Tips Kerja Cepat (& Tepat) SAP2000 (Part 2 – Kerja Tepat)


Nah, ini dia topik inti dari judul posting ini. Lumayan panjang karena banyak bahasannya dan harus menyertakan beberapa tautan dan contoh-contoh, jadinya lama dan jadwal terbit juga meleset hehehe… Bagi yang belum membaca, sangat disarankan untuk berkunjung ke bagian Pendahuluan yang menguraikan latar belakang panjangnya tulisan untuk posting ini, sekaligus alasan pentingnya untuk mengetahui cara “kerja tepat” di SAP2000. Oke, berikut beberapa tipsnya guna mengecek dan lebih memastikan akurasi pekerjaan kita :

  • Angka + satuan

Jika pada bagian sebelumnya dibahas tentang pemasukan rumus secara langsung (agar tidak perlu menghitung manual atau harus membuka program lain), di sini akan diulas pemasukan input angka dan satuan secara langsung. Maksudnya? Misalnya Anda ingin memasukkan data kuat tekan beton, satuan default yang sedang aktif adalah dalam kN, m. Data yang Anda peroleh ternyata dalam satuan MPa, atau mungkin kg/cm2. Cara biasa untuk mengatasinya adalah dengan mengganti dahulu satuan yang aktif ke N, mm (untuk MPa) atau ke kg, cm. Alternatif lain, masukkan saja seperti ini dan tekan <Enter> :

Input akan diubah ke satuan yang aktif secara otomatis. Gampang kan, selain cepat juga bisa lebih akurat. Saat scrolling untuk mengganti satuan, bisa saja keliru, misalnya kgf, m salah klik pada kgf, mm (karena letaknya memang berurutan) tanpa kita menyadari. Contoh lain saat input dimensi penampang, misal satuan aktif dalam m sedangkan data dalam cm, daripada konversi ‘manual’ (alias hitung di awang-awang) yang kadang bisa salah, bisa langsung dimasukkan seperti berikut  :

Namun harap berhati-hati juga, jika pada angkanya terdapat desimal (misal 17,5 MPa) bisa muncul error, atau malah dianggap tidak terdapat koma. Untuk hal ini, disarankan memakai cara sebelumnya.

  • Tanya ke “Help

Saat memakai program, ada kalanya beberapa bagian dari interface yang tampil pihak pengguna merasa kurang jelas akan fungsinya atau penggunaannya, misal tentang keterangan isian pada saat input tipe beban (Load Case) di pembahasan Pendahuluan, tentang Self-Weight Multiplier.

Ketika kotak input Define Loads tampil, tekan tombol F1 pada keyboard. Otomatis akan tampil fasilitas bantuan (Help), yang juga akan langsung menuju pada bagian yang sesuai (Define Load Cases), sehingga pengguna tidak perlu susah payah mencarinya. Pada Help ini tersedia beberapa penjelasan tentang bagian-bagian input. Perhatikan kalimat pada penjelasan tentang Self-Weight Multiplier :

Normally a self-weight multiplier of 1 should be specified in one load case only, usually the dead load case, with all other load cases having a self-weight multipliers of zero.

Faktor pengali berat sendiri bernilai 1 cukup dimasukkan sekali saja (lainnya bernilai 0). Bila dicermati juga kalimat berikutnya, input faktor ini dalam dua load case berbeda bisa mengakibatkan berat sendiri terhitung dua kali, sesuai dengan penjelasan yang ditulis di posting terdahulu.

Intinya, kalau ada feature dari SAP2000 yang belum terlalu dipahami (terutama saat ada tampilan kotak dialog), bisa langsung pencet F1 untuk menampilkan Help yang langsung akan menampilkan keterangan pada bagian yang sesuai. Selain itu, manfaatkan juga fasilitas Search di Help untuk menemukan yang sedang dicari, misal tentang “shell”, “local axes”, “girder”, dll. dan akan ditampilkan beberapa link Help dengan topik terkait.

  • Baca petunjuk

Ini seharusnya menjadi PR atau tugas pertama saat mulai belajar SAP2000. Dari pabriknya program ini memang sudah dibekali dengan petunjuk penggunaan dan kawan-kawannya. Coba akses menu Help > Documentation… .

Daftar yang tampak dalam gambar tersebut merupakan dokumen-dokumen format PDF sebagai penjelasan dari program dan acuan bagi penggunanya. Untuk menampilkan dokumen yang dimaksud, bisa pilih pada judul dokumen lalu klik Display Selected Document, atau langsung klik dua kali. File dokumen juga bisa dibuka langsung pada alamat folder instalasi program (default di C:\Program Files\Computers and Structures\SAP2000 11\Manuals).

Acuan terutama tentu adalah “Analysis Reference Manual”. Mulai dari obyek elemen sampai analisis dinamik dalam SAP2000 dijelaskan dalam manual tersebut, sehingga sangat dianjurkan bagi pengguna untuk memahaminya, paling tidak untuk bagian yang sedang ditinjau, misal pembahasan untuk sumbu lokal elemen guna pembacaan output. Sebagai pembuka atau pengantar, baik juga untuk disimak “Introductory Tutorial”, yang menjelaskan cara pemakaian program secara singkat disertai contoh kasus sederhana. Tersedia pula dokumen verifikasi program di bagian “Verification”, yang merupakan perbandingan dengan hitungan manual untuk bermacam kasus, sebagai bukti ampuhnya program ini. Hehehe… ibaratnya seperti senjata, kalau senjata alias programnya sakti, penggunanya juga mesti tidak kalah sakti supaya dapat menggunakannya bukan?

  • Belajar dari contoh

Contoh yang dimaksud di sini adalah contoh langsung yang sudah disediakan oleh program, sehingga dijamin pasti valid dan tidak perlu ragu-ragu, walaupun mungkin memang belum semua kasus dapat tercakup. Ada dua macam contoh yang bisa diacu, yaitu dari Verification dan Example Problems. Untuk Verification yang dimaksud adalah sama seperti pada pembahasan butir sebelumnya, yang selain diakses dokumen rekapitulasi hitungannya, dapat juga diakses file input SAP2000 (ektensi .sdb). Verifikasi dibagi atas beberapa grup topik, misal untuk Frame, Shell, Cable, dll. Misal diambil contoh untuk file 2-009 (Plate on Elastic Foundation) yang termasuk kategori bahasan Shell.

Dalam tiap dokumen verifikasi, biasanya sebelum perbandingan hitungan manual, di atas bagian Conclusion dicantumkan nama file yang bersangkutan. Lokasi file ini seara default ada di folder C:\Program Files\Computers and Structures\SAP2000 11\Verification.

Model-model verifikasi ini memang terutama bertujuan sebagai pembanding dengan analisis secara manual, beberapa bahkan mengambil referensi dari acuan populer seperti Timoshenko, dll. Namun file tersebut dapat digunakan juga sebagai bahan acuan untuk pembuatan model atau bagian model yang memiliki karakteristik serupa. Misal pada pemodelan gedung dengan fondasi rakit, untuk bagian fondasi tentu dapat mengacu pada contoh verifikasi tersebut, misal untuk properties penampang pelat, atau assignment modulus subgrade sebagai modelisasi tanah.

Contoh yang kedua adalah dari Example Problems alias contoh-contoh kasus tertentu (dan termasuk penyelesaiannya) yang juga sudah disediakan pembahasannya. Contoh bisa diakses lewat fasilitas Help, di bagian Example Problems.

Tersedia 26 contoh kasus, yang semuanya mendemonstrasikan kemampuan analisis dari program, mulai dari tahap input sampai outputnya. Tinggal pilih contoh kasus yang mendekati / mirip, lalu ikuti langkah-langkah pemodelannya. Memang, contoh-contoh di sini semuanya menggunakan satuan US (in, feet, ksi), namun yang lebih penting adalah tahapan pembuatan modelnya, yang tentu bisa dijadikan acuan.

  • WWW

World Wide Web alias internet, tempat Anda berselancar di dunia maya sampai akhirnya ‘nyasar’ ke blog ini hehehe… Maksudnya, carilah juga referensi di internet, bisa yang official alias resmi atau tidak. Yang resmi tentu saja dari pabriknya sendiri (CSi), dengan alamat www.csiberkeley.com, atau bisa lewat menu Help > CSI on the Web… . Ada banyak technical paper dan video tutorial yang membahas feature tertentu dari program, gratis kok. Sebagian contohnya juga ada di halaman Download, yang penulis ambil dari situs tersebut, silakan dinikmati sambil dipelajari (kalau mau lengkapnya, langsung saja ke TKP alias lokasi). Wah, tapi kok versinya ndak sama dengan punya saya ya? Memang versinya sudah yang paling gres, tapi beberapa feature masih sama prinsip penerapannya, sehingga bisa tetap dipelajari (lebih baik daripada tidak ada sama sekali kan?).  Kalau referensi yang non-official? Salah satunya ya yang sedang Anda baca ini :) … bisa juga melihat-lihat beberapa blog rekanan di bagian kanan bawah sidebar. Bisa juga berkunjung ke forum semacam di eng-tips.com. Sambil surfing, dapat ilmu, yes!

  • Cek input!

Setelah selesai membuat model nan ruwet plus rumit, kadang dengan pede-nya kita langsung klik saja tombol “peresmian” alias tombol Run Analysis. Lho, kan memang sudah jadi, terus mau diapakan lagi, donk? Alangkah baiknya jika sebelumnya melakukan pemeriksaan sekilas terhadap model, baik bahan, penampang, pembebanan dan assignment lainnya. Memang, penulis akui sendiri kadang malas juga untuk mengecek, enaknya ya langsung ‘run’ aja hehehe… Namun, terutama untuk model yang rumit, hal ini dapat menghemat sedikit waktu bila ditemui kesalahan input (dan langsung diperbaiki sebelum analisis), dibandingkan dengan harus mengulang analisis yang mungkin bisa memakan waktu cukup lama.

Untuk geometri model, bisa dilakukan dengan review per bidang (XY, XZ, dst.). Misal pada model gedung, contoh kasus balok yang biasanya digambar di bidang horizontal (XY) setelah dicek di bidang portal (XZ atau YZ)… eh, ternyata baru ketahuan ada balok yang kurang atau malah seharusnya tidak ada di tempat/bentang tertentu. Lakukan juga review tampak perspektif 3D, jangan lupa sambil diputar-putar kanan-kiri bawah-atas ya… Kadang bisa ketahuan kalau ada batang yang ‘kelebihan’, misal karena saat proses menggambar dengan fasilitas Replicate namun jumlah batang yang di-copy salah / belum diganti dan hasilnya ada batang yang nongol di luar bidang/grid yang didefinisikan sehingga tidak nampak saat di tampilan bidang vertikal.

Penampang elemen bisa dengan cepat dicek, dengan memanfaatkan fasilitas Extrude View (menu View > Set Display Options…). SAP2000 akan menampilkan tampak visual dari penampang batang, sehingga pada kasus tertentu bisa sekilas diketahui bila ada penampang yang belum sesuai, misal untuk bentuk, ukuran maupun juga penempatan sumbu lokal (sumbu kuat dan lemah) terutama untuk kolom. Aktifkan saja sekalian pilihan View by Colors of : Section (masih pada Display Options) agar ketahuan tipe batang berdasar warnanya.

Untuk model yang menggunakan template dari SAP2000 (misal membuat gedung dengan template 3D Frames), untuk batang-batang yang masih memakai section default (FSEC1) bisa dengan cepat dicek dengan memanfaatkan fasilitas Select. Akses saja menu Select > Select > Properties > Frame Sections… lalu pilih FSEC1 dan OK. Pada layar tampilan perhatikan sisi kiri bawah baris status. Jika muncul tulisan “… Frames Selected”, berarti tipe batang FSEC1 masih ada pada model.

Jangan lupa pula mengecek beban-beban yang sudah Anda pikulkan pada sang model iklan eh model struktur. Untuk menampilkan beban, akses menu Display > Show Load Assigns, lalu pilih Joint untuk beban pada joint dan Frame/Cable/Tendon untuk beban pada batang. Jika pada model juga ada beban pada elemen Shell, pilih Area untuk menampilkannya. Tahap selanjutnya tinggal pilih tipe beban yang ingin dilihat dan klik OK. Perhatikan bila tombol OK tidak aktif, berarti untuk tipe beban yang dipilih pada model tidak ada pembebanan tersebut. Misal untuk beban titik, saat dipilih beban LIVE tombol OK tidak aktif, berarti pada model tidak ada beban titik dengan tipe LIVE, sedangkan saat tipe beban DEAD tombol aktif, jadi ada beban titik tipe DEAD pada model. Ini juga bisa dengan cepat memeriksa apakah ada tipe beban yang belum masuk. Kesalahan yang umum adalah beban tergantikan secara tidak sengaja, misal pada suatu batang sudah diberi beban merata tipe DEAD (beban mati), kemudian akan dimasukkan beban hidup merata (tipe LIVE), namun saat input beban tipe beban lupa belum diganti (masih DEAD). Nah, saat ditampilkan beban tentu pada tipe LIVE tombol OK menjadi tidak aktif yang juga bisa memberitahu kita bahwa tipe tersebut belum ada/masuk pada struktur (akibat kesalahan tadi).

Periksa pula satuan pada beban. Memang hal yang sepele, tapi juga mungkin menjadi kesalahan yang umum terjadi. Misal satuan yang aktif dalam kN, akan dimasukkan beban dengan satuan Ton, namun saat pembebanan lupa tidak diganti atau disesuaikan. Maksud hati membebankan 1 Ton, jadinya cuma 1 kN, padahal seharusnya 1 Ton = 9,81 kN, wah hampir 10 kali lipatnya… jelas donk strukturnya pasti jadi aman banget, padahal…

  • Amati proses!

Kalau tadi dicermati inputnya, sekarang waktu analisis sedang berjalan (setelah tombol Run Analysis diklik) prosesnya sebaiknya juga perlu dimonitor, jangan asal langsung tahu beres aja hehehe… Itulah pula kegunaan dari adanya layar SAP Analysis Monitor yang akan setia hadir setiap analisis berlangsung. Amati tulisan-tulisan yang muncul saat analisis berjalan, juga setelah selesai analisis juga masih dapat di-review kembali sebelum klik tombol OK. Waduh, sudah terlanjur klik OK… Jangan khawatir, coba buka saja file bernama sama dengan nama file model tapi berekstensi .log (buka dengan editor teks seperti Notepad atau Wordpad) di folder/lokasi tempat file model tersimpan. Isinya ya tulisan-tulisan yang nampak di layar SAP Analysis Monitor saat running analisis tadi. Wah… alamat foldernya lupa keselip di mana ya… Oke deh, buka saja dari SAP2000 lewat menu File > Show Input/Output Text Files, otomatis akan langsung menuju ke folder yang alamatnya entah di mana tadi. Tinggal pilih nama file yang sesuai dengan yang dibuka dan klik Open.

Wah, tulisannya banyak banget tuh… plus pakai bahasa luar angkasa eh luar negeri lagi… Oke, paling tidak coba cermati apakah dalam deretan teks tersebut tercantum kata-kata seperti “Error” atau “Warning”. “Warning” merupakan peringatan akan adanya kekurangsesuaian dalam pemodelan yang menyebabkan analisis terganggu, namun demikian biasanya SAP2000 sudah memberikan alternatif penyelesaiannya sehingga analisis tetap bisa sampai tahap “complete”. Kalau “Error”, wah sudah parah tingkat kesalahan input pemodelannya, sehingga analisis lazimnya tidak akan bisa diteruskan (alias gagal).

Coba perhatikan gambar di atas yang sebelah kanan. Dalam analisis ditemukan munculnya pesan peringatan (warning), dalam kasus ini adalah analisis mode shape dengan jumlah mode yang dicari (lihat huruf B = 15) melebihi jumlah derajat kebebasan (degree of freedom, DOF) total (A = 12), sehingga SAP2000 otomatis membatasi jumlah mode. Pada gambar sebelah kiri, modelnya terlihat cukup sederhana, portal 3D dengan jumlah nodal bebas (atas) 4 buah, dan DOF arah 1,2,3 berarti total = 3 x 4 = 12. Angka inilah yang jadi batas maksimum jumlah mode yang bisa dicari (number of modes sought) pada kasus ini. Pintar ya programnya? Harap hati-hati juga, meskipun kemudian “Analysis Complete” tetap terpampang di layar namun sebaiknya tetap dicek biang keladi penyebab munculnya “Warning” tersebut.

Nah, kalau yang satu ini contoh yang “Error”. Bukan error contohnya lho… Maksudnya, contoh analisis yang menemui kesalahan alias error dalam prosesnya, dan akibatnya program “ngambek” alias gagal menganalisis. Silakan lihat gambar di atas. “Illegal load on element type”, ada pembebanan yang tidak sesuai dengan sifat elemen strukturnya. Yang mana tuh ? Cek gambar berikut :

Perhatikan gambar sebelah kanan, tipe elemennya adalah plane-stress alias elemen tegangan bidang. Artinya, pembebanan pada elemen tersebut juga seharusnya hanya ada pada atau sejajar bidangnya. Tapi coba lihat gambar yang kiri, bebannya kok malah tegak lurus pada bidang elemen, alias salah arah, jelas tidak sesuai dengan kapasitas elemennya. Mau ditunggu sampai kiamat pun jelas tidak akan pernah berhasil analisisnya hehehe…

Jadi, biasakan sebelum meng-klik tombol OK dengan pede, scrolling dahulu layar SAP Analysis Monitor sembari mencari tulisan “ *** WARNING *** ” atau malah “ *** ERROR *** ” (kalau ada, mudah-mudahan saja sih tidak ada hehehe…). Terutama harus dicek adalah untuk pesan “Warning”, karena analisis bisa cenderung selesai dan mungkin tidak diketahui, sementara untuk “Error” analisis bisa terhenti di tengah jalan sehingga lebih mudah dideteksi.

  • Cek output!

Nah, kalau dari hasil cek input dan saat analisis (tampaknya) sudah benar, sekarang perlu dicek pula untuk outputnya. Kok pakai kata ‘tampaknya’? Walaupun dari input sudah benar dan analisis nggak ketemu sama mas error atau mbak warning, belum menjamin hasilnya benar. Contohnya? Masih ingat dengan kasus kedua di bahasan sebelumnya kan, tentang contoh kedua (analisis portal dengan beban gempa time history). Input sudah masuk, analisis ok, tapi hasil keliru. Kenapa? Input rekaman gempa sudah masuk tapi belum di-assign ke analysis case yang akan diproses sebagai beban pada struktur. Kalau meminjam istilah salah satu dosen penulis, hasilnya jadi ‘rubbish’ alias sampah, tidak akan berguna karena salah :( … Indikatornya? Hasil output kombinasi non-gempa dan gempa tidak berbeda, sehingga (seharusnya) sangat jelas keanehannya, ada sesuatu yang terlewat atau terlupakan. Memang, untuk kasus-kasus lain mungkin tidak akan sejelas itu indikatornya. Misalnya, masih untuk contoh tersebut, keliru memasukkan nilai scale factor pada analysis case. Hasilnya akan keluar, dan akan ada perbedaan antara output kombinasi non-gempa dan gempa. Namun, hasilnya tetap saja salah karena faktor pengali tidak sesuai, yang (fatalnya) bisa jadi terlalu kecil dibandingkan dengan yang seharusnya terjadi. Kalau terlalu besar sih mungkin masih aman, tapi boros donk…

Sebagai perunut untuk mengecek output hasil analisis, salah satu hal yang mudah adalah dengan memeriksa respon struktur seperti lendutan atau gaya dalam. Untuk contoh pengecekan gaya dalam sudah terkandung dalam contoh model portal terdahulu. Untuk contoh cek lendutan, coba simak contoh berikut. Perhatikan bentuk deformasi struktur portal akibat beban pada pelat.

Wah… itu plat daknya kok malah jadi bergerak naik begitu ya, padahal teman-temannya (pelat lainnya) melendut turun semua. Ada setannya kali ya… ini dia setannya :

Bebannya arah gravitasi (ke bawah), tapi nilainya negatif (-1), hasilnya ya… jadi ke atas alias naik. Harusnya, nilainya tetap positif, atau bisa diganti memakai pilihan Z untuk direction. Kalau tidak dicek bentuk deformasinya, mungkin tidak akan terlihat kesalahannya, kan? Cara ini lumayan cepat dan mudah untuk pengecekan hasil analisis. Selain dari bentuknya, nilai deformasi juga sebaiknya dicek. Berikut contoh deformasi akibat beban gempa time history (maksimum) :

Wuih… displacement horizontalnya sampai 13 meter, bung! Apa nggak ambrol tuh gedung ya… Biang keladinya? Salah input nilai scale factor :

Bedanya dengan contoh terdahulu, yang ini maksudnya sudah benar akan dikalikan dengan nilai g = 9,81 kN/m2, namun salah memasukkan data desimal. Misal dalam system komputer pemisah desimal memakai simbol koma (,) namun dimasukkan input dalam SAP2000 dengan titik (.), maka akan diabaikan oleh program (demikian pula sebaliknya). Jadi jika dimasukkan nilai ‘9.81’ akan dibaca oleh SAP2000 sebagai ‘981’ (bukan 9,81 seperti seharusnya). Wow…

Sedikit tambahan untuk pengecekan gaya dalam, setelah selesai analisis bisa dicermati dahulu output pada salah satu batang, seperti balok dengan dimensi terbesar. Cek apakah gaya dalam yang terjadi sudah wajar. Jika ada keanehean, kemungkinan elemen-elemen lain juga akan ikut-ikutan jadi aneh (walaupun kalau sudah wajar belum tentu juga lainnya ngikut). Alternatif lain, misal untuk beton bertulang, bisa coba didesain salah satu yang terbesar tadi. Misal balok beton dimensi 30/60 momen ‘hanya’ 80 kNm dengan tulangan 2 D 19 kok sudah cukup, atau sebaliknya momen 850 kNm mau didesain sampai rasio tulangan melebihi maksimum juga nggak bakalan sampai. Memang bisa saja ada kemungkinan dimensi balok tidak memadai untuk struktur tersebut, namun sebelum bersusah payah mengganti dimensi-dimensi elemen lebih baik kalau dicek dahulu modelnya sendiri, bukan? Kalau modelnya memang ada kesalahan, mau diganti dimensi berapapun hasilnya ya tetap ‘rubbish’…

Untuk lendutan dan gaya dalam sebenarnya akan saling berkaitan, sehingga bisa dicek salah satu sebagai pembanding. Jika lendutan berlebihan atau terlalu kecil, demikian pula gaya dalam-nya. Output juga otomatis terkait dengan inputnya, jadi kalau ada output yang tidak wajar, pasti terdapat kesalahan atau kekurangan pada input, baik dari segi elemen model ataupun pembebanan (atau mungkin orangnya hehehe…).

  • Konfrontir cara manual

Jika memungkinkan, hendaknya hasil analisis di-cross check dengan hitungan manual, terutama untuk struktur sederhana seperti kasus simple beam di contoh terdahulu. Untuk struktur yang agak rumit pun sebenarnya masih bisa diterapkan, walaupun memang cakupannya akan terbatas. Ambil contoh portal kita terdahulu, coba amati momen maksimum pada salah satu batang tengah lantai kedua berikut.

Momen negatif maksimum akibat kombinasi 1,2 x beban mati dan 1,6 x beban hidup adalah sebesar 26 kNm. Ukuran balok adalah 20/30, bentang 4 m (ada balok anak antara), tebal pelat 12 cm, dengan beban mati luasan 1 kN/m2 dan beban hidup 2 kN/m2. Coba kita hitung sebentar dengan cara manual (balok jepit-jepit beban merata) :

Berat sendiri = 0,2 x 0,3 x 24 x 1,2 = 1,728 kN/m

Beban pelat = 0,12 x 2 x 24 x 1,2 = 6,912 kN/m

Beban mati luasan = 1 x 2 x 1,2 = 2,4 kN/m

Beban hidup luasan = 2 x 2 x 1,6 = 6,4 kN/m

Beban merata total = 17,44 kN/m

Momen negatif = 1/12 x 17,44 x 4 x 4 = 23,25 kNm (mendekati 26 kNm)

Memang tidak akan sama persis, namun selisihnya tidak terlalu jauh, sehingga model dan input sudah benar. Kalau angka di SAP2000 menunjukkan nilai jauuuh di atas atau di bawah nilai tersebut (misal cuma 5 kNm atau sampai 195 kNm), perlu dicek lagi model strukturnya. Tentu saja hal ini hanya untuk pemeriksaan cepat / awal saja, sebelum melangkah lebih jauh lagi ke sortir gaya dalam, desain, laporan, dst., jadi jangan keburu syukuran dulu kalau sudah oke hasilnya di sini hehehe… Untuk output yang lebih rumit (misal karena beban gempa) mungkin tidak bisa dicek secara langsung dengan cara manual, sehingga untuk kasus ini pakai saja cara perbandingan dengan kewajaran seperti yang diuraikan sebelumnya.

Oke, sampai di sini dahulu posting kali ini. Cukup panjang dan lama ya bacanya… apalagi waktu membuatnya hehehe… Yang penting kan tidak sia-sia Anda menongkrongi blog ini hanya untuk menunggu posting baru :) Tunggu juga bahasan-bahasan selanjutnya, hanya di channel ini (kayak siaran program ya…).

Wassalam.

About these ads

164 Responses to Tips Kerja Cepat (& Tepat) SAP2000 (Part 2 – Kerja Tepat)

  1. Komendan Popo mau nanya nih, bisa ndak kita bikin balok drop dari level 3.5 m ke 3 meter menerus
    (artinya baloknya zig zag 90 derajat 2 kali pada arah vertikal??? Makasih komendan

    • Bisa kok Kopral Sza… artinya ada balok yg jadi vertikal antara 3m dan 3,5m kan? Cuma selisih 0,5m itu yg perlu diperhatikan karena cukup besar.

  2. Mas purbo, saya mau ngajuin pertanyaan yang sampe sekarang belom ketemu jalan kluarnya…
    1. apakah bermasalah jika kita memodelkan balok dan pelat lantai pada satu as (grid-nya sama). Padahal as balok dan as pelat berbeda.
    2. pada analisis response spectrum, menurut SNI Gempa, hasil respon spectrum harus dikoreksi, pada SAP nilai koreksinya kita masukkan dimana? Apa bisa kita kalikan langsung pada “scale factor”nya?
    3. bagaimana cara kita mendefinisikan eksentrisitas pada gedung, setahu saya, pada SNI eksentrisitas ini harus diperhatikan.

    mohon balasannya…terima kasih mas purbo…

    • Salam mas Gede, kalo nyari jalan keluar coba cari tulisan “Exit” hehehe…. saya coba jawab ya :
      1. Gridnya beda? Maksudnya elevasinya mungkin ya? Bisa saja dimodelkan dalam satu elevasi.
      2. Yup, dimasukkan dalam scale factor di analysis case, jadi untuk input respon dari SNI, scale factor = I/R kali g (gravitasi).
      3. Dari analysis case yang response spectrum, sebelah kanan ada input eccentricity ratio.
      Demikian penjelasannya, mudah2an (tidak) tambah bingung…

  3. Ikut meramaikan nih mas purbolaras, kalau kita buat kolom di section designer bentuk L kenapa kok kedudukannya tidak di as
    balok2nya ya (setelah kita assign) ?

    • Sebenarnya tidak terlalu masalah mas Jono, karena harap diingat bahwa dengan section designer ujung-ujungnya adalah pemodelan dengan elemen frame (input yang berpengaruh adalah inersia, luas tampang, dll. tidak peduli bagaimanapun bentuknya). Yang bisa berpengaruh nanti kalo ada assignment: frame > insertion point, di mana as batang bisa tidak segaris dengan as denahnya.

  4. Itu yang menjadi masalah saya mas Purbolaras, gimana cara mengatasi hal tersebut? Apa ini ada hubungannya dengan tool cardinal point?

    • Itu kan karena secara default SAP akan memberi insertion point di sumbu as profil jadi tampilan visual jadi tdk segaris dengan as. Kalo menurut saya kok tdk terlalu masalah, kalaupun mau dipindah cardinal pointnya bedanya mungkin relatif kecil perubahan propertiesnya. Oya untuk membuat kolom L dari section steel yang angle dengan material beton juga bisa kok (tanpa section designer).

      • pake section steel dulu, terus kita sesuaikan dengan bentuk L yg kita mau, terus materialnya diganti concrete?

        stepnya sperti itu ya pak?

        nah, terus kan kita bisa tau section propertiesnya:
        Cross section
        Torsional constant
        Moment of Inertia about 3 axis
        Moment of Inertia about 2 axis
        Shear area in 2 direction
        Shear area in 3 direction
        Section modulus …..

        pertanyaan saya lainnya, gmn cara cek manual section propertiesnya?
        rumus2nya itu semua apa ya pak? ada website yg jelasin soal itu ga?
        jadi biar bisa cek, kolom L yg kita mau ini udah bener ga?

        yg saya temukan di web ini (tapi tidak selengkap Section Properties semua):
        http://www.efunda.com/math/areas/RectangularLBeam.cfm

        thx..

      • Langkahnya sudah betul, ambil dari steel, pilih bentuk L, lalu material diganti concrete. Selain luas tampang, momen inersia, jari-jari girasi dan modulus tampang memang rumusnya tidak banyak dibahas secara umum, walaupun beberapa mungkin ada (misal google dengan kata kunci ‘torsion constant‘). Terutama untuk bentuk tampang yang tidak sederhana, rumusnya bisa melibatkan perhitungan yang agak rumit sehingga didekati dengan algoritma perhitungan sub-routine dalam program, yang sayangnya sepertinya tidak diuraikan lengkap di manual. Paling tidak jika beberapa nilai properties sudah saling mendekati, bisa diasumsikan nilai lainnya pun serupa. Ada juga program yang bisa dicari di internet untuk menghitung nilai properties tertentu yang bisa dijadikan bahan perbandingan dengan hitungan dari SAP.

  5. Assalamualaikum mas popo mau nanya nih, bagaimana cara cepat kita menemukan titik tertentu sesuai dengan grid yang diberikan
    pada file .LOG apabila terjadi warning. Makasih sebelumnya.

    * * * W A R N I N G * * *
    THE SOLUTION LOST 6.1 DIGITS OF ACCURACY FOR DOF UY OF JOINT 1055
    LOCATED AT X = 3536.716, Y = 2132.444, Z = 3930.000,
    STIFFNESS MATRIX DIAGONAL VALUE = 3.7507E+09

    * * * W A R N I N G * * *
    THE SOLUTION LOST 6.2 DIGITS OF ACCURACY FOR DOF UX OF JOINT 1485
    LOCATED AT X = 3673.841, Y = 4469.007, Z = 3930.000,
    STIFFNESS MATRIX DIAGONAL VALUE = 7.3500E+09

    • Wa’alaikumsalam…
      Cara pertama, silakan tampilkan/aktifkan nomor/label joint dari View > Set Display Options, lalu dicari sampai ketemu (bisa lama hehehe)… cara kedua pake saja menu Select > Select > Labels… lalu ketik nomor jointnya dan OK, nanti jointnya akan diselect otomatis. Kalo melihat dari pesannya, coba dicek restraint di joint2 tersebut.

  6. Mas Popo mau nanya nih. Bisa ndak di berikan contoh verifikasi tentang plat
    karena saya kok ndak bisa sama ya antara pemodelan dengan hitungan manual.
    Dengan rumus 0.001*qu*Lx2*x misalnya. Untuk momen tumpuan dan lapangan. Makasih sebelumnya

    • Untuk kasus ini antara manual sama numerik mestinya memang ndak mungkin sama persis, yang penting selisihnya ndak terlalu besar. Apa sudah pakai mesh untuk elemen pelatnya? Coba diperhalus/diperkecil juga meshnya. Kalau mesh/pias masih kasar/sedikit transfer beban ke baloknya juga kurang baik. Pakai yang assign automatic area mesh saja biar gampang ganti2 ukuran meshnya.

  7. nglanjutin ni mas….pertanyaan nya yang dulu….
    1. apa gak masalah mas dimodelkan dalam satu elevasi? kan beda asnya?
    2. kalau masukkin eksentrisitasnya, langsung dari rumus SNI itu atau gimana? Maksdnya ada itungan khususnya lagi gak?
    3. kalau memodelkan beban elevator gimana mas caranya?

    Ini dulu mas….mg gak bingung lagi…thx

    • Sebenarnya tergantung juga, kalo beda elevasi relatif kecil misal pada lokasi toilet/WC model di satu elevasi saja, tapi kalo selisihnya besar mungkin perlu dipertimbangkan pembedaan elevasi. Eksentrisitas bisa pake rumus SNI, ato kalau ndak salah dari UBC 97 juga sama. Untuk beban elevator bisa dimodelkan sebagai beban titik (satu atau tersebar) di puncak (tempat mesin lift) untuk tinjauan kondisi paling berbahaya.

  8. thx sebelumnya mas..nah itu, apa ada perintah offset untuk menaikkan elevasi pelat lantai, yang awalnya kita modelkan satu elevasi? Hampir semua buku yang saya baca, memodelkan pelat lantai dan balok pada satu elevasi…(bingung)

    • Ooo.. kamsudnya elevasi pelat aktual di atas balok ya… baru donk sy hehehe….
      Memang lazimnya satu elevasi, kalo modelnya frame (balok) + shell/area (pelat). Jika pelatnya (atau baloknya) digeser naik/turun kan jadinya tidak nyambung antar 2 elemen itu kan? Kalo mau memang yang bisa digeser insertion/cardinal point dari baloknya (dari menu assign > frame) lalu pake yang top center (baru akan terlihat dgn tampilan extrude view), SAP hanya akan merubah nilai properties kekakuan balok namun modelnya ya sama saja tetap dalam satu elevasi, tidak masalah kok itu. Intinya, tidak semua hal di lingkungan nyata juga harus dimodelkan seperti aslinya.

  9. salam kenal mas purbo
    bole menanyakan beberapa hal di SAP2000
    karena saya lagi mencoba menyelesaikan tugas akhir
    menggunakan SAP 2000
    sehingga saya mw menanyakan
    saat kita menggunakan element shell di SAP dan kita membagi beban pelat 1 arah
    Apakah pembagian beban pelat 1 arah tergantung pada posisi horizontal atau vertikal?
    Karena pada saat saya masukan beban pelat 1 arah (Uk pelat 2 x 6 posisi 2 vertikal, 6 horizontal ) yang menerima beban adalah pada beam yng pendek ( beam uk 2 m ) tetapi saat posisi 6 vertikal dan 2 horizontal yang menahan beban adalah beam yang panjang ( beam 6 m )
    Apakah ada settingan saya yang salah atau masalah d program saya?
    Dan hasil running nya itu juga berbedakan?
    mohon penjelasan pak wir

    terima kasih sebelumnya

    • “mohon penjelasan pak wir”
      Ini kayaknya salah kamar ya mas hehehe…

      Untuk pelat, baik Anda maupun SAP tidak ada yang salah. Maksudnya? Saat assign beban uniform to frame, klik F1, muncul keterangan Help. Ada kalimat : “When the One-Way option is selected, the load is distributed in the Axis 1 direction.” Jelas kan? Untuk beban pelat 1 arah, distribusinya ke arah sumbu lokal 1 dari pelatnya.

      Secara default, arah sumbu lokal 1 akan searah sumbu X (atau “horizontal” menurut istilah Anda), sehingga pada posisi pertama (2×6) beban “lari” ke arah sumbu X (ketemu sama beam yang 2 m). Demikian juga saat posisi beam dibalik (6×2), karena sumbu lokal tetap, maka distribusi beban ganti berpindah ke lain hati eh lain beam yang 6 m.

      Oya, tentang penamaan “horizontal” dan “vertikal”, lebih baik diganti penyebutannya arah sumbu “X” dan “Y”. Karena memandangnya dari atas (bidang XY), memang terlihat seperti horizontal/vertikal (jadi sempat mbikin bingung hehehe).

  10. salam kenal mas purbo..,,

    mw numpang nanya ne..,,
    Klo untuk kuat total semua elemen penahan gaya lateral di suatu tingkat tertentu bisa gak kt lht d output SAP..??

    mohon penjelasan mas..,,

    • Maksudnya gimana ya? Apa semacam gaya geser di tingkat tertentu maksudnya? Kalo itu bisa memanfaatkan Section Cut (di-define dulu berdasar group kolom lantai tsb) lalu di output lihat di Structure Output > Other Output Items setelah Display > Show Tables.

  11. Apakah untuk struktur lantai dengan bondek ato precast HCS menghitung pembebanan terhadap balok dan platnya dengan memakai “uniform to frame” ???
    Bagaimana dengan beban sendiri bondek/hcs nya? Apakah sudah terhitung dengan arah one-way ato two-way? Mengingat beban sendiri plat sudah dimasukkan di Load Pattern dan Section Properties??
    Untuk plat bondek apakah input pembebanan bila sudah memakai “uniform to frame” apakah tetap diperlukan juga load “Load Uniform/Gravity”??
    Terima Kasih

    • Di SAP Untuk pelat bondek alternatifnya bisa dengan pemodelan memakai ketebalan ekuivalen bondek+cor beton, dan data material/berat bisa tetap dipakai beton karena berat luasan baja bondek jauh lebih kecil dibandingkan beton (kalo di ETABS sih sudah ada template-nya sendiri jadi lebih enak…). Sedangkan bebannya cukup uniform to frame saja, ndak perlu dua, nanti jadi double.

  12. Sudah saya trial dengan memakai tebal ekivalen dan data material beton diasa, namun kenapa untuk beban sendiri (selfweight) tetap terdistribusi two-way? tidak one-way?? Bagaimana caranya agar selfweight dapat terdistribusi one-way??

    • Kalo mau one-way saat assign beban uniform to frame ya dipilih yang one-way, perhatikan juga bahwa pada distribusi one-way beban akan “lari” ke arah sumbu lokal 1 pelat.

  13. oo gtu y mas..,,
    makasi y mas purbo..,,

    oh y mas..,,
    klo utk pusat massa am pusat kekakuan tiap tngkat bs d lht jg g’ dr output SAP..??

  14. maaf mas ngrepotin lg..,,
    buka file ‘ekstensi*out’ ny pake ap y..?
    trus utk ‘section cut’ msh bngng cara kerjany gmna..,
    mohon penjelasanny mas..,,
    maklum msh newbie..,,
    trima kasih bnyk sbmlmny..,,

  15. mas..,,
    stlah saya coba pakai section cut..,,
    kok outputny jd 0..??
    trus klo file’ ekstensi*.out saya buka pakai notepad hasilny gini..,,

    JOINTS UX UY UZ RX RY RZ
    1 TO 22 A A A A A A
    23 TO 33 – – – – – -
    dmna lht pusat massa ny mas..??
    mohon bantuanny mas purbo..,,

    • Tiap lantainya harus di-assign joint constraint dahulu (select satu lantai) dengan tipe diaphraghm, nanti akan terlihat di file .out :
      CENTER OF MASS
      GLOBAL U1 U2 U3
      X -0.545455 -0.545455 -0.545455
      Y 0.363636 0.363636 0.363636
      Z .000000 .000000 .000000

  16. salut buat blockny pak purbo ni,yg ud mw berbagi ilmu bt orang2..hal yang sy tanyakn adlah saat check struckture pada element kolom maupun balok muncul pesan o#s..klo kata guru saya sih artinya over stell alias,tpi tidak dijelaskan artinya,mohon penjelasanya…trims

  17. salam kenal mas…
    saya menginstall sap 2000 versi 14 di komputer saya tetapi tidak lama setelah dijalankan…saya baru nyampe kepada memberikan beban tiba2 sapnya crash keluar sendiri…saya tes dengan add model dari template kemudian langsung run juga gitu..sapnya lansung close sendiri tanpa ada penjelasan…
    please dong minta bantuannya………tolong dikirim bantuannya ke email saya…atau lewat posting ini mas…
    terima kasih sebelumnya…

    • Wah kalo yang beginian saya kurang mahir… mungkin bisa coba install ulang, atau coba di komputer lain bisa jalan ndak… saya juga belum pernah pake yang versi 14.

    • Pengalaman saya juga hampir sama. Khususnya untuk penginstalan SAP 2000 versi 14 dengan windows 7. Saya curiga SAP 14 nya yang masih trial. Mungkin ada pengalaman lain dari teman yang lain?

  18. mas mau tanya,,,
    untuk faktor skala kan rumus nya I/R dikali g
    nah semakin tinggi zona gempany maka nilai R jg makin besar,,
    akibatnya maikin besar zona nya makin kecil momenya karena faktor skalanya semakin kecil,,,
    apa benar demikian???

    • Faktor R (reduksi gempa) lebih tergantung kepada sistem struktur gedung/bangunannya. Kalo dipakai nilai R yang besar konsekuensinya sistem struktural (misal pendetailan tulangan dsb.) harus baik juga, sehingga bisa menjamin adanya reduksi energi gempa, jadi tidak bisa asal pilih nilai R.

  19. melanjutkan yg kemarin mas,,,
    misal saya melakukan analisis untuk bangunan denga zona menengah dengan nilai
    R=4.8
    faktor keutamaan gedung 1
    maka scale factornya menjadi 2.04
    dihasilkan momen lentur balok misal 15kNm
    lalu dengan file yg sama saya merubah menjadi zona khusus dengan nilai
    R=8, maka
    scale faktornya jd 1.225, alhasil momennya jd 14kNm (jadi lbh kecil dr zona menengah)
    saya jd bingung apa analisis sap yg saya lakukan sudah benar atau blm…

    • Kalo hanya bicara masalah hitungan matematika, ya begitulah ceritanya, tapi… harap ingat juga komentar saya sebelumnya : nilai R lebih tergantung kepada sistem struktur gedung/bangunannya. Jika berani memilih/memakai R yang lebih besar berarti sistem strukturalnya juga harus lebih baik, alias akan berpengaruh ke desainnya juga, tidak hanya dari segi analisisnya saja.

  20. salam mas,
    berarti dalam design kolom, direncanakan dengan momen sumbu 33 dan sumbu 22 atau biaxial. Jadi momen dari kedua sumbu dimasukan, atau salah satu tidak diabaikan.
    terimakasih, mas purba.

    • Yang lebih penting gaya aksialnya tidak terlalu besar (misal syarat SNI tidak melebihi 0,1.Ag.fc’), karena kalau terlalu besar perlu tinjauan sebagai balok-kolom, namun secara umum balok portal gedung mestinya masih memenuhi syarat tersebut.

  21. pagi mas… mo tanya gmn cara masukan data frame section u/ kolom bentuk T atau L
    berhubung sy disuruh hitung u/ rumah tinggal yg maunya kolom pipih rata dinding.
    kl sy masukan lewat add tee atau add angle stlh material sy ganti concrete.. reinforcementnya elemen classnya hanya mau untuk beam, pilihan yg kolom tidak aktif.
    mohon pencerahan ya mas… u/ si beginer ini :)
    trims sebelumnya

    • Ada alternatif lewat section designer (dari tipe Other), tapi itupun nampaknya masih tidak bisa mengakomodasi desain penulangan (ada error), jadi sebaiknya mungkin SAP untuk analisis saja dan desainnya secara manual.

  22. assalamu’alaikum pak purbo. saya coba menghitung 3d, tulangan geser balok aray Y o/s, sedangkan arah X tidak, padahal dimensi dan gaya gesernya hampir sama. bagaimana cara mengatasinya ?

    • Wa’alaikumsalam… coba cek dulu modelnya, mungkin assignment section balok, material dll ada yang berbeda, sehingga meski beban sama output desain jadi beda.

  23. Pingback: Akhirnya Terbit Juga … « The Web Logs of Purbo

  24. Assalamu’alaikum pak Purbo
    Selamat malam,
    perkenalkan saya mhs jur teknik sipil salah satu PTS di jogja yg sedang mengerjakan TA struktur.
    Saya mau bertanya, berharap Pak Purbo dapat memberikan jawabannya.
    Saya mengalami kendala dalam penempatan gaya gempa statik ekuivalen pada pusat massa lantai bangunan berkaitan dengan eksentrisitas pusat massa terhadap pusat kekakuan lantai bangunan. Karena setahu saya, bangunan yang terdapat setback vertikal, rawan akan momen puntir yang terjadi yang disebabkan karena adanya eksentrisitas tsb.
    Yang mau saya tanyakan adalah
    a. dalam pasal 5.4.3 SNI 03-1726-2002 terdapat pernyataan bahwa “ukuran horisontal terbesar denah struktur gedung pada lantai tingkat itu, diukur tegak lurus pada arah pembebanan gempa dinyatakan dengan b”. Misal: ditinjau eksentrisitas akibat beban gempa arah x, maka b adalah ukuran horisontal denah arah y (by), itu sepemahaman saya. tapi ada referensi yg menyatakan bahwa b tersebut bukan ukuran horisontal denah arah y (by), tapi ukuran horisontal denah arah x (bx). Mana yang benar pak?
    b. msh dalam pasal yg sama, terdapat pernyataan bahwa “dipilih diantara keduanya yang pengaruhnya paling menentukan untuk struktur atau subsistem struktur gedung yang ditinjau”. Maksud dari kata2 “yang pengaruhnya paling menentukan” itu apa pak? apakah yang eksentrisitas rencananya (ed) paling besar?
    c. saya sudah berusaha untuk melakukan perhitungan eksentrisitas menurut pemahaman saya. hasil akhirnya adalah msh terdapat eksentrisitas antara pusat massa dan pusat kekakuan lantai bangunan. namun perbedaannya adalah nilai eksentrisitas pusat massa dan pusat kekakuan lantai yang awalnya berbeda-beda tiap tingkat, setelah pusat massa masing2 lantai ditambahkan dengan nilai eksentrisitas rencana (ed) masing2 lantai maka eksentrisitasnya menjadi sama tiap tingkat. Apakah seperti itu pak maksud dari pasal tersebut? Membuat nilai eksentrisitas pusat massa dan pusat kekakuan menjadi sama tiap lantai tingkat?
    Demikian pertanyaan saya Pak Purbo, berharap bapak dapat membantu saya. Terima kasih Pak Purbo. Oiya, minal aidin wal faidzin pak

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb. …
      Wah pertanyaannya puanjang dan luebar hehehe mesti cermat membacanya ini… tapi ndak apa2, paling tidak bisa jadi jelas pertanyaannya, semoga jawabannya juga bisa jelas dan mencerahkan juga ya.

      a. Kalau dari definisinya sendiri sebenarnya sih sudah jelas: “diukur tegak lurus pada arah pembebanan gempa”, jadi kalau gempa arah x berarti b adalah arah y (seperti yang Anda maksud), sehingga akan menimbulkan torsi (ed akan menjadi lengan kopel terhadap gaya gempa). Kalau b diambil arah x kan jadi tidak ada jaraknya bukan… tidak akan timbul torsi, hanya translasi.
      b. Betul, yang menentukan adalah yang nilai ed-nya terbesar sehingga torsinya juga akan timbul yg terbesar/paling berpengaruh.
      c. Untuk yang pasal eh butir ini kok saya agak kurang jelas, kenapa pusat massa ditambahkan dengan nilai ed…? Bukankah data eksentrisitas dan massa diinputkan sendiri2, tidak digabung atau ditambahkan. Ini menurut saya lho, karena saya kurang paham dengan maksud yang terakhir ini, mungkin bisa diklarifikasi lagi.

      Itu tanggapan dari saya, semoga bisa membantu pemahamannya. Minal Aidin wal Faidzin juga…

  25. makasih banyak pak atas tanggapan na. sangat mencerahkan
    “Wah pertanyaannya puanjang dan luebar hehehe mesti cermat membacanya ini”
    iya ne pak, kebiasaan. cos dosen saya cermat sekali dalam hal redaksional, jadi kebawa2 dah. hehe
    untuk jawaban dari pertanyaan saya nomor a dan b sudah jelas.
    sedangkan pertanyaan no c begini penjelasan na pak.
    TA saya menggunakan program ETABS Ver. 9.5. Di ETABS dalam define static load case gempa, auto lateral load na pakai user loads, lalu lateral load na saya modif.
    dalam user seismic loadnya terdapat kolom x dan kolom y. dari referensi yang saya baca kolom x dan kolom y tsb diisi dgn koordinat pusat massa baik arah x maupun arah y, pengisiannya dilakukan tiap story. dari referensi tsb juga menjelaskan tentang koordinat PUSAT MASSA KOREKSI tiap story, yang nilai na diambil dari nilai eksentrisitas rencana tiap story. jadi nanti kolom x dan kolom y tsb diisi dengan nilai koordinat pusat massa koreksi, bukan koordinat pusat massa saja. yang maw saya tanyakan, bagaimana cara mencari koordinat pusat massa koreksi tsb pak? maka na saya berasumsi nilai koordinat pusat massa koreksi dihitung dari nilai koordinat pusat massa ditambahkan dengan nilai eksentrisitas rencana. apakah benar seperti itu pak?
    oiya selamat pak atas terbit na buku SAP2000 bapak, smoga buku na laris manis, dengan harapan bapak membuat buku ttg ETABS juga. hehehe. makasih banyak pak Purbo

    • Oh ya…sekarang sudah lebih jelas. Yang dimasukkan memang benar nilai koordinat pusat massa ditambah dengan nilai eksentrisitas sehingga didapat nilai koordinat pusat massa yang baru (terkoreksi). Nah sekarang untuk pertanyaan dahulu yang eksentrisitasnya jadi sama, kalau denah lantainya sama ya eksentrisitas rencana bisa saja sama, termasuk pusat massanya kan…

      Terima kasih, rencana jika memungkinkan (dari berbagai sisi, terutama license) juga akan kami tulis judul/seri lain, mungkin nanti juga dari pengarang yang lain, mohon doa restunya saja. SAP dengan ETABS juga sebenarnya pada beberapa features masih mirip kok, malah dengan mahir SAP bisa menghitung tidak terbatas pada gedung saja, jadi bisa banyak kan proyeknya… :)

  26. makasih banyak pak Purbo atas pencerahan na. :)
    pertanyaan saya selama ne telah terjawab sedikit demi sedikit. memang tidak mudah memahami ilmu struktur, tapi saya merasa senang :D
    sukses trus pak, jarang ada orang seperti bapak yang maw berbagi ilmu. kpn2 saya boleh tanya lagi ya pak…hehehe, terus berkarya pak

  27. mas pertanyaannya pindah sini aja ya :)
    cara menentukan massa translasi arah X & Y dr lantai dan momen inersianya gmn ya?
    untuk portal gedung pada pada joint pusat massanya
    mohon pencerahannya ya mas
    trims

  28. Pingback: Error oh error | The Web Logs of Purbo

  29. misiii…newbie nie mas,hehhe..
    mau nanya ,knp ya mas,sesudah sya running ,kan sya ingin mlihat tul.lapangan,tul tumpuanx..
    malah jadi o/s,knp ya mas? bgmana crax spya tdk o/s lg …?
    trims..

    • O/S berarti overstress, batangnya tidak aman menahan beban yang bekerja. Coba dicek lagi modelnya (material, pembebanan, dll.) siapa tahu ada yang berlebih/dobel atau salah satuan. Alternatif lain meningkatkan mutu bahan (kuat tekan beton atau teg.leleh tulangan), atau bisa memperbesar dimensi penampang.

  30. Mas Purbo. mau tanya.. Dalam SNI Gempa pasal 5.5.1 disebutkan kalo : Dalam perencanaan struktur gedung, momen inersia penampang unsur struktur dapat ditentukan sebesar momen inersia penampang utuh dikalikan dengan suatu persentase efektifitas penampang sebagai berikut :
    - untuk kolom dan balok rangka beton bertulang terbuka : 75%

    Nah, apakah berarti kita harus memberi angka 75% pada SET MODIFIERS (properties), untuk arah sumbu 2 dan 3..? Karena jika dikali 75% , berat baloknya menjadi lebih ringan, momen kecil, dan tulangannya dikit (aneh). Apa memang seperti itu..? Seliain itu, beban gempanya juga kecil, karena berat bangunan jg berkurang.

    • Sebaiknya mengikuti faktor pengali di RSNI Beton 2002 saja (35% untuk balok dan 70% untuk kolom), yang dikalikan adalah momen inersianya (M33 untuk balok, M22 & M33 untuk kolom), jadi berat balok tidak mungkin jadi lebih ringan. Gaya gempa bisa saja berubah, akibat pengurangan inersia yang akan memperbesar waktu getar alami gedung, sehingga nilai C pada grafik respons spektrum juga bisa berubah.

  31. Pemberian faktor pengali untuk momen inersia efektif balok (M33) sebesar 35% memang membuat momen menjadi lebih kecil ya..? Jadi dibutuhkan tulangan jadi lebih sedikit dong,, Apa memang demikian..?

    Saya juga membandingkan waktu getar alami struktur ug didapatkan dgn SAP dan hitungan manual Rumus Rayleigh kok beda ya..? Waktu getar alami yg ditunjukkan SAP utk mode 1 – 2 lebih besar. Sdgkan dari hitungan manual Reyligh lebih kecil. Nah.., penyebabnya apa ya..? Kok bs beda gt.. Terus yg digunakan untuk perhitungan yg mana..? #mohon penjelasan :D

    • Sebenarnya diperlukan 2 kali hitungan, pertama untuk menghitung waktu getar digunakan inersia penuh (tanpa faktor reduksi inersia efektif), kedua untuk menghitung gaya-gaya dalam (momen, aksial, dst.) digunakan reduksi inersia untuk penampang. Bisa coba baca bukunya pak Iswandi Imran terbitan terbaru yang membahas struktur beton. Insya Allah nanti akan sedikit dibahas juga di buku Seri 2.

      • Pak, untuk waktu getar bagaimana ya..? Jika gedung yang dianalisis waktu getarnya melebihi ζ x n, langkah yang harus kita lakukan terlebih dahulu apa..? Apakah langsung mengubah konfigurasi struktur, apa ada hal2 lain yg bisa dilakukan..?

      • Bisa dicoba dulu untuk pemakaian penampang dengan inersia utuh, waktu getarnya mestinya bisa turun (gedung lebih kaku). Berikutnya, cek juga massa (mass source) terutama berat sendiri supaya tidak terhitung ganda, kalau M besar maka T akan jadi besar juga. Untuk massa beban hidup bisa diberikan reduksi, menjadi tinggal 25-30% saja (efektif). Tergantung modelnya, bisa ada alternatif misal gedung dengan basement, tumpuan lateral bisa diberikan pada elevasi muka tanah, sehingga mengurangi tinggi total tak terkekang.

    • Jika sudah dimodifikasi juga dgn penampang inersia utuh, dan massa berat sendiri + 30% beban hidup. Namun waktu getar tetap masih melebihi ζ x n.

      Tapi simpangannya masih menenuhi persyaratan (untuk arah x dan y) , bagaimana pak..? Apa dapat dsimpulkan bahwa gedung tersebut tetap Aman dan Nyaman..? Atau tetap harus dimodifikasi lagi strukturnya..?

      • Alternatif solusi ada dua. Pertama, memperkecil massa. Bisa dari sisi hitungan, misal ada pembulatan ke atas dipakai nilai yang lebih rendah. Bisa juga dari sisi penempatan beban, mungkin bisa ada beban yang bisa digeser ke lantai yang lebih bawah, namun ini juga tergantung dari sisi fungsional, atau pemakaian dinding ringan misalnya. Kedua, memperbesar kekakuan, bisa dengan misalnya menambah dinding geser atau bracing pengaku.

  32. Buku terbitan Pak Iswandi yang membahas tentang hal tersebut judulnya apa Mas..? Buat nambah referensi saya.
    Saya juga menunggu buku terbitannya Mas Purbo yang Seri 2, semoga bisa menjelaskan hal- hal penting yang jarang dibahas di buku2 SAP yg lain. Amiin :D

  33. Pak popo ijin bertanya
    bagaimana mencari momen terbesar dan terkecil suatu frame (misal balok 250/450 berjumlah puluhan) pada suatu lantai??
    kemudian cara membatasi lokasi tinjauan momen yang ada pada display > show table bagaimana yah?? biar angka’a yg kelipatan aja…
    trmksh

    • Untuk mencari nilai terbesar/terkecil bisa memanfaatkan fasilitas sortir setelah display tables, atau bisa dari excel (setelah di-export). Titik2 nilai output bisa diset dari assign > frame > output stations.

  34. Mas, untuk pemilihan tingkat daktalitas, (elastis, parsial, sama daktilias penuh), itu berdasarkan apa saja mas..? Untuk desain umum yang diterapkan untuk bangunan 1-5 lantai, lebih efisien menggunakan tingkat daktalitas berapa ya…? makasiih..

    • Tingkat daktilitas tergantung paling tidak dari wilayah gempa (resiko kecil/tinggi), sistem struktur (detailing), tingkat kepentingan (bangunan biasa, fasilitas penting, dll.). Konsekuensi untuk sistem elastik tidak memerlukan detail yang khusus, namun ukuran dimensi bisa menjadi besar karena faktor reduksi gempa juga kecil. Untuk sistem daktail, ukuran dimensi struktur bisa lebih kecil/ramping, namun detailing misal sambungan joint atau penulangan ada syarat2 ketat yang mesti dipenuhi (lihat misal SNI beton pasal 23 kalo nggak salah). Bisa coba dipakai sistem daktilitas menengah untuk bangunan biasa.

  35. Mas Purbolaras Yth,
    Begini Mas, setelah proses Run SAP2000 saya ingin melihat gaya pada setiap frame. hasil yang didapat berupa nama labelnya berikut gaya2 yang bekerja sehingga saya sulit memilih gaya balok melintang dan memanjang yang cukup banyak dengan memilih label pada model. pertanyaannya Mas, apabila kita ingin merubah keluaran berupa nama section bukan label bagaimana?
    maklum Newbie Mas, Terima Kasih!

    • Coba pilih/select berdasar section (select > select > properties > frame), lalu baru dikeluarkan tabelnya. Output nanti hanya akan ditampilkan untuk section terpilih saja. Ulangi dengan cara serupa untuk tipe section lainnya.

  36. Mas mo tanya..
    Gunax design pada SAP itu apa.. Setelah d analisis kan merah batangnya, trs itu apa tidak bisa mendesign otomatis biar jadi aman..???
    Apa harus manual..??

    • Design gunanya untuk mengecek rasio tegangan profil (pada baja) atau menghasilkan luas tulangan yang diperlukan (pada beton). Kalau pada struktur baja keluar warna merah (setelah desain, bukan setelah analisis) berarti rasio tegangan > 1 (tidak aman) sehingga harus diganti dengan batang yang lebih besar, atau memakai auto-section.

      • maaf tanya lagi, caranya auto section itu gmn..? Apa setelah d auto section semua akan berubah profil jadi lebih kuat..?
        Terima kasih..

      • Untuk contoh auto section bisa dilihat di introductory tutorial bawaan dari programnya (cari lewat help > documentation). Kuat atau tidaknya tergantung pilihan profilnya.

  37. mas Purbo yth,saya ingin bertanya..
    1.apakah SAP2000 bisa mendisplay gaya geser tingkat atau story shear seperti di Etabs?bagaimana caranya?
    2.Sap kan tidak bisa menampilkan story displacement sperti di Etabs,apakah bisa saya mengambil joint displacement maksimum pada tingkat yg ditinjau?
    3.untuk beban gempa statik ekivalen apakah harus assign constraint lalu di apply auto lateral load?bagaimana jika struktur memiliki bagian pelat yang miring sperti tribun stadion?

    • Story shear dilihat lewat section cut, kolom dan joint lantai di-group terlebih dahulu lalu di-define section cut, hasil ditampilkan lewat display table (other output item). Story displacement kan bisa lewat deformed shape. Kalau yang dimaksud story drift memang tidak bisa langsung. Auto lateral load pada lantai diberikan constraint (dipilih dahulu joint2 pada pelat miringnya).

  38. mas,buat analisis respon spektrum modal analysisnya apa yg dipake sih?
    eigen apa ritz vector?
    trus kalo mw pake ritz vector yg dijadiin target dynamic participation rationya cuma accel ux,uy,rz aja?

    • Arah target dynamic participation ratio disesuaikan pemodelannya, misal gedung dominan arah UX dan UY, kecuali ada gempa vertikal juga dipakai UZ juga.

  39. Mas, ada kasus perencanaan gedung 3 lantai. Semua strukturnya sudah dihitung (balok, pondasi, kolom). Namun kemudian ada perubahan desain penambahan basemen (jadi yg tadinya 3 lantai, menjadi 4 lantai dgn basemen). nah, yg ingin saya tanyakan, kira2 ada perubahan desain pondasi tidak ya..? Apakah basemen tersebut juga diperhitungkan menambah berat bangunan..? Perencanaan awal dengan bore pile 8 meter.

    • Dicek saja berat total baru apakah masih mampu ditahan fondasi yang ada, kemungkinan ya akan ada tambahan karena berat total juga menjadi bertambah. Perhitungkan juga pengaruh uplift tekanan.

  40. * * * W A R N I N G * * *
    THE STRUCTURE IS UNSTABLE OR ILL-CONDITIONED !!
    CHECK THE STRUCTURE CAREFULLY FOR:
    – INADEQUATE SUPPORT CONDITIONS, OR
    – ONE OR MORE INTERNAL MECHANISMS, OR
    – ZERO OR NEGATIVE STIFFNESS PROPERTIES, OR
    – EXTREMELY LARGE STIFFNESS PROPERTIES, OR
    – BUCKLING DUE TO P-DELTA OR GEOMETRIC NONLINEARITY, OR
    – A FREQUENCY SHIFT (IF ANY) ONTO A NATURAL FREQUENCY

    TO OBTAIN FURTHER INFORMATION:
    – USE THE STANDARD SOLVER, OR
    – RUN AN EIGEN ANALYSIS USING AUTO FREQUENCY SHIFTING (WITH
    ADDITIONAL MASS IF NEEDED) AND INVESTIGATE THE MODE SHAPES

    tolong bantu apa maksudnya, apa yang harus di ubah dari struktur saya???

  41. mas purbo yang baik, ada beberapa pertanyaan mengenai sap2000
    1. apabila plat lantai sudah dimodelkan sebagai slab, masihkah perhitungan massa translasi dan massa rotasi per lantai yg dihitung manual perlu dimasukkan?
    2. plat lantai yg dimodelkan slab beton apakah masih perlu di definisikan sebagai diafragma (constraint).

    • Tergantung pada setting di mass source, yang aman bisa dengan element and add.mass and loads, dan pastikan pemisahan beban mati antara berat sendiri dan beban tambahan (misal finishing pelat), beban mati tambahan dan beban hidup efektif dimasukkan faktornya di mass source, dan massa manual tidak perlu dihitung lagi. Bisa lihat contoh tulisan di sini. Pelat lantai beton bisa dimodelkan sebagai constraint.

  42. Terima kasik mas purbo atas pencerahannya, tp sy msih ada pertnyaan lg mas mohon solusinya.

    1. untuk bangunan gedung 4 -10 lantai dengan model analisis respon spektrum apakah hasilnya optimal mas dan aman bila di laksanakan? atau perlu analisis yg lain misalnya analisis pusover, mohon klo ada skalian d beri contoh kasusnya mas supaya sy bisa tahu tahapan perencanaan dari pemodelan struktur sampai running analisisnya.
    2. dalam sap 2000 sering sy jumpai ada balok yang kebutuhan tul lentur sedikit (misal dimensi awal 20/30 bentang 3 m keb tul lentur yg muncul d sap 2d12 utk tul lapangan ) tapi kok dimensinya masih kurang besar apakah ada proses input data yg salah mas? sy pakai model analisis respon spektrum.

    • Masalah “optimal dan aman” itu lebih tergantung dari keakuratan pemodelannya sendiri. Lihat SNI gempa 2002 misalnya, ada pembedaan gedung beraturan dan tidak beraturan, ada ketentuan analisisnya masing-masing. Gedung beraturan dapat diterapkan analisis statik ekuivalen, lainnya wajib dengan dinamik (response spectrum atau time history). Itupun masih ada beberapa persyaratan misal cek gaya geser, dst. Untuk kasus bangunan umum dengan analisis dinamik lazimnya sudah mencukupi, pelu diketahui bahwa analisis pushover memerlukan detail pemahaman yang lebih mumpuni terhadap perilaku struktur termasuk sumber daya komputer (ukuran file, kompleksitas model dan waktu running/iterasi analisis). Untuk problem desain saya kurang jelas maksudnya, dari mana tahunya kalau dimensi kurang besar?

  43. terimakasih mas atas penjelasannya,

    sharing dan sdikit nanya mas, utk analisis respon spektrum yg biasa sy kerjakan utk pemodelan struktur pake 3d denngan elemen plat lantai, dak beton, dinding, balok dan kolom sy modelkan semua di sap, beban tambahan berupa area load utk dak dan plat lantai, Beban gempa dengan faktor keutamaan (I)= 1, reduksi gempa (R)= 8,5 , g=9,8. dgn rumus utk faktor pengali U1 = g * I / R dan U2 = 0,3 * U1. kira2 sudah benar blum mas? utk persyaratan tambahan tentang pengecekan gaya2 klo bisa d perinnci ya mas, soalnya biasanya sy ngeceknya pakai ” start design/ cek of structure” kmudian pakai ” verify all members passed ” klo smua batang sdah warna hijau dan lolos semua sy anggap sudah aman mas.

    oya mas asumsi dimensi kurang besar karena luas tulangan lenturnya sudah keluar (bukan O/S) tp batangnya masih merah, klo d cek d summary ada tulisan merah “o/s #45 shear stress due to shear force and torsion together exceed maximum allowed” klo tidak memperbesar dimensi, solusi lainnya apa mas?

    • Untuk pengambilan nilai R perlu dipahami juga bahwa semakin besar nilai R yang diambil berarti perilaku strukturnya harus bisa dipastikan semakin baik (daktail), misal pendetailan tulangan harus benar-benar bagus. Dengan kata lain jangan lupa desainnya juga mesti baik.

      Untuk desain beton otomatis, perhatikan bahwa warna elemen tidak mencerminkan keamanan struktur seperti pada baja, melainkan untuk pembedaan jenis elemen saja: hijau untuk balok dan oranye untuk kolom. Kalau hijau semua berarti assignment-nya malah sebagai balok semua, harusnya yang kolom berwarna oranye. Sedangkan kemananan desain hanya bisa dilihat dari keterangan yang muncul apakah ada overstress (O/S) atau tidak. Dari kasus tsb berarti yang tidak aman adalah gesernya. Bisa coba dicek kembali misal pembebanan mungkin ada yang berlebih atau material dipakai yang lebih baik (beton atau mutu tulangan sengkang).

  44. trimakasih masukannya mas, sy jd semakin paham, tp masih mau nanya lg

    1. untuk detail penulangan bangunan di atas 5 lantai apakah cukup menggunakan luas tulangan dari output sap saja atau masih ada perhitungan lain di luar sap (misal : penulangan join balok kolom).

    2. mengenai software sap nya mas, slama ini sy pake yg bukan original (karena keterbatasan dana), apakah berpengaruh terhadap output analisisnya mas? atau mungkin ada langkah2 awal untuk memastikan bahwa software yg terinstal sudah benar.

    • Dari hasil desain SAP mau dipakai juga bisa, walaupun kalau saya pribadi lebih banyak/sering memakai manual karena bisa lebih mudah mengecek jika ada elemen yang tidak aman dan prosedur desain bisa menyesuaikan SNI. Untuk masalah perbandingan tipe software kalau menurut saya sih tidak banyak berpengaruh karena yang diutak-atik mestinya hanya sebatas sistem security-nya saja. Kebetulan dulu pernah tahu ada yang membandingkan hasil dengan versi asli ternyata hasilnya tetap sama. Itu sebatas yang saya tahu, kalau ada yang ngutak-atik lebih jauh ya tidak tahu ya…

  45. salam pak, sy sangat kagum dgn kebaikan bapak dlm brbagi ilmu sipil…
    sy mahasiswa sipil tgkt akhir pak.
    bgni pak, lgkh2 etabs kan ada set modifier yg pada kolom, balok, isikan moment of inertia about 2 axis dan 3 axis nilainya balok 0,35 dan kolom 0,7 sdgkan pelat di isikan pada kotak membrane modifier dan yg bending modifier msg2 0,25 sedangkan untuk shear wall 0,35. ( nilai2 itu di peroleh dari tabel sni 03-2847-2002 pasal 12.11.1).
    yang mau sy tanyakan, drmana ya pak angka2 tsb?? apakah ada perhitungan khusus untuk memperolehnya??
    mengapa kita harus memasukkan angka2 tsb pak??
    sy juga msh blm paham benar ttg mksd pasal 12.11.1..
    mohon penjelasannya pak.
    trimakasih.

    • ” Kekakuan EI yang dipakai dalam analisis elastis pada desain kekuatan harus mewakili kekakuan komponen struktur sesaat sebelum kegagalan. Nilai alternatif Ec, Ig, Ag tersebut telah dipilih dari hasil uji dan analisis rangka dan menyertakan tambahan variabilitas defleksi. ” Itu cuplikan dari buku, penjelasan lebih lanjut bisa baca Penjelasan SNI 2002 oleh Prof. Rachmat Purwono & tim (ITS Press, 2007).

  46. melanjutkan bahasan yang kemarin mas, biasanya memang dalam desain bangunan untuk balok dan kolom berikut penulangan lenturnya sy semata2 pakai hasil output sap mas, sy jd tambah manteb klo hal itu diperbolehkan utk desain di indonesia.( faktor reduksi sudah sy sesuaikan SNI )

    Sy tertarik pembahasan lebih lanjut tentang desain manual mas, karena untuk desain pondasi, plat lantai tulangan geser balok kolom sy masih pakai cara manual.
    yg mau sy tanyakan:

    1. gaya dalam utk balok kolom sy ambil dari tabel ” Element Forces – frames” utk plat lantai sy ambil dari tabel ” Element forces – area shell” apakah itu sdh benar atau ada tabel lain yg dipakai ?

    2. untuk desain pondasi yg sy asumsikan jepit untuk langkah aman sy ambil gaya aksial dan moment maksimum ( dari combinasi beban mati, hidup dan gempa) walaupun gaya tidak dalam satu batang, apakah ini sudah benar ?

    3. untuk desain plat lantai sy ambil moment tump dan lapangan maksimum dari M11 dan M12 ( dari combinasi beban mati, hidup dan gempa) ,apakah ini sudah benar ?

    4. untuk desain tul geser kolom sy ambil gaya aksial dan gaya lintang maksimum ( dari combinasi beban mati, hidup dan gempa) walaupun gaya tidak dalam satu batang, apakah ini sudah benar ?

    5. untuk desain tul geser balok sy ambil gaya lintang maksimum ( dari combinasi beban mati, hidup dan gempa), apakah ini sudah benar ?

    • Saya langsung komentari yang perlu saja (yang tidak dikomentari berarti sudah oke). Pemilihan output bisa juga dilihat detail penjelasannya di buku Seri 1 bab akhir. Momen pelat diambil M11 dan M22. Tulangan geser untuk balok dan kolom diambil dari output saya lintang maksimum, bedanya balok hanya diambil sumbu utama saja, sedangkan pada kolom mungkin perlu dicek V2 dan V3 jika dimensi berbeda (tidka persegi).

  47. salam pak, sy sangat kagum dgn kebaikan bapak dlm brbagi ilmu sipil…
    sy salah satu mahasiswa teknik sipil di univ 45 mks. sy mw nanya nh..
    apa maksudnya pembagian mesh plat lantai 2×2 dgn 4×4 atau yang lainnya. sy msh bingung dgn masalah ini pak. terutama pada saat masuk pada assign > area> automatic area mesh untuk penentuan pembagian mesh lantai… mohon penjelasannya pak…
    terima kasih sebelumnya pak.

    • Mesh bermanfaat untuk membagi elemen pelat dalam beberapa pias kecil. Sesuai kaidah elemen hingga, elemen dengan satu pias besar bisa memberikan hasil output yang kasar dibandingkan dengan dibagi dalam beberapa pias kecil. Pada pelat, ini bisa berpengaruh pada transfer beban luasan pada pelat. Lihat bahasan di tulisan ini untuk lebih jelasnya.

  48. Pak, untuk memperhitungkan puntiran gedung akibat eksentrisitas pusat massa terhadap pusat rotasi masing-masing lantai tingkat, maka nilai eksentrisitas arah X dan Y tersebut di-input dalam SAP. Yang ingin saya tanyakan, Cara menghitung Nilai Override yang diinput untuk eksentrisitas x dan y brp ya..? Apa bisa dihitung dengan cara pusat rotasi dikurangi pusat massa..? kemudian dimasukkan nilainya..?

    • Untuk nilai saat override dimasukkan nilai dalam satuan (misal meter) bukan dalam rasio panjang lebar, bisa dihitung dengan pengurangan/selisih koordinat pusat massa dan rotasi.

  49. Salam Mas Purbo, perkenankan sy untuk bertanya lg berkaitan mengenai perhitungan manual dari hasil SAP mas.
    1. dalam perhitungan manual plat, balok dan kolom masih diperlukan angka reduksi ( ex: φ=0,65 ; β=0,85 dst) atau tidak? soalnya dalam pemahaman sy nilai reduksi itu tidak perlu karena analisis sap sudah menggunakan beban berfaktor, apakah betul begitu mas?

    2. klo mas purbo punya contoh perhitungan manual yang komplit, mohon kiranya bisa d share mas buat pegangan sy.

    3. klo analisis SAP cuma di ambil gaya dalamnya, klo dalam hasil cek struktur di sap masih ada yg o/s apakah perlu d cari sampai o/s nya hilang. soalnya dalam pemahaman sy itu tdk perlu karena gaya dalam yang terjadi sama sj, apakah betul begitu mas?

    • Konsep analisis dan desain (secara LRFD) itu kan dalam analisis diberi faktor pembesar pada beban karena ada kemungkinan besar beban yang terjadi melampaui atau tidak persis sesuai dengan hitungan kita, lalu dalam desain diberi reduksi karena kemungkinan juga kapasitas elemen tidak bisa sebesar yang dihitung karena faktor bahan dll. Itulah faktor-faktor aman yang dimiliki insinyur dalam mendesain suatu struktur, jadi ya semestinya harus ada.

      Kalau analisis SAP hanya untuk mengambil gaya dalam, ya tidak perlu sampai ke tahap desain di SAP-nya alias desain lanjut secara manual tanpa terpengaruh hasil desain SAP. Kalau desainnya mau pakai SAP juga baru kemudian diutak-atik agar tidak muncul O/S.

  50. trimakasih mas purbo untuk masukannya, tp sy masih bingung utk nyari gaya dalam dr output sap untuk momen balok (M3), klo nyari di output tabel untuk momen tumpuan balok yg ada cuma momen negatif sedangkan untuk lapangan balok yg ada cuma momen positif, tapi kalo di lihat di summary dengan “klik kanan” pada batang yg dituju akan muncul momen positif dan negatif baik untuk tul. tumpuan maupun lapangan. yg mau sy tanyakan gmn cara memunculkan momen positif dan negatif baik tumpuan maupun lapangan di tabel?

    • Saya kok masih agak bingung kenapa bisa berbeda, seharusnya sama antara tabel dan tampilan visualnya. Mungkin setting kombinasi beban yang dipilih saat menampilkan tabel belum sesuai.

  51. maksud sy momen untuk tulangan tekannya mas, misal di tengah bentang kalau di tampilan SAP muncul luas tulangan tarik dan tekan, klo di lihat summarynya ada momen (+) dan momen (-), tapi pas nyari di tabel yang ada di tengah bentang cuma momen (+) sj mas, klo momen (-) adanya di tumpuan, apa tulangan tekan cukup pakai tulangan praktis sj mas?

    • Momen positif dan negatif cara menghitungnya sama berdasar momen yang terjadi di lokasi tersebut, hanya beda penempatan saja, momen positif lebih banyak tulangan di bagian bawah dan momen negatif sebaliknya (lebih banyak yang atas).

  52. Pak, saya ingin bertanya ttg analisis dinamik dgn ETABS.
    1. Apakah Number of Mode (dicari dengan Analyze – Set Analyze Option – Dynamic Analyisis – Dynamic Parameter), tersebut harus diisi sesuai jumlah lantai..? Misal gedung 10 lantai, maka Number of modes diisi 10. Atau bagaimana Mas..? Saya lihat di bukunya Pak Tavio, tp belum begitu paham.

    2. Misal utk kasus gedung 10 lantai, Jika jumlah partisipasi massa masih kurang dari 90%, itu artinya apa ya..? Lalu apa yg harus dilakukan agar partisipasi massa tsb menjadi lebih dari 90 % (sesuai SNI) ..?

    • Number of modes secara mudahnya untuk gedung bertingkat adalah jumlah dari DOF (derajat kebebasan) yang aktif pada tiap lantai dikalikan jumlah lantai. Jumlah partisipasi massa jika masih kurang maka ditambah jumlah modes-nya, misal 12 modes masih <90% maka modes ditambah jadi lebih dari 12 sampai rasio >=90%. Detail bisa dilihat dalam buku Seri 2 (sudah pesan ya kayaknya…).

      • Iya, Mas. Saya sudah baca bukunya seri 2 nya. Bagus..!! Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan :
        1. Masalah Gempa Statik : Biasanya saya input gempa statik secara manual, dengan menghitung gaya lateralnya dgn rumus F = WxZ x V /(Σ WxZ). Kemudian gaya tersebut diinput ke pusat massa gedung tiap lantai. Nah, apakah cara Yg Mas Purbo jabarkan dalam buku 2 (dengan Auto lateral Load) sama saja..? Saya liat eksentrisitas rencana (ed) akibat puntiran gedung tdk diinput ya..?

        2. Masalah Gempa Time History : Pada hal 106 disebutkan kalau nilai akselerogram El Cento adalah 0,3194 g. Apakah nilai tsb sudah mrupakan ketetapan..? KArena saya baca di bberapa referensi nilainya 0,3417g.

      • Prinsipnya sama, hanya dengan auto lateral load bisa otomatis, terserah saja mau pakai yang mana. Eksentrisitas memakai default rasio 0,05 lebar tinjauan (input bagian kiri atas). Untuk nilai maksimum 0,3194g adalah versi grafik akselerogram bawaan dari SAP, kalau punya/ada input grafik versi lain maka sebaiknya diikuti nilai maksimum dari grafik tersebut.

  53. Mas saya deddi dari medan,
    saya mo nanya apakah buku SAP 2000 seri 2 ini ada membahas input cara memasukan eksentritas gaya gempa rencana berdasarkan ouput analysis dari program SAP tsb,
    Oya dimana bisa saya dapatkan bukunya ya??

    • Untuk luar kota via pos pemesanan bisa SMS dengan format : Pesan SERI 2 / Nama / Alamat ke 0853 8593 1000 (hari & jam kerja) dan ikuti instruksi selanjutnya. Terima kasih.

  54. Mlm pak Purbo…..mau tanya:
    1. Saya sedang mengasah kemampuan saya di bidang teknik struktur (latihan). Saya mau Tanya pak, bagaimana mendesain dinding geser menggunakan analisis Response Spektrum atau Time History,bila dinding geser tersebut di rancang memikul seluruh beban gempa V total dan Rangka ruang pemikul beban gravitasi juga harus memikul minimum beban gempa 25% V total tersebut tanpa kehadiran DS? Kalau dalam Analisis Statik Ekivalen kan V total kita biasa pakai Rumus yang ada di SNI-1726-2002 dan tinggal di distribusi saja seluruh gaya gempa total pada pada tiap2 lantai di dinding geser dan 25% V total tersebut bisa di bagi ke jumlah portal yang tidak pakai DS setelah itu dibagi sepanjang tinggi gedung. Karena hasil Analisis menggunakan Response Spektrum atau Time History, hasil output momen, geser, puntir dan aksial kan Portal2 juga sama2 dengan DS memikul semua beban gempa (bukan 100% Dinding geser yang pikul gempa dan minimum 25% untuk rangka ruang pemikul beban gravitasi). Mohon pencerahannya pak.
    2. Pak, kenapa struktur gedung bertingkat tinggi yang pake Core dan DS (sewaktu saya melihat gambarnya,,,ada yang sampai puluhan lantai), tidak pakai kolom (sebagai komponen batas) sebagai pengapit DS atau core, malah sepanjang tinggi DS atau Core di gedung tersebut hanya DS atau Core yang berdiri utuh, bahkan tidak ada balok untuk memikul pelat lantai, tapi DS atau Core yang pikul lantai serta beban2 lainnya yang di transfer ke DS atau Core, Apakah ini efektif dan memiliki kekakuan serta kekuatan yang cukup dalam menahan beban gempa (khusus di daerak gempa 4-6) atau dan juga beban gravitasi?Apalagi, jika di ujung DS atau Core tersebut sedang menumpu balok searah DS yang lebarnya melebihi tebal DS atau Core kan tidak di perkenankan (pada kasus serupa, tidak di perbolehkan lebar balok melebihi dimensi kolom)?Mohon penjelasannya
    3. Pak Purbo, bagaimana kita bisa melihat perioda struktur di Sap 2000 beserta dengan perpindahannya(perpindahan tiap lantai dan perpindahan total)?(misalkan perpindahn di lantai atas, geudng lantai 10,,perpindahan arah x=45mm…berapa periodanya…
    4. Bagaimana memodelkan struktur gedung komposit (Struktur baja yang di kombinasi dengan struktur beton di Sap 2000) ?

    • Pembagian gaya geser yang dimaksud adalah pada gaya geser tingkat dasar (base shear) seperti pada bab 5.3.4 buku Seri 2. Namun karena output base shear hanya menampilkan gaya geser dasar total (bukan per tipe elemen) maka dipakai cara dengan section cut, lihat bab 5.4.2. Group-nya dibuat untuk semua dinding geser paling bawah beserta joint paling bawah elemen yang bersangkutan. Setelah running, dibandingkan antara base shear group dinding geser tadi dengan base shear total apakah persentasenya sudah sekitar 25%.

      Penggunaan elemen pembatas (boundary element) untuk dinding geser ada ketentuan perhitungannya, bisa dipakai bisa saja tidak asal masih memenuhi syarat dimensi/beban (silakan lihat di literatur yang membahas desain shear wall), atau bisa juga elemen didesain setebal dinding bersangkutan. Untuk waktu getar alami bisa dilihat seperti bab 5.2.1, sedangkan struktur komposit bisa dimodelkan dengan general section (nilai luas penampang, inersia gabungan, dll. dihitung manual dahulu dan diinputkan kemudian) atau section designer (dibuat/digambar elemen dengan penampang dan material seperti yang diperlukan). Keduanya bisa diakses lewat pilihan tipe other saat definisi frame section.

      Terakhir, untuk komentar di blog formatnya memang menunggu moderasi dahulu, jadi tidak bisa langsung tercantum. Tidak perlu posting ulang atau posting lagi di tulisan lain. Harap sabar karena saya juga memiliki kesibukan lain, jadi tidak bisa langsung memoderasi atau membalas komentar setiap saat seperti mesin penjawab otomatis.

  55. Pagi Pak Purbo… izinkan saya bertanya ya pak… :)
    ‘Pak, dinding batu bata selain dianggap beban merata pada balok, apa bisa kita modelkan langsung di Program SAP..?

    Moohon Postingannya tentang cara pemodelan dinding batu bata di program SAP, ya pak..

    Terima kasih pak Purbo…

    • Bisa dengan alternatif elemen shell, namun kadang memang susah pemodelannya karena dinding jangan sampai terlalu kaku, terutama setting materialnya. Ada juga alternatif dimodelkan sebagai elemen batang tekan murni (tidak menahan tarik).

      • Pak Purbo, mau tanya:
        1. Gedung yang terkena beban angin, apakah boleh di pusatkan pada joint tiap2 lantai atau lebih akurat di distribusi ke sepanjang tinggi gedung (jika di analisis secara statik)? juga, bagaimana cara menganalisis secara dinamis? kan perilaku beban angin selalu berubah-ubah, apalagi untuk gedung tinggi kita tidak bisa menganalisis secara statik….dan prosesnya sama juga yah pak,,untuk jembatan kalau pake Sap 2000 V 14…
        2. GMC f1 dan GMC di Sap 2000 V 14 untuk analisis dinamik itu adalah faktor yang ada di SNI 1726-2002 yah pak?kapan kita harus memasukan faktor tersebut?
        3. Di buku Sap 2000 karangan pak Purbo, Untuk dinding gesernya tidak di masukan reduksi momen Inersia berdasarkan penampang utuh yah pak,,,,

      • Karena beban angin sifatnya bekerja pada bidang sisi luar gedung (tidak seperti gempa yang bekerja pada pusat massa) maka saya kira mungkin bisa lebih baik kalau diaplikasikan dengan distribusi sepanjang tinggi gedung. Analisis dinamik angin bisa alternatif dengan time history, tapi mungkin diperlukan data rekaman atau pola hembusan angin yang mungkin tidak gampang diperoleh.

        Faktor GMC dimasukkan bila dipilih modal combination dengan metode tersebut (mengacu ke peraturan ASCE), untuk SNI setahu saya alternatifnya CQC atau SRSS. Untuk elemen dinding geser tidak diberi faktor reduksi karena pada elemen shell tidak tersedia input untuk mengakomodasinya.

      • Selamat sore pak Purbo,

        Saya ingin mendesain Pondasi dari hasil Sondir tapi hasil sondir tersebut tidak di lakukan uji laboratorium untuk memperoleh berat jenis tanah tiap lapisan, jenis tanah, sudut geser serta kohesi. Hanya berupa JHP dan tahanan Konus,sserta hambatan total

        Solusi yang paling tepat apa yah pak? dan bagaimana cara mengubah data CPT ke SPT

      • Cara perhitungan kapasitas fondasi berdasar uji sondir bisa dilihat di buku/literatur tentang fondasi/mekanika tanah, misal dengan rumus dari Meyerhoff atau Tomlinson.

  56. gan pada problem N. kan disitu memeritahu soal dinding geser. itu cuma 1 dinding geeser. nah bagaimana kl dalam desain kita ada lebih dari 1 dinding geser pada 1 portal. apa yang harus kita buat. mohon dibalas

    • Tinggal dimodelkan saja dinding gesernya, bisa langsung ditempatkan pada posisi portalnya (tidak perlu terpisah). Untuk melihat section cut, group shear wall dibedakan untuk masing-masing dinding geser.

  57. sore mas purbo, terima kasih atas buku2nya , mudah2an selalu sukses

    saya ada masalah pada perencanaan ruko 2-3 lt. ruko tsb ada beberapa cantilever sepanjang 1 m ( buat type hooknya dan lt.2 yang menjorok ke depan) mengapa shearnya selalu merah ( os #45) yah pak? dan lagi pada ruko itu saya membuat balok anak 20/40 yang menopang pada 2 balok induk 30/50 dan balok induknya juga sebagian shearnya merah, padahal top steel dan bottom steel biasa2 saja, tidak terlalu besar. dan satu lagi pak apakah jika ada balok anak di antara balok induk , apakah balok induk nya harus di divide line pada intersection balok anaknya pak?
    terima kasih mas purbo atas waktunya

  58. Salam kenal mas,

    Saya ingin menanyakan cara penambahan 2 elemen dlm satu struktur kolom di SAP 2000, Misalnya di kolom 20×20 cm, ingin saya perkuat dengan HWF. Mohon penjelasannya yah mas.

    Thanks
    BR//Acil

    • Salam kenal juga. Kalau tidak salah pemahaman saya berarti ada kolom beton 20×20 lalu ditempeli dengan profil IWF di sampingnya ya. Untuk kasus seperti itu bisa dicoba dengan section designer (pilihan Other saat define frame section), lalu dibuat penampang beton dan profil IWF-nya yang akan dihitung sebagai satu kesatuan. Selanjutnya perlu dikonfirmasi dan cross-check juga untuk nilai properties gabungannya semacam inersia, dst.

  59. assalamu alaiakum pak..,
    aq mau nanya cara mendpatkan tegangan dan regangan pada balok tinggi pada sap…,
    sy ingin membandingkan hitungan balok tinggi dengan metode elemen hingga yg saya idelisasikan sbgai plane stress…,
    bisa jelaskan bagmana langkah2nya?
    thanks

    • Wa’alaikumsalam. Pemodelan bisa memakai elemen shell dengan pilihan tipe plane-stress. Bisa dipelajari contoh yang mirip di example problems (dari help) tepatnya problem S.

  60. siang, pak.
    Saya lino. Mau nanya lagi nih. kalau kita mau meninjau pembebanan pada bangunan 3D, joint constraintnya, dibuat body atau rigid yah?

    • Kalau dibuat sebagai body, maka semua degree of freedom (translasi dan rotasi semua arah) akan menjadi sama untuk seluruh nodal. Jadi misal kalau nodal lantai 2 bergeser sebesar 5 mm maka nodal lantai 10 dst. juga akan sama bergerak 5 mm, mirip kasusnya seperti mendorong kotak peti kayu. Padahal bukan seperti itu seharusnya, yang diinginkan adalah yang sama pergerakannya hanya pada tiap bidang lantainya saja (translasi horizontal dan rotasi sumbu vertikal) dengan asumsi pelat lantai kaku, jadi misal nodal tepi lantai 3 geser 2 mm maka nodal lain pada lantai yang sama juga geser 2 mm, namun pergeseran di lantai lainnya berbeda. Sehingga tipe constraint-nya dipakai seperti yang dijelaskan dalam buku Seri 2.

      • Thanks buat komennya, pak. Sekedar info, kemarin saya udah mesan bukunya (an. Rosalin) tapi sampai sekarang belum ada konfirmasinya tentang pembayaran pak. Tolong dicek ya.
        Thanks

  61. mas mau tanya kenapa kolom yang saya desain selalu menununjukkan warna tidak aman yaitu warna orange…meski ditambah dimensi kolom sampai 3 meter tetap tidak ada perubahan,gmana yah solusinya agar dimensi kolom bisa dipress dan tetap aman?? atau apakah peneyebabnya karena pemasukan input beban yang salah??? mohon penjelasannya…makasih

  62. maaf mas popo, saya pengguna ETABS versi 9.7 saya mau tanya gimana cara mengatur nilai decimal output, mis 1,880E-05 gimana cara meunculkan nilai aslinya? trmksh.

    • Pak Purbo,
      jika waktu getar alami fundamental mode 1 (memakai momen inersia penampang yang memperhitungkan retak) melampui waktu getar alami struktur gedung yang bersangkutan yang di tentukan dalam SNI 03-1726-2002 meskipun dalam model struktur tersebut, penampang retak dari setiap elemen yang di perhitungkan sudah di naikan (mode 1 dengan momen inersia penampang efektif menjadi penampang utuh=1), metode apa yang harus di pakai di sap 2000?apakah pakai SRSS?

      • Metode SRSS atau CQC pengaruhnya hanya untuk waktu getar alami yang saling berdekatan atau tidak. Jika waktu getar fundamentalnya melampaui syarat maka yang harus dilakukan mestinya adalah perubahan dari strukturnya sendiri, misal pemindahan massa tertentu yang berat, atau tambahan pengaku dengan bracing atau shear wall.

  63. mas popo,,
    1 lagi pertanyaan
    saya sdh mencoba menganalisis 3D gedung 8 tingkat (analisis response spektrum) menggunakan Sap 2000 V 14 & Etabs 9.7.2, hasil analisis struktur kok tidak 100% sama yah…ada perbedaan di selisih nilai desimalnya..misal 245,567 kNm untuk Sap & untuk Etabs 245,836 kNm, Sap 2000 =379,627 kNm, Etabs=378,433 kNm. Apa settingan di materialnya yah?

    • Bisa coba dicek juga untuk momen atau output dari berat sendiri apakah terdapat perbedaan atau tidak? Jika sama maka yang berbeda mungkin di setting beban gempanya, kalau berbeda kemungkinan dari pemodelannya (material, section, beban, dll.).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s