain SAP tulangan longitudinal untuk menahan torsi belum termasuk yang untuk lentur: “This does not include the area of longitudinal rebar required for flexure, if any.” jadi untuk tulangan torsinya saja harus dikurangi dengan kebutuhan tulangan utama.

      • terima ksih untuk jawabannya mas,
        tp masih blm clear,
        untuk pertnyaan yang ke 2 di atas:
        code sudah sesuai SNI,dan kombinasi jg sudah di cek,
        misalnya contoh kasusny bgni mas,
        Perhitungan SAP2000 kebutuhan tulangan longitudinal(tump) untuk lentur As = 1146 mm2,kebutuhan tulangan longitudinal(lap) untuk lentur As = 725 mm2,dan kebutuhan tulangan longitudinal untuk torsi As = 1053 mm2,terus untuk kbutuhan tulangan torsinya saja berapa mas?
        maaf merepotkan,hehe,,,,

      • Kalo begitu yang tulangan tumpuan kan sudah mencukupi (1146 > 1053), yang perlu ditambahkan hanya pas tulangan lapangan saja (725 < 1053). Prinsip desain tulangan torsi hanya melengkapi tulangan yang ada, kalau tulangan terpasang sudah mencukupi ya sudah ok.

  7. ini yang saya cari2 dari beberapa hari yg lalu, cara distribusi beban pelat ke balok! terima kasih banyak udah dishare :)

    hmm.. tapi barusan saya coba ko hasil momennya beda antara meshing pake divide area sama automatic area mesh ya (saya masukkin besar beban yang sama dan sama2 make UTF)
    saya yang salah atau emang sdikit beda..?

    terima kasih bnyk ya

  8. mas purbo, sebenarnya ada ga sih aturan mengenai banyaknya meshing yang didefine itu? (contoh : meshing 9X9)

    • Sebenarnya secara garis besar makin banyak hasilnya bisa makin baik, tapi akan ada jumlah optimal tertentu yang bila diperbanyak lagi meshing-nya perubahannya tidak signifikan (bisa berbeda untuk tiap kasus). Ingat, meshing dalamcontoh tulisan ini terutama kalau untuk melihat lendutan pelat dan transfer berat sendiri pelatnya.

  9. Pak, bagaimana cara menampilkan parameter pushover, IO, S, LS (spektrum warnanya -sperti baja- dibagian bawah)?
    Bapak ada keturunan orang Malang, ya? Karena akronim nama bapak, Malangawan = awan malang = nawangalam (kebiasaan orang Malang membalik kata)
    Mengenai buku SAP2000 Seri 1, koq tidak membahas masalah ‘desing’, Pak?

    • Saat menampilkan deformed shape, dipilih yang tipe pushover, bisa disesuaikan juga step berapa yang ingin dilihat. Masalah “desing” maksudnya gimana ya…? Oya saya orang Jogja kok… :)

  10. Salam, mas, saya mau nanya, kalau untuk elemen solid, apakah seperti elemen pelat, yaitu devide solid sama auto mesh sama hasilnya ?. Saya sedang mencoba analisis SSI dengan sap. Caranya dengan memodelkan tanah sebagai elemen solid pada SAP2000. Apakah mas purbo pernah mencobanya ?

    • Untuk solid kok kayaknya sama, kalau ragu bisa coba Anda bandingkan dulu dengan model sederhana saja antara pembagian manual dengan auto-mesh, jika hasil sama maka bisa dipakai. Pemodelan tanah dengan solid bisa saja, hanya terkadang ada parameter geoteknik yang menjadi sulit dimasukkan sebagai input, misal sudut geser dll.

  11. oke,..melanjutkan shells with no stiffness tapi bukankah kekakuan + massa kita bisa masukkan manual??
    mohon penjelasannya, mengingat jarang sekali yang mau mendiskusikan hal ini dengan saya.

    terimakasih

  12. assalamu’alaikum pak Purbo..
    saya tertarik dengan pembahasan meshing yang bapak buat dan saya perhatikan pada example problem A dan C itu sama-sama menggunakan mesh, hanya saja problem A membuat mesh berdasarkan ukuran tiap pias yang diinginkan pada dinding geser, sedangkan pada problem C membuat mesh berdasarkan jumlah pias yang diinginkan pada pelat lantai. Yang saya kurang paham pak mengapa untuk pelat lantai pada problem Z tidak dibuat mesh, melainkan hanya menggunakan divide area? apakah fungsi divide area dan mesh area itu sama?
    mohon penjelasannya pak Purbo.

    • Divide area dengan auto-mesh sama saja hasilnya. Bedanya, dengan divide area elemen akan dibagi secara fisik, sedangkan lewat auto-mesh pembagian hanya pada waktu analisis otomatis oleh program tapi tetap menjadi satu elemen fisik. Jika nantinya akan diganti jumlah pembagian piasnya, auto-mesh lebih mudah karena tinggal diganti assignment-nya saja, sedangkan elemen yang sudah terbagi lewat divide area mesti digambar ulang dan dibagi lagi.

  13. salam pak purbo?
    mau tanya ni pak, dari judul tulisan diatas jadi sebaiknya untuk analisis respons spektrum (gempa) menggunakan UTF (meshing/tidak) atau uniform load (meshing/tidak) pak?
    dan untuk joint constraints apa bedanya body and diafragma pak?
    mohon penjelasannya.terima kasih :)

    • Jika memakai UTF sebenarnya tidak perlu memakai meshing, kekurangannya bentuk lendutan pelat akan menjadi kasar, sedangkan Untuk uniform load perlu memakai meshing. Constraint tersebut bedanya pada DOF yang menjadi satu kesatuan, diaphragm hanya pada bidangnya saja (punya kekakuan besar pada bidang tersebut tapi bisa melentur, seperti kertas karton tebal) sedangkan body pada seluruhnya (bergerak semua sebagai satu kesatuan pada semua DOF).

  14. assalamu’alaikum
    pak mw tny, untuk rangka yg ada balok anak’a atau ada balok yg menumpang apakah hasilnya akan sama??
    krna sy memodelkan bangunan, setelah running dan dilihat hasilnya brbeda dgn perhitungan manual..
    bagaimana memastikan klo balok anak menumpang k balok utama?? sehingga beban dr balok anak dpt tertransfer k balok induk

    trmksh

    • Wa’alaikumsalam, secara default jika ada balok yang bersilangan maka program sudah otomatis akan membagi batang di titik pertemuan. Untuk memastikan beban tertransfer ke balok anak dan induk maka hasil meshing sebaiknya dipastikan bertemu di lokasi semua balok (walaupun program juga sudah otomatis menghitung), cara yang mudah adalah saat pias pelat dibuat pada setiap pertemuan balok anak-induk, tidak hanya pada balok induk saja. Soal perbedaan dengan hitungan manual bisa saja ada karena hitungan manual mengandung beberapa penyederhanaan, di samping beberapa parameter yang mungkin juga berbeda atau belum tercantum.

  15. Pingback: Putus-Nyambung | The Web Logs of Purbo

  16. Pingback: Eksperimen | The Web Logs of Purbo

  17. Aslm.
    pak mw tanya , kenapa momen pada pelat lebih besar jika menggunakan uniform trus automatic mesh dari pelat yg menggunakan uniform to frame trus automatic mesh?

    • Kalau memakai uniform to frame memang akan otomatis dilimpahkan secara langsung beban luasan menjadi beban segitiga/trapesium, sedangkan dengan uniform maka transfer beban lebih seperti beban merata (beban akan dilimpahkan pada ujung-ujung pias), yang masih tergantung pula pada jumlah pias hasil mesh.

  18. Selamat malam Pak Purbo,

    Pak, di penjelasan Meshing Tools dan Automatic Edge Constraint di link ini:

    https://www.csiamerica.com/sap2000/modeling

    meshing nya itu ga harus setitik meshing ketemu dengan titik meshing di sebelahnya ya?
    terutama kalo misal dibentang kiri ada balok anaknya 1 tapi di bentang kanan ada balok anaknya 2, kan susah kalo harus pas titik2 meshing/devide itu ketemu ya?
    apakah itu sebenernya harus ketemu ya?

    saya pernah coba bikin struktur balok kolom yg ada kolamnya dan atasnya tertutup tapi ada void kecil. saya coba kalo titik meshing tidak ketemu hasil momen slab nya ga bisa halus rata menyambung, tapi kalo titik meshing ini ketemu hasilnya bisa halus momen slab nya.
    tapi kalo bentuk kolamnya tidak persis kotak kan agak susah ngepaskan titik meshingnya secara manual.
    waktu itu saya pake devide, karena masih perlu memperhatikan adanya balok2 anak, biar titiknya bertemu semua.

    mohon pendapatnya pak.
    makasi banyak Pak Purbo.

    • Gunanya edge constraint adalah untuk mengatasi masalah seperti yang diutarakan tersebut, jadi walaupun titik-titik pias elemen ada yang saling tidak bertemu program akan secara otomatis memperhitungkan keperluan titik tambahan agar analisis bisa menyatu. Contoh penerapan yang cukup jelas bisa dilihat pada Manual SAP2000 halaman 161.

  19. Pak Purbo, saya newbie nih di dunia SAP2000

    Mengapa momen pada balok apabila tanpa menggunakan mesh nilainya lebih kecil daripada menggunakan mesh? Kalau saya ingin menghitung kapasitas balok, beban pada plat sebaiknya saya memasukan pada beban uniform atau uniform to frame?

    Mohon penjelasannya Pak Purbo. Terima Kasih.

    • Yang Anda gunakan beban uniform atau uniform to frame? ‘Menghitung kapasitas balok’, ini maksudnya mungkin menghitung desain tulangan ya… Kalau dipakai beban uniform, perlu meshing; sedangkan uniform to frame, jika diperlukan mengecek lendutan lantai di tengah bentang maka juga diperlukan meshing, kalau hanya ingin melihat gaya dalam dan momen saja tidak perlu.

  20. bagus sekali pak ulasannya, sangat membantu, mohon maaf pak mau tanya agak menyimpang dari tema,
    pada pemodelan portal 2D beban pelat kan di jadikan beban amplop ke balok mjd beban merata kg/m
    tapi pada pemodelan portal 3D, beban pada pelat tidak perlu dijadikan beban amplop menjadi beban merata pada balok (tidak perlu dikalikan panjang bentang, cukup berat jenis x tebalnya shg menjadi beban merata (area) kg/m2)
    apakah asumsi saya benar ?
    mohon penjelasannya dan terima kasih banyak sebelumnya..

    • Asumsi sudah betul, tinggal dimasukkan beban per luasan saja pada pelatnya. Memang akhirnya akan diubah ke beban segitiga dan trapesium pada balok, namun dilakukan otomatis oleh program.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s