Kompilasi Foto Proyek (Part 2)


Melanjutkan sekuel pertama yang memuat foto-foto peralatan proyek, berikut kumpulan foto proyek bagian kedua, dengan fokus pada foto-foto pelaksanaan pekerjaan. Harap diingat pula, seperti pada penjelasan bagian pertama, sumber fotonya dari beberapa proyek jaman kerja praktek / kerja lapangan penulis dahulu, jadi memang terbatas dan tidak melulu fokus pada satu proyek tertentu saja. Oya, sebagai tambahan juga, sekarang pada tiap judul tulisan (tepatnya di bawahnya) ada kumpulan tanda bintang. Bukan untuk hiasan lho, tapi sebagai alat untuk rating tulisan tersebut. Jadi setelah selesai membaca, diharap untuk berkenan memberi nilai/rating (kurang, sedang, baik), sebagai feedback dan masukan untuk penulis guna mengetahui mutu dan manfaat tulisan/topik tertentu. Tinggal klik pada salah satu bintangnya, makin ke kanan artinya makin baik :).

Kembali ke topik foto proyek, supaya runut dan urut, pengelompokan foto berdasar waktu, mulai dari tahap awal berlanjut seterusnya sampai akhir. Bukan akhir proyek lho, tapi akhir dari kumpulan foto yang tersedia hehehe… Harap maklum, yang ikut kerja praktek kan cuma dalam rentang waktu tertentu (minimal sih sampai absensinya memenuhi syarat :) ), dan belum tentu sampai selesai proyek. Oya, keterangan / penjelasan foto ada di bawahnya, dan demikian sebaliknya. Jadi misal ada keterangan “foto pertama“ maksudnya adalah foto urutan pertama dari beberapa foto di atas keterangan tersebut (bukan foto pertama di tulisan ini). Satu lagi, kalau fotonya ada yang kurang jelas silakan klik saja pada fotonya, nanti akan ditampilkan foto dalam ukuran penuh.

Mau dipakai sebagai referensi? Boleh kok, terutama foto-fotonya kan… Pengalaman pribadi penulis juga sih, mau bikin laporan kerja praktek, eh kok kurang beberapa foto. Jadi mau dipakai silakan, cuma ingat dua hal berikut :

  • Untuk foto laporan, pastikan latarnya sesuai (baca: tidak kontradiksi) dengan situasi proyeknya. Misal proyek jalan di pedalaman, mau ambil foto backhoe, eh ternyata di sekitarnya kok ada stek tulangan kolom… ini jadinya proyek jalan apa flyover ya hehehe… perhatikan juga beberapa foto ada tanggalnya.
  • Jangan lupa cantumkan sumbernya dari blog ini. Sengaja tidak penulis beri embel-embel tulisan pada fotonya, supaya tidak mengganggu pemandangan, tapi paling tidak ya hargailah upaya memilih dan memilah dan upload foto-fotonya yang cukup banyak :)

Oke, kita mulai dari tahap awal yaitu pembersihan lahan.

Foto situasi awal proyek kira-kira seperti tiga foto di atas. Ada yang masih relatif asli kondisinya, ada yang sebagian sudah mulai dikerjakan dan dipasang bouwplank.

Pekerjaan awal proyek terutama meliputi pembersihan lahan (foto kedua) dan pekerjaan galian/timbunan, terutama untuk persiapan fondasi atau pembentukan permukaan (foto pertama). Perhatikan foto kedua (proses stripping), bulldozernya sampai nge-trail naik begitu, benar-benar kerja keras ya… :) Untuk dua foto di bawahnya, adalah pekerjaan pada proyek pengembangan landasan (lahan luas). Masing-masing adalah proses grading (perataan permukaan, foto ketiga) dan pemadatan (foto keempat).

Gambar-gambar di atas adalah tahapan pengejaan fondasi tiang bor (bored pile). Foto pertama tulangannya sudah dirakit dahulu dan lokasi tiang sudah disiapkan galian lubangnya, setelah itu baru tulangan dimasukkan dalam lubang seperti foto kedua. Untuk pengecorannya digunakan bantuan pipa tremi agar tinggi jatuh tidak terlalu besar (menghindari segregasi / pemisahan kerikil dari adukan beton). Seperti di foto ketiga, pipa tremi dan corong di sini dibuat manual. Bila mau digunakan bantuan pipanya truk concrete pump juga bisa kok. Tulangan bored pile tadi pada bagian atas sisa dibiarkan menerus (ada stek tulangan) guna keperluan penjangkaran/sambungan dengan struktur pile cap / kepala tiang nantinya, seperti pada foto terakhir. Pada foto tersebut juga terlihat di sekeliling fondasi ada tumpukan batako, fungsinya sebagai bekisting/cetakan fondasi. Bedanya dengan bekisting biasa (struktur atas), di sini nanti setelah selesai cor tetap dibiarkan dan tidak dibongkar atau diambil dan langsung diurug tanah. Ya iyalah, mau diambil kan susah karena terpendam, gimana sih

Setelah fondasi tiang bornya rampung, kemudian beranjak ke balok penghubung/pengikatnya (tie beam) serta kepala tiang (pile cap). Foto pertama, tulangannya dirakit dahulu, untuk tie beam ini biasanya tinggi balok bisa besar sampai 1 m lebih. Lanjut ke foto kedua dipasang bekisting sampingnya, untuk bagian bawah terlebih dahulu diberi lantai kerja dari beton rabat. Setelah siap lalu terus cor saja di foto ketiga, dengan bantuan truk pompa beton dan pipa treminya. Wah ruwet ya situasi sekitarnya… Kalau sudah mengering betonnya bisa dibongkar bekistingnya, di petak-petak antar balok tie beam diurug tanah dan dipadatkan seperti telihat di foto paling bawah.

Beranjak ke kolom, foto pertama menunjukkan perakitan tulangan kolom, dibantu dengan scaffolding buat jalan naik tukangnya. Di sini tampak perakitan tulangan kolom untuk lantai atas. Foto di bawahnya adalah pemutusan/sambungan tulangan kolom, yang terletak pada hampir pertengahan tinggi. Sedangkan foto terakhir merupakan stek tulangan untuk akhir kolom atas (di atasnya sudah tidak ada lanjutan kolom lagi), jadi tulangannya dibengkokkan untuk penjangkaran ke balok-balok di atasnya.

Setelah tulangan siap, lanjut ke pemasangan bekisting kolom. Foto nomor satu menggunakan bekisting kolom persegi. Karena bekistingnya memakai cetakan dari kayu biasa (konvensional dirakit manual), bisa terlihat banyak tambahan balok-balok kayu di sepanjang tinggi kolom sebagai penguat/penyangga saat pengecoran nanti. Jika memakai bekisting fabrikasi (foto kedua, di sini contoh bekisting fibre bundar), terlihat jumlah perancah bisa dikurangi seperlunya saja untuk penyangga karena bekistingnya sendiri sudah dirancang cukup kuat menahan tekanan beton segar. Sedangkan foto ketiga mirip dengan yang pertama, namun di sini dipakai horry beam (tanpa ’n’ lho ya…), yang bentuknya mirip truss kecil warna kuning itu, yang juga bisa mengurangi jumlah perancah (bandingkan dengan foto pertama yang tampak ruwet…) karena horry beam sendiri sudah cukup kaku, tinggal memberi sokongan secukupnya saja.

Kini saatnya ngecor kolom, bisa macam-macam juga caranya. Di foto pertama pakai cara manual, dari truk mixer kemudian dituang ke tempat sementara lalu dibawa/diangkut manual dengan ember dan dituang ke dalam cetakan kolom. Jangan lupa pipa treminya lho… Cara ini hanya berlaku tentu untuk jumlah kecil saja, kalau puluhan kolom dibegitukan semua wah kasihan donk… Cara berikutnya hampir mirip cara pertama, tapi di sini dipakai bantuan bucket alias embernya tower crane (foto tengah) jadi volume bisa lebih banyak dan lebih cepat. Di foto terakhir cara mengecornya ’minum’ langsung dari pipa truk pompa beton.

Terus… lunch break! Lho ?? Iyalah, capek menulisnya, jadi ikut-ikutan foto di atas saja break dulu ya hehehe… kalau langsung ditulis semua juga jadinya buanyak sekali, plus yang browsing biar tidak terlalu berat loading-nya. Tapi jangan khawatir, akan segera disambung pada bagian ketiga dan terakhir dalam waktu dekat.

To be continued …

About these ads

9 responses to “Kompilasi Foto Proyek (Part 2)

  1. Assalamu’alaikum kang purbo…
    Manteb tenan juragan siji iki…

    Sedikit meminta pencerahan, berdasarkan pengalaman pelaksanaan pekerjaan proyek sampean, punya referensi harga sewa alat2 berat gak kang?
    Syukur2 dilengkapi deviasinya sesuai daerah..

    Suwun sebelumnya kang…

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb. bang Khoirul… moga tambah mantebs juga hehehe…
      Ono link apik di sini, sumbere soko websitenya pak wiryanto, monggo coba didonlot aja…
      Matur nuwun…

    • Terutama adalah masalah segregasi alias pemisahan kerikil dari adukan yang potensial menimbulkan keropos, sehingga perlu diperhatikan tinggi jatuh, alternatif bisa juga dengan memakai beton khusus dengan slump yang tinggi.

  2. gmn sistem penulangan pada pertemuan kolom dan balok ??trs pengecoran pada pertemuan kolom-balok itu gmn caranya???

  3. Pingback: Kompilasi Foto Proyek (Part 3 – Habis) « The Web Logs of Purbo

  4. slam kenal pak Purbo.

    Saya banyak belajar dari blog ini.

    Saya mau tanya terkait dengan penggunaan semen:
    – pada pengecoran bored pile pada proyek yg bapak menggunakan semen tipe I atau tipe II?
    – Menurut bapak untuk pondasi foot plate dengan kedalaman 2 mtr dengan kndisi bangunan di tepi pantai apakah, jika saya menggunakan semen tipe I masih aman terhadap ketahanan beton?(jika desain umur bangunan untuk 25 tahun)

    Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s